Kebun Buphielonia: Project #1 – Vertikultur Bawang Merah Sederhana

Setelah menapaki hari-hari sebagai newbie food combiner, saya merasa perlu untuk giat kembali di kebun. Seperti yang pernah saya tulis soal kebun sayur impian, awal tahun ini saya mulai beberapa project sederhana untuk Kebun Buphielonia. ;)

Eh, sebentar, mengapa nama “BUPHIELONIA” yang saya ambil? Hehe, saya terinspirasi oleh Taman Gantung Babilonia. Masa sih Kerajaan Babilonia dan Raja Nebukadnezar II saja yang boleh punya ruang hijau? Saya juga mau punya kebun semacam itu. Makanya, saya bikin nama Buphielonia (diambil dari nama panggilan Bubu Phie). Norak biar, yang penting saya gembira. #eh :P :lol:

Bicara soal kebun, kami sekeluarga sempat memiliki kebun sayur beberapa tahun lalu. Sayang sekali, saya belum begitu telaten mengurus kala itu. Pada akhirnya satu per satu tanaman di kebun kami mati. Sedihnya …. :cry: Mau saya, project ini bisa terlaksana tahun 2014 lalu, … eh, ternyata belum bisa juga. Well, karena sekarang saya telah mendapat kesempatan yang pas, maka saya meniatkan membangun kembali sebuah impian sederhana ini. Mudah-mudahan istiqomah, aamiin. :)

kebun keluarga

kebun keluarga kami (foto diambil April 2012)

Baca lebih lanjut

Kopdar Hore “Sambel Pete”

20 Januari 2015 lepas waktu subuh

Nyawa saya seolah dipaksa masuk kembali ke alam nyata pagi itu. Ada apa? Ponsel saya tiba-tiba melenguh (eh, si Sam—ponsel jadul saya—bukan sapi, sih). Maksud saya, suara getaran si Sam  yang mirip suara sapi itu membuat saya harus bangun segera. Seseorang di seberang sana sedang merindukan suara saya, mungkin. Ah, daripada ge-er, segera saja saya beringsut menuju meja belajar. Begitu tahu siapa, saya segera mengangkat telepon.

“Hallo, assalamu’alaikum, Priit …”

Suara perempuan yang saya sapa Priit itu tak jelas. Hmm, pagi-pagi kok sudah susah sinyal, lho? Ckckck… nasib hidup di kaki gunung. :lol:  Baca lebih lanjut

Empat Jam di Museum Sasmitaloka Panglima Besar Jenderal Soedirman

Orang bilang, bicara sejarah sama artinya bicara romantisme masa lalu. Ada benarnya, menurut saya. Menilik masa lalu, mengenangnya, merasakan kembali hidup di saat manis, pahit, getir itu … rasanya menakjubkan; rasanya ada haru-biru yang kemudian menancap kembali di hati. Hmm, bisa jadi itu adalah satu di antara alasan saya menghadiri undangan diskusi sejarah TNI Angkatan Darat yang digelar pada hari Sabtu, 3 Januari 2015 pk. 09.00 oleh komunitas Djokjakarta 1945.

Undangan acara yang dikirim via SMS oleh mas Penyo (mas Eko Istiono), saya terima tepat di akhir tahun 2014. Alangkah senang, belum juga tahun berganti, sudah ada agenda akhir pekan menanti yang sayang rasanya untuk dilewatkan. Iya, kan, Sahabat? ;)

Acara diskusi gratis ini awalnya akan dilaksanakan di Museum TNI AD Darma Wirayudha, Jln. Jenderal Sudirman. Namun, sehari jelang acara, berdasar sebuah pesan singkat yang saya terima, lokasi acara dipindahkan ke Museum Sasmitaloka Panglima Besar Jenderal Soedirman, Bintaran. Baiklah, saya catat baik-baik! ;)

museum sasmitaloka dari depan

*** Baca lebih lanjut

Secuil Kisah di Balik Sound of Love “Sejejak Kamu”

Saya percaya, cara menikmati puisi tidak melulu dilakukan dengan membaca atau menulis. Kadang kala melakukan usaha lebih, bisa meningkatkan ‘rasa nikmat’ sebuah puisi. Mungkin itu yang juga diharapkan oleh panitia penyelenggara Sound of Love. Ya, dalam rangka ulang tahun keempat, penerbit LeutikaPrio mengadakan kompetisi puisi bertema Unbreakable Love. Saya kurang tahu kapan pengumuman ini dirilis. Yang jelas, event ini digelar hingga 30 November 2014 lalu.

Sound of Love

pengumuman Sound of Love

Sesaat saya menemukan pengumuman lomba ini di TL twitter pertengahan bulan November 2014, saya segera mem-favorite-nya sembari berharap di sela finishing layout terbitan (yang tidak kunjung kelar), saya masih bisa refreshing sejenak, menulis beberapa larik puisi dan merekamnya di rumah. I do hope so. :)

Baca lebih lanjut

Segores Pena Phie: 2014 in review

Selamat tahun baru 2015, Sahabat! :D Setelah sekian minggu vakum mengisi blog ini, postingan pertama di 2015 akan saya buka dengan laporan kemajuan saya. Jadi bagaimana, hasil rapor Segores Pena Phie setahun ini? Berikut asisten statistik WordPress.com menyiapkan laporan tahunan 2014 untuk blog Segores Pena Phie. Check it out! ;)

Berikut ini kutipannya:

Aula konser di Sydney Opera House menampung 2.700 orang. Blog ini telah dilihat sekitar 53.000 kali di 2014. Jika itu adalah konser di Sydney Opera House, dibutuhkan sekitar 20 penampilan terlaris bagi orang sebanyak itu untuk menontonnya.

Klik di sini untuk melihat laporan lengkap.

Oleh-Oleh Scopus Workshop, Mau?

Hai, Sahabat. Tulisan saya akhir-akhir ini lumayan, ya, yang berisi oleh-oleh workshop? Hehe, ya mumpung saya ada kesempatan ikut dan sekaligus membaginya untuk Sahabat semua, apa kelirunya, sih? ;)

Nah, serupa juga tanggal 27 November lalu. Saya diminta Prof. Edhi Martono (Ketua Dewan Redaksi JPTI) mewakili redaksi mengikuti Scopus Workshop di Fakultas Farmasi UGM. Sehari di sana berjumpa dengan pengelola jurnal (dari internal UGM, perguruan tinggi di Jogja, dan beberapa kota di Indonesia), bagaimana rasanya? Senang, tentu! :D Kan saya dapat tambahan ilmu baru. :)

Scopus Workshop

suasana Scopus Workshop, 27 November 2014

Baca lebih lanjut