Kemarau, Blanggreng, dan Sepenggal Kenangan

Saya ingat, hari itu adalah awal mula musim kemarau. Udara pagi di kaki Merapi  jauh lebih dingin dari biasanya. Dulu, Simbah Uti sering mengatakan saat-saat seperti itu dengan bedhidhing.

Bukan cuma soal udara dingin, ada kenangan lain yang tidak akan pernah saya lupa. Ya, kemarau juga berarti waktunya bunga-bunga kopi di kebun Simbah bermekaran. Wangi khas bunga kopi (kami menyebutnya blanggreng), berpadu dengan udara dingin  dan kabut yang turun sesekali … ah, betapa kemarau punya cara membuat saya terkenang-kenang pada Simbah Uti.

Tidak jarang kenangan itu begitu mudah muncul jika saya menemukan beberapa ‘kode’. Satu di antaranya sebuah foto blanggreng yang diunggah oleh mbak Ifeb, kakak angkatan saya jaman kuliah dulu. Ini dia tersangka foto yang ia unggah ke Instagram (sekaligus nyambung ke Facebook) tersebut. Baca lebih lanjut

Si Merah dan Dua Dasawarsa Kami

Saya sering memberi nama barang-barang pribadi dengan warnanya, termasuk si Merah: mushaf pertama saya. Tak terasa tahun ini Merah telah bersama saya selama 20 tahun. Angka yang tidak pernah saya duga jauh sebelumnya ketika saya meminta Ibu membelikan mushaf di sebuah lapak buku di Pasar Pakem.

Entah, tidak ada angin pun hujan, kala itu pandangan mata saya seolah tercuri olehnya. Padahal saya termasuk anak yang agak enggan memilih warna merah. Segala benda yang melekat di badan, didominasi warna cerah, lebih seringnya putih, begitu Ibu mengenang kebiasaan saya waktu kecil. Lalu, apa yang sebenarnya mendasari saya memilih si Merah? Ukurannya yang lumayan besar. Saya bahkan bisa menutup area dada hingga perut dengan mushaf tersebut. … dan lagi, karena ukuran fisiknya yang besar, huruf-hurufnya pun tercetak lebih besar, lebih mudah bagi saya yang saat itu sedang belajar membaca Al Qur’an.

Bisa dibilang saya agak terlambat bisa membaca Qur’an dibanding anak-anak sekarang. Waktu itu saya sudah duduk di kelas 5 sekolah dasar, baru kenal dengan TPA dan buku iqro. Sebelumnya belajar mengaji dilakukan di masjid dekat rumah orangtua, At-Tauwabin, pun bukan dengan buku iqro. Khasnya anak-anak kelahiran tahun 80-an dan era sebelumnya, saya dan teman-teman belajar mengaji dengan turutan. Alif fathah a, ba dhomah bu, ta kasrah ti … dan seterusnya. Baru setelah lancar, boleh mengaji juz’amma, berikutnya Al Qur’an. Baca lebih lanjut

Kado Lebaran dari Mi Burung Dara

Siapa yang tak senang jika memperoleh kabar gembira jelang lebaran? Ya, alhamdulillah, dua hari jelang Idul Fitri 1436 H lalu, saya mendapat telepon dari pihak Mi Burung Dara cabang Yogyakarta. Adapun isi dari telepon tersebut adalah pemberitahuan bahwa hadiah pemenang ketiga cooking class MBD blog writing competition akan dikirim hari itu juga. Sayangnya, saat itu saya sedang di kantor redaksi. Jadi, penerimaan hadiah diwakilkan kepada Ibu yang stand by di rumah. Ini dia kado lebaran dari Mi Burung Dara …. :)

kado lebaran, mi burung dara

kado lebaran dari MBD: kompor portable, payung, dan mi

Baca lebih lanjut

Happy Eid Mubarak 1436 H

Akhirnya, berpisah dengan Ramadhan lagi. :cry: Tetap saja sedih, meski aktivitas saya selama Ramadhan dan awal Syawal kemarin tidak begitu bervariasi. Bukan monoton, lebih seperti rutinitas tahunan yang tidak jauh berbeda dengan orang-orang kebanyakan. Bisa jadi itulah yang membuat saya malas untuk mendokumentasikannya secara detail satu per satu, hehehe. *minta dipentung* :P Yang jelas, masih ada beberapa yang menanti dengan setia untuk disempurnakan, pada saatnya nanti mereka akan terbit setelah semua siap. :D

Dan, karena moment Idul Fitri ini tidak mungkin saya lewatkan, maka meski terlambat beberapa hari, saya ingin menyampaikan,

Happy Eid Mubarak 1436 H_SPP

“Selamat Hari Raya Idul Fitri 1436 H.. Happy Eid Mubarak to you, Pals…”

Mohon dimaafkan segala salah, khilaf saya selama ini, ya, Sahabat. Semoga tahun depan kita diberi kesempatan baik berjumpa dengan Ramadhan kembali. InsyaAllah, aamiin.

Oleh-Oleh CJI Talk – Dompet Dhuafa

CJI Talk Dompet Dhuafa

Jumat, 12 Juni 2015 lalu, saya berkesempatan hadir di acara diskusi jurnalisme yang digelar oleh Dompet Dhuafa (DD). Bertempat di Ruang Teatrikal Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga, acara ini menghadirkan beberapa pembicara, di antaranya Drs. Octo Lampito M.Pd. (Ketua Dewan Jurnalistik Jogja, pimpinan redaksi Kedaulatan Rakyat) dan Indah Julianti (blogger senior, co-founder Kumpulan Emak Blogger). Semestinya, ada seorang pembicara lagi yang diharapkan datang mewakili Net TV. Namun, rupanya pihak Net TV membatalkan kehadiran di detik-detik akhir, begitu panitia memberi penjelasan.

Meski hanya menampilkan dua pembicara, acara yang berdurasi kurang lebih dua jam ini mampu memperkaya pengetahuan saya sebagai peserta tentang jurnalisme warga, kaitannya dengan tema yang diusung oleh DD: Bergerak untuk BerdayaBaca lebih lanjut

Mi Burung Dara: Dari Cooking Class Turun ke Dapur Yu Pulen

♫ Mi burung dara, enaknya nyambung teruuus … ♫

Sepenggal tagline iklan—yang aslinya dinyanyikan oleh Inul Daratista—menggema di hall Restoran Taman Pringsewu, Jln. Magelang. Suasana serba merah-jingga, memeriahkan acara cooking class bareng Mi Burung Dara (MBD) dan Dapoer Boga siang itu, Sabtu, 20 Juni 2015. Acara ini diikuti oleh beberapa komunitas perempuan di Yogyakarta. Saya sendiri datang memenuhi undangan mewakili diajeng-nya Komunitas Blogger Jogja (KBJ) bersama lima orang teman: mbak Indah Juli, mbak Lusi, Rian, temannya Rian (aduh, lupa namanya), dan Ardiba.

Acara siang itu bukan hanya cooking class, tetapi juga dilengkapi dengan sambutan sekaligus pengenalan beberapa varian produk oleh General Manager MBD (Bapak Tjun Sulestio). Ternyata banyak juga varian mi yang telah ada sejak tahun 1972 ini.  Ada mi telur renteng, mi urai original, dan mi urai pipih yang mirip dengan spagheti. Beliau menekankan bahwa produk MBD merupakan produk lokal yang dibuat dari bahan-bahan bermutu tinggi, terjamin higienie-nya, dan diolah dengan teknologi canggih. Salah satu teknologi yang dimaksud adalah teknologi air dry, yaitu pengeringan mi dengan cara di-oven, bukan digoreng. Selain itu, air yang digunakan dalam proses pembuatan mi adalah air yang diolah melalui reverse osmosis (RO). Air ini siap minum dan aman.

Pak Sulestio juga menyinggung soal kelebihan lain MBD, antara lain rendah lemak dan kenyal, seperti tagline iklannya, tentu saja. Jadi, meski dimasak lama, mi tidak gampang ‘lodoh’. O ya?! Saya bisa percaya, tapi tentu harus membuktikannya.. hehehe. Well, then… Ayo kita mulai masak, Ibu-Ibu! *pakai apron* :lol:

*** Baca lebih lanjut

Manusia Sambal

Manusia Sambal, begitulah saya menjulukinya. Nama lengkapnya Aleryovan Nahli Erlangga, tapi kami di HPT 2002 akrab memanggilnya Nahli, Ale, atau Alul saja. Maklum, selama hampir lima tahun perkuliahan, ia hanya memakai nama tengahnya. Entah, demi apa dia menyembunyikan nama lengkapnya. Konon katanya, ia telah diberi mandat oleh seseorang untuk menyimpan baik-baik nama awal dan akhirnya. Entahlah …. :neutral:

Oke, kembali ke tema, sesuai dengan julukan “manusia sambal” tersebut, dia memiliki kebiasaan aneh (dilihat dari sudut pandang saya sebagai manusia yang gak begitu doyan pedas :P ). Ya, mau terlihat normal bagaimana, kalau makan soto semangkuk saja sambal yang diambil bisa 4–5 sendok makan?! :shock: Wah, itu sih namanya makan sambal lauk soto! :lol: *peace, Lul! :P

Alhasil, saya hanya bisa geleng kepala melihat Ale beraksi ketika kami keluar makan siang rame-rame.

sambal cobek (sumber: Wikipedia)

sambal cobek (sumber: Wikipedia)

Baca lebih lanjut

Marhaban yaa Ramadhan

Marhaban yaa Ramadhan 1436H

Tak terasa, Ramadhan 1436 H telah masuk hari kedua, Sahabat. Saya pikir tak ada kata terlambat untuk menyampaikan selamat datang untuk bulan mulia ini. Bulan yang dinanti-nantikan oleh kita umat muslim di seluruh dunia karena inilah bulan penuh dengan kemurahan dan pengampunan Allah SWT. Jadi, kesempatan sebaik ini jangan pernah kita lewatkan, ya.

Lagipula, siapa manusia yang bisa tahu bakal dikaruniai umur panjang atau sebaliknya? Mumpung ada kesempatan sebaik Ramadhan, yuuk sama-sama kita isi dengan hal-hal bermanfaat! Ibadahnya ditambah, perbaikan dirinya ditambah, silaturahminya juga ditambah. Setelah Ramadhan ini berlalu, giliran mempertahankan semua perbaikan tersebut. Semoga kita semua dikaruniai istiqomah. Aamiin.

O ya, tadi saya menyinggung soal silaturahmi, bukan? Ada banyak cara kreatif untuk menyambung dan mengeratkan silaturahmi saat Ramadhan. Berbuka puasa bareng, misalnya. Dua tahun lalu, di Ramadhan 1434 H, saya pernah berbagi kisah soal mendadak reunian dengan teman-teman SD alumni 1996. Baca lebih lanjut