#ParentingTips: Mendidik Anak Lelaki

Saya sering mendengar orang-orang mengatakan,

“Anak lelaki itu beda dengan anak perempuan; anak perempuan lebih mudah diatur ….”

parenting boycredit

Hmm, apa iya seperti itu? Apa iya seserius itu perbedaan level kesulitannya? :?:

Lelaki dan perempuan memang berbeda secara gender, tetapi sejauh pengamatan saya terhadap siswa-siswi yang sedang/pernah saya bimbing, hal semacam itu tidak sepenuhnya berlaku. Menurut saya, kalimat kutipan di atas bukan fakta. Itu opini yang terbentuk dan berkembang di masyarakat kita.

Tidak semua anak lelaki susah diatur, pun sebaliknya. Peran orangtua, keluarga, lingkungan sekitar sangat berpengaruh terhadap anak. Di sisi lain, mengasuh anak zaman sekarang tantangannya jauh lebih besar ketimbang dulu. Ibu saya saja—yang membesarkan saya di era 90-an—mengakui kalau saya dulu termasuk gadis kecil yang bandel dan tidak mau diam, hehehe. :D  *abaikan!

Lalu, apa yang mesti dilakukan oleh calon/orangtua masa kini? Jangan lantas menjadi bagian orang-orang yang sepenuhnya mengamini bahwa “anak lelaki itu susah diatur”, hanya karena kurang ilmu.

Nah, supaya ilmu pengasuhan kita bertambah, yuk, kita simak tips mendidik anak lelaki oleh Ratih Ibrahim berikut ini! :)

Baca lebih lanjut

Cara Mengubah Format File Rekaman Ponsel (.AMR) ke .MP3

Lho, mengapa tiba-tiba (lagi) saya menulis tentang tutorial? Sebenarnya ini semua berawal dari pengalaman saya yang kebingungan saat hendak mengikuti lomba puisi Heartline FM bulan lalu. Emak wanna be macam saya tergolong orang yang rada susah kalau harus berurusan dengan hal-hal yang ribet/rumit. Emoh! Namun, beruntunglah saya ini kepo. *duuh! Jadi, sekalipun aslinya tidak suka ngutak-atik, gara-gara penasaran level bidadari #eh, saya pun tanpa sengaja BERHASIL ngutak-atik sesuatu. *lhoo? :?:

Okelah, daripada makin belibet beralasan, lebih baik saya mulai saja, ya. Waktu itu, sebelum saya memutuskan hendak turut serta di lomba baca puisi tersebut, saya memutar otak sambil berpikir,

“Yang penting rekaman suara saya jelas, ta? Pakai ponsel saja kayaknya cukup!”

Hihihi … pede sekali saya! :P

Saking pede-nya, bahkan saya take action jelang magrib. Ya, sudah pasti … Ibu pun geleng-geleng kepala melihat saya di depan laptop (mantengi naskah puisi yang ditampilkan di website Heartline FM), sementara tangan kiri memegang si Sam (ponsel saya). Belum lagi posisi duduk bersila sambil membusungkan dada ….

Ya Allah Gusti, ini anak kesambet apa? mungkin begitu Ibu mbatin. :P Baca lebih lanjut

Menanti Hadiah dari Warta Jazz

Apa yang Sahabat rasakan jika mendapat pemberitahuan bahwa Sahabat memenangkan kuis/lomba? Senang, pasti! Saya pikir, rata-rata manusia normal akan merasa senang mendapat hadiah, berapapun nominal atau bentuk hadiah tersebut. Sama halnya dengan saya. Beberapa bulan lalu, saya mengikuti kuis Warta Jazz via twitter. Kala itu hadiah kuis yang dijanjikan adalah sebuah kaos. Barangsiapa berhasil menjawab dengan benar dan beruntung, akan mendapat hadiah tersebut. Pertanyaannya berkaitan dengan perayaan ulang tahun Warta Jazz. Karena saya tahu, maka saya jawab pertanyaan tersebut.

Sehari kemudian, saat saya log in twitdeck, ada dua notifikasi dari Warta Jazz masuk.

Saya menang, demikian yang saya baca di tweet tersebut. Karena pihak Warta Jazz meminta data diri singkat, alamat kirim, dsb dikirim via e-mail, maka segera saja saya memenuhi persyaratan itu. E-mail pun terkirim pada tanggal 13 Maret 2014. Sayang, hingga berminggu-minggu kemudian, tidak ada e-mail balasan dari Warta Jazz yang masuk ke inbox atau nyasar ke kotak spam. Baca lebih lanjut

Teruntuk Bunda Nik di Tempat Terdamai

Dear, Bunda Nik

Ada yang kurang rasanya tahun ini, tanpa Bunda di sisi. Ada yang tetiba terasa hampa di hati ketika Tuhan menuliskan takdir kita berpisah tahun ini. Akhir bulan kelima lalu, kuingat benar. Siang terik sontak menjadi temaram, redup digelayuti mendung. Kesedihan itu datang membayang setelah kuterima telepon soal kabar berpulangnya engkau, untuk selamanya. Selamanya? Aku tak percaya, Bunda. Sungguh tak pernah percaya, bahkan sampai hari ini … hari semestinya Bunda merayakan ulang tahun ke 49.

Bunda, hari ini, perkenankan aku mengenang semua sedih-senang itu lagi.

Tanpa Bunda, tentu ….

Tiada lagi yang begitu setia mendengarkan keluh kesahku, soal apa pun. Tiada lagi yang begitu riang mendengar kisah panjang-berliku dari ponakan tersayangnya. Tiada lagi yang rela meluangkan waktu berjam-jam demi mendengar suaraku dari seberang telepon. Tiada lagi yang begitu bersemangat mendengar kisah-kisah dari blog-ku dibacakan. Tiada lagi yang sehebat Bunda menyutradarai drama iseng keluarga besar Tedjodisastro. Tiada lagi yang biasa menertawaiku dengan suara tertawa sepertimu.  Tiada lagi sosok Bunda yang memberiku inspirasi berupa ketegaran menghadapi apapun yang diberikan oleh Gusti Allah. Kini, tiada lagi ….

Baca lebih lanjut

Tentang Kado Kecil untuk Pak Guru

Bicara soal puisi, saya tentu bukan satu-satunya orang yang gemar dan masih terus belajar menulis puisi. Rasanya masih teramat panjang jalan yang harus saya tempuh agar karya-karya saya masuk dalam jajaran karya yang apik dan berbobot. Proses panjang ini tak urung meninggalkan jejak-jejak tersendiri. Kadang sedih, tapi lebih banyak senangnya; lebih banyak bahagianya.

Bagi saya pribadi, ada banyak jejak kebahagiaan yang secara tak sengaja saya peroleh selama proses pematangan diri. Sekalipun sederhana, tak urung membuat proses belajar menulis tersebut semakin terasa indah, semakin bahagia. Satu di antaranya ketika saya menulis sebuah puisi untuk Pak Guru, Sapardi Djoko Damono. Sahabat tentu masih ingat dengan kisah saya mengikuti #PuisiHore3 beberapa bulan lalu, bukan? Nah, tema tantangan terakhir adalah menulis persembahan puisi untuk penyair favorit. Tanpa banyak berbasa-basi, jemari saya seolah didorong untuk menulis serangkai kalimat sederhana untuk beliau yang telah saya anggap sebagai Pak Guru. Maklumlah, puisi berirama karya Pak Guru-lah yang selama ini saya adopsi untuk hampir semua karya puisi saya.

Setelah bait-bait puisi berjudul “Menjadi Gadis Kecilmu” itu rampung, disusul dengan berakhirnya event #PuisiHore3, dan (alhamdulillah) masuknya pulsa 25K ke ponsel … mengapa masih ada yang kurang, ya? Entah, saya sendiri tak tahu apa yang sebenarnya saya rasa kurang kala itu. Baru ketika beberapa minggu lalu saya kembali mengutak-atik akun SoundCloud, menemukan cara menggabungkan musik pengiring dengan rekaman suara, … saya pikir saya telah menemukan di mana letak kekurangan tersebut.

Baca lebih lanjut

Nostalgia Baca Puisi

Baca puisi? Iya, ini tentu menjadi semacam nostalgia. Hmm, dulu saat saya duduk di bangku SD Inpres Candirejo, beberapa kali saya mewakili sekolah untuk lomba baca puisi; pernah juga mengikuti lomba baca puisi di tingkat kampung, biasalah lomba 17-an. ;) Setelah melewati masa-masa itu, di SMP level saya hanya mampu bertahan di skala sekolah (baca: pembaca doa); terutama saat OSIS kepengurusan 1997—1998 diberi mandat untuk menjadi petugas upacara. Meski terdengar nothing so special dengan kegiatan ini, ada sebuah kenangan yang tidak pernah saya lupa.

Pagi itu digelar upacara perpisahan dengan kepala sekolah kami, Ibu Murdiyati, B.A. Beliau  sudah masuk masa pensiun, jadi tak bisa lagi mengajar di sekolah kami. Oh, so sad. :cry: Fyi, Ibu Murdiyati adalah guru Matematika saat saya duduk di bangku kelas 1. Seminggu sebelum acara, saya sudah diburu-buru latihan di Ruang BK. Lhoo? Bukan diberi hukuman lho. Ibu Sularsih, guru BK kami, ‘menculik’ saya dan beberapa pengurus OSIS untuk membicarakan upacara perpisahan tersebut (termasuk latihan baca doa—yang disampaikan seperti membaca puisi) di ruang BK. Karena saya terbiasa berlatih sendirian di depan cermin; maka latihan di ruang BK itu hanya penuh guyon. Pfft… :( tapi, syukur alhamdulillah, saat hari H urusan saya berlangsung sangat lancar, bahkan bonus banjir airmata.

Baca lebih lanjut