Teruntuk Bunda Nik di Tempat Terdamai

Dear, Bunda Nik

Ada yang kurang rasanya tahun ini, tanpa Bunda di sisi. Ada yang tetiba terasa hampa di hati ketika Tuhan menuliskan takdir kita berpisah tahun ini. Akhir bulan kelima lalu, kuingat benar. Siang terik sontak menjadi temaram, redup digelayuti mendung. Kesedihan itu datang membayang setelah kuterima telepon soal kabar berpulangnya engkau, untuk selamanya. Selamanya? Aku tak percaya, Bunda. Sungguh tak pernah percaya, bahkan sampai hari ini … hari semestinya Bunda merayakan ulang tahun ke 49.

Bunda, hari ini, perkenankan aku mengenang semua sedih-senang itu lagi.

Tanpa Bunda, tentu ….

Tiada lagi yang begitu setia mendengarkan keluh kesahku, soal apa pun. Tiada lagi yang begitu riang mendengar kisah panjang-berliku dari ponakan tersayangnya. Tiada lagi yang rela meluangkan waktu berjam-jam demi mendengar suaraku dari seberang telepon. Tiada lagi yang begitu bersemangat mendengar kisah-kisah dari blog-ku dibacakan. Tiada lagi yang sehebat Bunda menyutradarai drama iseng keluarga besar Tedjodisastro. Tiada lagi yang biasa menertawaiku dengan suara tertawa sepertimu.  Tiada lagi sosok Bunda yang memberiku inspirasi berupa ketegaran menghadapi apapun yang diberikan oleh Gusti Allah. Kini, tiada lagi ….

Baca lebih lanjut

Tentang Kado Kecil untuk Pak Guru

Bicara soal puisi, saya tentu bukan satu-satunya orang yang gemar dan masih terus belajar menulis puisi. Rasanya masih teramat panjang jalan yang harus saya tempuh agar karya-karya saya masuk dalam jajaran karya yang apik dan berbobot. Proses panjang ini tak urung meninggalkan jejak-jejak tersendiri. Kadang sedih, tapi lebih banyak senangnya; lebih banyak bahagianya.

Bagi saya pribadi, ada banyak jejak kebahagiaan yang secara tak sengaja saya peroleh selama proses pematangan diri. Sekalipun sederhana, tak urung membuat proses belajar menulis tersebut semakin terasa indah, semakin bahagia. Satu di antaranya ketika saya menulis sebuah puisi untuk Pak Guru, Sapardi Djoko Damono. Sahabat tentu masih ingat dengan kisah saya mengikuti #PuisiHore3 beberapa bulan lalu, bukan? Nah, tema tantangan terakhir adalah menulis persembahan puisi untuk penyair favorit. Tanpa banyak berbasa-basi, jemari saya seolah didorong untuk menulis serangkai kalimat sederhana untuk beliau yang telah saya anggap sebagai Pak Guru. Maklumlah, puisi berirama karya Pak Guru-lah yang selama ini saya adopsi untuk hampir semua karya puisi saya.

Setelah bait-bait puisi berjudul “Menjadi Gadis Kecilmu” itu rampung, disusul dengan berakhirnya event #PuisiHore3, dan (alhamdulillah) masuknya pulsa 25K ke ponsel … mengapa masih ada yang kurang, ya? Entah, saya sendiri tak tahu apa yang sebenarnya saya rasa kurang kala itu. Baru ketika beberapa minggu lalu saya kembali mengutak-atik akun SoundCloud, menemukan cara menggabungkan musik pengiring dengan rekaman suara, … saya pikir saya telah menemukan di mana letak kekurangan tersebut.

Baca lebih lanjut

Nostalgia Baca Puisi

Baca puisi? Iya, ini tentu menjadi semacam nostalgia. Hmm, dulu saat saya duduk di bangku SD Inpres Candirejo, beberapa kali saya mewakili sekolah untuk lomba baca puisi; pernah juga mengikuti lomba baca puisi di tingkat kampung, biasalah lomba 17-an. ;) Setelah melewati masa-masa itu, di SMP level saya hanya mampu bertahan di skala sekolah (baca: pembaca doa); terutama saat OSIS kepengurusan 1997—1998 diberi mandat untuk menjadi petugas upacara. Meski terdengar nothing so special dengan kegiatan ini, ada sebuah kenangan yang tidak pernah saya lupa.

Pagi itu digelar upacara perpisahan dengan kepala sekolah kami, Ibu Murdiyati, B.A. Beliau  sudah masuk masa pensiun, jadi tak bisa lagi mengajar di sekolah kami. Oh, so sad. :cry: Fyi, Ibu Murdiyati adalah guru Matematika saat saya duduk di bangku kelas 1. Seminggu sebelum acara, saya sudah diburu-buru latihan di Ruang BK. Lhoo? Bukan diberi hukuman lho. Ibu Sularsih, guru BK kami, ‘menculik’ saya dan beberapa pengurus OSIS untuk membicarakan upacara perpisahan tersebut (termasuk latihan baca doa—yang disampaikan seperti membaca puisi) di ruang BK. Karena saya terbiasa berlatih sendirian di depan cermin; maka latihan di ruang BK itu hanya penuh guyon. Pfft… :( tapi, syukur alhamdulillah, saat hari H urusan saya berlangsung sangat lancar, bahkan bonus banjir airmata.

Baca lebih lanjut

The Power of ‘Duit Receh’

Ah, jumpa lagi di postingan pertama di bulan Syawal. Meski sudah terlambat beberapa hari, izinkanlah saya mengucapkan:

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1435 H

Mohon maaf lahir batin atas segala salah dan khilaf saya selama ini, ya, Sahabat. Mudah-mudahan kita diberi kesempatan berjumpa kembali dengan Ramadhan dan Syawal tahun depan. Aamiin. :)

Oke, tema kali ini adalah duit receh. Duit receh? Awal bulan kok ngomong soal duit receh, sih? Hehehe iya, soalnya saya belum terima honor dari redaksi. Baru besok ketemu dengan beliau yang berkuasa atas uang honor saya (a.k.a bendahara). ;) Posisi saya sering seperti ini: awal bulan, belum gajian, dan HARUS bertahan hidup. Jadi, dari sumber yang mana saya bisa bertahan? Tentu saja, dari duit receh dan saldo uang kas bulanan. Lalu, bagaimana dengan posisi uang hari ini? Pagi ini saya sudah mengecek. Awal bulan ini ada Rp10.100,00 duit receh yang bisa saya gunakan. Alhamdulillah, bisa buat tambah bekal jalan  8 km ke kantor besok. :D

Nah, ngomong-ngomong soal si duit receh, dari sudut pandang saya, duit receh menyimpan kekuatan yang kadang disepelekan oleh orang-orang pada umumnya. Semoga saya dan Sahabat semua terhindar dari menyepelekan hal-hal kecil semacam ini, termasuk duit receh. Aamiin.

the power of duit receh

Jadi, apa saja, sih, the power of ‘duit receh’ bagi saya? Ini dia beberapa di antaranya. ;)

Baca lebih lanjut

Belajar dari Rasa Lapar

Tak terasa, Ramadhan tinggal sebentar lagi. Ada satu hal penting yang selalu saya ingat ketika bulan mulia ini tiba: rasa lapar. Pelajaran apa yang bisa saya ambil dari rasa lapar? Hmm, saya harus berterima kasih kepada Bapak (alm.) yang tepat hari ini berulang tahun yang ke- 62 tahun. Dari beliau saya belajar tentang hal ini.

Selamat ulang tahun, Pak. Terima kasih untuk setiap inspirasi sepanjang hayat yang telah Bapak beri untuk kami semua. Semoga Gusti Allah SWT memberi Bapak tempat terbaik di sisi-NYA. Aamiin.  

… dan untuk mengungkapkan rasa terima kasih itu, saya akan membagi kisah bagaimana beliau mengajari saya tentang rasa lapar, hingga pada akhirnya membuat saya lebih berhati-hati memperlakukan makanan. Berikut ini selengkapnya. :)

Baca lebih lanjut

Antara Kucing dan Gejala Absurd

Siapa bilang saya phobia kucing? Nggak, saya ga phobia kucing. Saya cuma suka LIHAT gambar kucing, selebihnya nggak. Bisa jadi itu berhubungan dengan piaraan saya di twitter: (gambar) seekor kucing besar (baca: macan) sebagai background. Segarang apapun si macan, kalau munculnya di gambar saja, itu AMAN buat saya. :D

By the way, sejak kecil orangtua memang ga memelihara binatang kesayangan. Sejak dulu piaraan kami di rumah adalah yang bisa dijual, misalnya ayam, itik, lele, bekicot (buat pakan lele), angsa, bebek, kambing, dsb. Kucing? Ga pernah. Anjing? Apa lagi! Ibu saya ga suka bulu kucing, meski kami ga punya riwayat asma dan alergi bulu. Alasan beliau sesederhana itu.

Mungkin karena ga pernah pengalaman dekat dengan kucing, saya sesekali merasa terserang gejala absurd kalau berada dekat dengan kucing. Sialnya, gejala keabsurdan itu bertambah setelah saya mengalami beberapa kejadian ga menyenangkan di masa lalu. Nope! Ini bukan karena saya gagal move on. :P Hmm, ini lebih pada rasa trauma yang tinggal dalam diri saya. Ga banyak, a bit bitter … tapi, cukup bikin keder.

Jadi, begini. Gejala absurd gegara kucing memang ga selalu muncul, sih, sesekali saja. Cuma, kalau sampai gejala itu muncul, berarti saya yang harus sesegera mungkin menyingkir dari si kucing. Harus!

Baca lebih lanjut

Goal Kedua 2014: Memulai Investasi Reksadana

Setelah berhasil mewujudkan goal pertama di tahun 2014, goal kedua pun menyusul di bulan yang sama. Temanya masih seputar dunia finansial. Hahaha, aseli, ga tahu kenapa di awal usia kepala tiga ini saya jadi lebih gemar ngutak-atik keuangan. Kalau dipikir-pikir, saya termasuk yang rada telat memulai investasi. Iya, sadar, kemarin-kemarin yang saya lakukan baru menabung dan menyiapkan tabungan impian untuk dua hal: dana darurat dan premi asuransi tahunan. Tahun ini harus ada progress yang signifikan. It’s a MUST! :)

Hmm, finansial. Begitu mendengar satu kata ini, sebagian orang yang masih beranggapan tabu untuk membahas uang, akan memilih mundur atau bahkan bungkam. Padahal kalau mau jujur terhadap kondisi masing-masing, ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk mencapai kemapanan finansial, terutama berkaitan dengan mempersiapkan masa depan. … dan yang saya mulai tahun ini adalah berinvestasi reksadana (RD) untuk keperluan dana pensiun. Well, better now than never, kan?

Mau tahu kisah saya? Oke, saya akan membagi pengalaman saya sampai akhirnya bulat niat membuka rekening RD. :)

Baca lebih lanjut