Perempuan Angin yang Dicintai

Pertambahan usiamu kali ini benar-benar istimewa bukan, Perempuan Angin?

Mulai dari koki dadakan dari Rembang dengan saladnya. Juga koki dari Banjar dengan olahan mandainya. Sebagai puncaknya, kado istimewa bertuliskan:

“Happy birthday our cutest Mbak!!!”

datang bersama tiga gadis dari ibukota.

Kau tahu bukan, apalagi yang menjadi alasan mereka datang untukmu selain karena mencintaimu? Maka bersyukurlah, karena kau memang dicintai.

Mereka adalah sahabat dan bagian penting dari hidupmu. Percaya itu adalah anugerah Gusti Allah SWT.

Maka terima semua dengan penuh rasa syukur.
Maka ingat mereka selalu, beri ruang di hatimu agar mereka tumbuh selalu.
Maka simpan kebaikan dan ketulusan mereka sampai kapan pun. Baca lebih lanjut

Selamat Tambah Usia, Perempuan Angin

Sayang, masih ingatkah kau pada pagi pertama yang menyambut tangismu di hari keduapuluh satu bulan ketiga? Bukankah tak terasa telah sebegitu lamanya kau ada di sini, duduk menikmati binar embun pagi? Semoga engkau tak bosan menjaga pagi. Semoga engkau tetap bersemangat menempuh jalan hidupmu. Menjadi perempuan terbaik yang engkau bisa.

Sayang, Gusti Allah telah sebegitu Mahabaik-nya menitipkan engkau kepada sepasang suami-istri yang mau belajar mengerti seperti apa dirimu. Ingatkah engkau kado yang mereka beri kepadamu sejak dalam kandungan dulu? Bapak-Ibumu berjalan jauh hingga ke puncak Plawangan, menyapa Merapi, seperti yang selama beberapa tahun terakhir kau lakukan juga. Bukankah kado itu yang membuat engkau suka menjadi dirimu yang sekarang, Perempuan Angin? Meski kini tinggal seorang yang tinggal di sisimu, Ibu; bukan berarti Bapak, yang telah berpulang, meninggalkan engkau berjuang sendiri. Always remember this, Dear: Baca lebih lanjut

bingung

Cara Memperbaiki Kemiringan Foto Hasil Scan

Sebagai redaktur pelaksana jurnal ilmiah, salah satu tugas saya adalah menyiapkan back issue (artikel jurnal lawas yang telah terbit). Apalagi sekarang ini hampir semua serba paperless, alangkah baiknya jika redaksi memiliki arsip back issue dalam bentuk digital (baca: PDF file). Yang sedikit merepotkan adalah jika ada sebagian arsip digital jaman baheula itu yang terselip entah di mana karena saking lamanya. :( Kalau sudah begini, mau tidak mau hardcopy-lah yang diolah (baca: di-scan dan seterusnya) sebagai pengganti.

Ada dua risiko jika saya memutuskan untuk mengambil file hasil scan arsip jurnal jaman baheula. Pertama, risiko kotor karena bintik-bintik hitam dan garis penuaan. Kedua, file fotonya miring karena keterbatasan ruang tangkap si mesin scan. Bersyukur sekali saat ini sudah ada software yang bisa digunakan untuk mengatasi kedua hal tersebut. Yang jelas, proses merapikan file hasil scan menjadi lebih mudah, alhamdulillah. :)

Nah, kalau sebelumnya saya pernah berbagi cara menghilangkan bintik dan garis penuaan; maka, kali ini saya akan berbagi cara memperbaiki kemiringan file foto hasil scan agar sesuai dengan aslinya, atau setidaknya mendekati. Well, yes, kali ini saya menggunakan Adobe Photoshop 7 (bisa juga digunakan di versi lebih baru). Mari dimulai! ;)  Baca lebih lanjut

Kisah Dapur Yu Pulen: Tantangan Bikin Mandai

Mandai? Sekali mendengar kata ‘mandai’, pikiran ngaco saya tertuju ke: Mandai, Tuesdai, Wednesdai … hahaha, ya ampun! :lol:

Jadi, apa sih sebenarnya ‘mandai’ itu? Mandai adalah nama menu makanan khas Kalimantan Selatan; makanya, wajar kalau saya yang orang Jawa merasa asing, lalu mulai lebay ngaco. *membela diri :P *

Pertama kalinya saya tahu mandai dari seorang sahabat jaman kuliah dulu. Namanya Ale. Iya, akhir pekan lalu ia bertandang ke rumah bersama Maylia dan Adhyatma. Katanya, mumpung sedang di Jogja mainlah dia ke rumah. Sembari kami ngobrol ngalor-ngidul, bernostalgila … terseliplah sebuah cerita unik antara orang Banjar, buah cempedak, dan mandai. Yang jelas, ini bukan karena ada kisah cinta segitiga. *eh :P Ini karena mereka membawa kulit cempedak bersama mereka. Beneran, ini kurang kerjaan namanya. Ckckckck…

Ok, menyarikan kisah Ale, mandai dibuat dari kulit cempedak dan (katanya) ketertarikan orang Banjar terhadap kulit cempedak lebih tinggi dibanding buahnya sendiri. Lho, bukannya buah cempedak itu jauh lebih enak daripada kulitnya? Kenapa yang dicari justru kulit cempedak? Aneh, kan? :?:  Baca lebih lanjut

Antara ‘Berkeliling Dunia’ dan ‘Membelah Atom’

Berada di dekat anak-anak sering menorehkan cerita seru dan lucu. Seperti beberapa waktu lalu saat saya berkesempatan menemani Bintang dan Dana belajar. Meski usianya berbeda, (Dana duduk di bangku kelas 8, sementara Bintang duduk di kelas 6), dari pengamatan selama ini, saya menjumpai beberapa kemiripan dari mereka: anak laki-laki, sulung, suka ngobrol (baca: talkative), berimajinasi, dan rasa ingin tahunya tinggi. Well, kadang agak kewalahan juga menanggapi pertanyaan mereka berdua. :lol:

science-communication_-iStockphoto_Thinkstock

credit: iStockphoto/Thinkstock

Baca lebih lanjut

Ada Apa dengan SPT Tahun Pertama?

Februari minggu pertama tahun ini, saya mendapat kejutan istimewa. Hehehe berasa orang penting, ya, mendapat kejutan? ;) Kejutan yang saya maksud, tidak lain tidak bukan adalah imbauan pelaporan SPT tahunan. Wah, iya, Februari 2015 ini saya sudah genap setahun memiliki nomor pokok wajib pajak (NPWP). Pantas saja jika ada surat cinta datang dari KPP Pratama Sleman.

Hehehe rasanya seperti baru kemarin saya membagi kisah bikin NPWP, eh, lha kok sudah setahun berlalu. :P *abaikan! :lol:

surat cinta dari KPP Pratama

surat cinta dari KPP Pratama

Surat tertanggal 3 Februari 2015 tersebut intinya menagih janji SPT 2014 dari wajib pajak orang pribadi (OP). Sebagai warga negara taat pajak, maka saya yang masih newbie ini pun berusaha menyusun SPT pertama. Let’s go!!  Baca lebih lanjut

Antara Redaktur, Tutoress, dan Food Combiner

Food combining. Dua kata ini baru setengah tahunan akrab di telinga saya. Bagaimana hingga saya membulatkan niat bergabung menjadi food combiner (FCer)? Alasan pertama, karena saya tertarik untuk sehat jangka panjang. Sahabat yang sering dolan ke Segores Pena Phie mungkin tahu bahwa saya menderita dermatitis. Selain itu, saya juga punya alasan lain: riwayat penyakit diabetes dalam keluarga, dari kedua pihak Bapak dan Ibu. Ya, 15 tahun lalu Bapak meninggal karena komplikasi: diabetes yang menjalar ke liver dan jantung. Sementara, Ibu saat ini juga mengalami peningkatan kadar gula darah karena faktor usia dan pola makan yang kurang baik di masa lalu.

Boleh dikatakan, risiko saya besar. Kalau saya tidak berhati-hati mengelola gaya hidup, terutama pola makan, mau jadi apa saya? Ada keinginan juga agar Ibu, orangtua saya yang tinggal satu-satunya itu, menjalani masa senja beliau dengan bugar. Tentunya dengan tetap teratur melakukan kontrol kadar gula darah, asam urat, tensi, dan kolesterol.

Kedua alasan itu diperkuat dengan pengalaman dua bulan sebelum saya memutuskan ber-FC (sekitar Oktober-November 2014). Saya dilanda ‘krisis energi’. Iya, rupanya bukan hanya bumi yang bisa mengalami krisis energi, tubuh juga bisa. Ini berkaitan dengan rutinitas saya sehari-hari. Pagi-sore 5 hari kerja saya di redaksi; masih disambung dengan jadwal mengajar les privat usai ngantor, seminggu 7 hari. Baca lebih lanjut