Perpus kota Jogja. Di akhir pekan seperti ini termasuk ramai. Beberapa orang keluar masuk pintu utamanya. Beberapa kali saya lihat bukan hanya yang dewasa, anak-anak pun ada. Ramailah. Jauh lebih ramai ketimbang pepustakaan SD saya dulu. Ya jelas. Lebih nyaman, lebih adhem, lebih banyak koleksi bukunya. Ah, jadi ingat dengan program hibah buku yang jadi tema hari ini. ya, saya mewakili BHSB untuk wawancara dengan seorang wartawan Radar Jogja. Well… coba saya tunggu, meski perut keroncongan, hiks, maklum ga sempat sarapan tadi.
23/02/2013
11:31
Sepenggal catatan (yang saya salin dari ponsel) inilah yang menjadi bukti saat saya bertemu dengan seorang wartawan harian Radar Jogja di halaman perpustakaan kota Jogja, Kotabaru. Ini pertama kalinya saya berjumpa empat mata dengan wartawan untuk bicara mengenai salah satu aktivitas saya.
Sedikit cerita, sebelum wawancara dengan Radar Jogja ini, pernah juga saya merasakan atmosfer kegembiraan saat tanpa sengaja diliput oleh media. Dulu, zaman masih ABG, saya dan teman-teman pernah diwawancarai. Alhasil foto keroyokan bareng tim kelompok ilmiah remaja (KIR) SMU N 9 Yogyakarta pun nangkring dengan sangat manis di salah satu pojok surat kabar harian Kedaulatan Rakyat. Meski nongolnya keroyokan, bahkan saya hanya terlihat dari samping, senangnya ga ketulungan. Zaman masih aktif pentas menari pun sama. Begitu tahu liputan tentang Festival Kesenian Yogyakarta (FKY, sekarang Jogjakarta Art Festival-JAF) dan pas aksi kami yang di-shoot masuk di salah satu berita TVRI Jogja. Ya begitulah, aroma kegembiraan itu demikian kentara. Well, itu dulu sekali… zaman saya masih piyik.
Lanjut membaca




