Sedikit Kisah Soal TORCH

Apa yang terlintas di benak kita manakala mendengar istilah TORCH? Bagi orang yang tak mau menambah perbendaharaan ilmu dan/atau ignorant, bisa jadi istilah kesehatan ini bukan termasuk yang diprioritaskan. Padahal, kalau saja mau sedikit meluangkan waktu mengedukasi diri, saya yakin kejadian infeksi TORCH bisa diminimalkan.

Secara ringkas, TORCH merupakan singkatan dari T=Toxoplasmosis, O=other (shypilis, varicella-zoster, parvovirus B19), R=Rubella, C=Cytomegalovirus, dan H=Herpes. Saya sendiri mulai tahu istilah ini sekitar 5 tahun lalu. Saat itu saya masih aktif mengikuti milis Femina & Friends. Sayangnya, hanya sedikit informasi yang saya dapat saat itu karena anggota milis banyak dan tema diskusi berganti-ganti saban hari. Seiring dengan bertambahnya kesibukan, ingatan soal TORCH seolah dorman.

Tahun lalu, 2013, ingatan soal TORCH kembali menggema di lipatan otak saya, bahkan beberapa kali menjadi tema diskusi kamar. Saat itu adik saya, Ning, membagi cerita soal Zaki, anak lelaki teman SD-nya. Zaki adalah seorang balita penyandang tuna rungu karena gangguan virus Rubella. Untuk membantunya berinteraksi, sebuah alat bantu dengar (ABD) dipasang di kedua telinganya. Baca lebih lanjut

Patriot di Kehidupan Kami, Ibu

Bicara soal patriot, ingatan saya langsung tertuju kepada para pejuang. Ya, mereka yang memanggul senjata demi mempertahankan kedaulatan negeri. Namun, sebenarnya patriot tidak hanya berlaku bagi beliau-beliau saja. Tanpa berdarah-darah di medan pertempuran pun, seseorang tetap bisa disebut sebagai patriot atau pahlawan.

Dalam lingkup kecil, keluarga kami, ada seorang yang telah begitu keras berupaya menjadi patriot sejati sepeninggal Bapak. Saya panggil beliau, Ibu. Heni Astuti, nama lengkap beliau. Perempuan yang lahir di awal bulan ketujuh dan dikaruniai tiga orang buah hati ini, kini berusia paruh baya; sesekali jatuh sakit seperti yang terjadi seminggu terakhir. Semoga lekas sehat, Bu. Kami menyayangimu.

Menengok kembali kisah lalu kami, ah … tidak pernah terbayang jika di usia pernikahan beliau yang ke-17, kami akan kehilangan Bapak untuk selamanya. Kala itu saya masih duduk di bangku kelas 1 SMA, sementara dua adik saya berturut, SMP kelas 2 dan SD kelas 1. Rasanya tidak ada liburan kenaikan sekelabu Juli 2000. Bukan, itu bukan liburan … itu mimpi buruk. Benar bahwa saya masuk tiga besar di kelas; tetapi apa bagusnya jika di liburan itu saya harus kehilangan seorang ayah? Sedih, tapi bisa apa saya? Baca lebih lanjut

Untuk Hutan, Air, dan Kehidupan

Salam hangatku untuk kalian semua,

Ada yang membuat Maretku begitu penuh kini. Itu karena kalian diingat di bulan ketiga ini. Kemarin, 21 Maret bertepatan dengan hari kelahiranku, ditahbiskan pula sebagai peringatan Hari Hutan Internasional. Ah, aku serasa diberkahi Gusti Allah karena tanggal itu menjadi tanggal penting bagi penduduk bumi. Juga hari ini, 22 Maret, yang diperingati sebagai Hari Air Internasional.

forest, water, lifecredit

Ya, rasanya memang tak boleh memisahkan hutan dan air terlalu jauh. Tak boleh memisahkan dua hal penting bagi kehidupan kami dan seluruh penghuni bumi ini, kalian berdua. Jika hutan di bumi ini merana (atau bahkan habis), siapa lagi yang mampu menyimpan oksigen dan air bagi berlangsungnya kehidupan? Namun, rasanya terlalu menyedihkan ketika harus mengakui bahwa kondisi hutan di seantero bumi sangat memprihatinkan saat ini. Entah, terkadang aku sendiri heran. Apakah rakus dan sombong adalah sifat buruk manusia yang harus membuat kalian hilang dari muka bumi? Mestinya TIDAK begitu. Haruskah manusia dihadapkan dulu dengan kisah Gurun Sahara—wilayah terkering di dunia—baru mereka mau insaf atas kesalahan merusak bumi? Ah, mestinya juga TIDAK begitu. Baca lebih lanjut

Selarik Harap di Tiga Dasawarsa

Gusti, pagi ini pukul 05.30, tepat tiga puluh tahun yang lalu Engkau telah memberi kedua orangtuaku amanah seorang bayi perempuan mungil. Beliau berdua lalu menyandangkan nama Palupi Jatuasri kepada si bayi mungil itu, aku. Ada doa di sebalik namanya, namaku. Palupi diambil dari bahasa Jawa kuno; berarti teladan. Jatu berarti api, juga bisa diartikan pasangan; dan asri berkaitan dengan keindahan. Meski di kelak kemudian hari, banyak orang yang keliru menerka bulan kelahiranku, aku tetap senang dianugerahi nama itu, sebuah nama yang tiada dua.

Gusti, aku patut bersyukur untuk tiap hal yang sejak kala itu Kau limpahkan untukku dengan perantaraan Ibu-Bapak. Dalam kesederhanaan kehidupan kami, tak kurang-kurang Engkau memberi cinta kasih kepadaku. Engkau memberiku orangtua yang mengasuhku dengan penuh perhatian. Aku tumbuh menjadi anak sehat dan lincah. Tentu, hanya Engkau yang Mahatahu, Gusti, rahasia di balik perjalanan Ibu-Bapak menjelajah lereng Merapi 30 tahun lalu ketika Ibu positif mengandungku.

Gusti, aku layak bersyukur untuk tiap hal yang tak mampu kuhitung. Untuk sebentuk anugerah-Mu yang tercurah lewat orangtua, meski aku tak mampu memilih siapa. Beliau berdua tak segan memberiku arah, jika aku mulai goyah. Tak segan menegurku, jika aku mulai sering keliru. Aku belajar banyak hal dari Bapak-Ibu. Tentang bahagia menjadi diri sendiri; karena hidup bukan tentang mengimitasi, melainkan menjadi inspirasi. Tentang menerima tiap hal, baik-buruk, susah-senang, dengan penuh kesyukuran. Baca lebih lanjut

Catatan di Akhir BHSB Fase ke-6

Dear Sahabat BHSB,

Alhamdulillah, akhirnya fase keenam Blogger Hibah Sejuta Buku (BHSB) selesai sudah pada tanggal 28 Februari lalu. Saya sebagai bagian dari BHSB mengucapkan terima kasih kepada sahabat donatur yang telah berkenan menghibahkan buku-buku dan mengirimnya kepada kami sebagai volunteer BHSB wilayah Jogja dan sekitarnya.

Pada tanggal 27 Februari, seluruh buku yang terkumpul di rumah di-packing menjadi lima paket. Tiga paket datang dari Madiun atas kebaikan hati mbak Reni Judhanto. Dua paket lagi merupakan gabungan buku dari beberapa donatur, yaitu: mbak Lutfi Retno (Jogja), mas Budi Wijaya (Solo), mbak Alvina (Solo), serta Kemas Destia dan Tanjung Arini (Jogja). Tak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada Adhyatma dan Maylia yang telah membantu dalam proses pengangkutan kelima paket buku tersebut menuju ke kantor pos khusus paket dan logistik yang berada di pusat kota.

BHSB fase 6

proses sortir, packing, pengangkutan, dan pengiriman ke BHSB pusat

Baca lebih lanjut

Oleh-oleh Penuh Cinta dari Menoreh

Februari boleh saja berlalu, tetapi aroma cinta masih hangat terasa di hati. *tsaah! :mrgreen: Oke, lupakan kalimat sok nyastra tadi. Kita serius sekarang. Tahukah, Sahabat, selain event #30HariMenulisSuratCinta, Februari lalu sebenarnya ada sebuah agenda yang sudah lama ingin saya ikuti? Saya harus menanti sampai 1 tahun untuk bisa mengikutinya!

Apa itu? Mungkin Sahabat masih ingat dengan kegiatan #MCBM (Menanam Cinta di Bukit Menoreh) tahun 2013 lalu? Nah, tahun ini Sahabat Lingkungan dan Walhi Jogja juga mengadakan kegiatan serupa. Kegiatan yang diberi ‘kode’ #MCBM2 ini masih diadakan di sekitaran bukit Menoreh. Jika tahun lalu #MCBM diadakan di Salam, Magelang; kali ini #MCBM2 dilaksanakan di Samigaluh, Kulonprogo. Ini dia e-poster acara #MCBM2.

e-poster #MCBM2

e-poster #MCBM2

Baca lebih lanjut

Yang Nyantol di Pos Cinta

Apa jadinya jika saya mengikut tantangan menulis surat cinta selama 30 hari berturut? Lepas dari seperti apa pendapat orang; bagi saya, itu hal yang menyenangkan. Itu juga berarti, saya bisa menyampaikan hal-hal yang lebih pribadi dengan cara lain dari biasanya. Awalnya saya ragu, mau mengirim surat untuk siapa? Kekasih saja tidak punya. “Ah, sebagai gantinya, orang-orang di sekitar saya kan banyak,” begitu saya pikir. Lagipula, bukankah cinta itu sesuatu yang universal? Jangan cuma dibagi dengan kekasih saja donk! :mrgreen:

Oke, jadilah per 1 Februari, saya memulai jatuh bangun menulis surat cinta. *tsaah

Nah, karena jika saya menjelaskan semua surat cinta tersebut satu per satu di sini, bisa membikin pegal jari-jari tangan :P ; maka akan saya cuplik saja beberapa surat yang terpilih dan berhasil nyantol di Pos Cinta. Baca lebih lanjut