Gara-gara “Cin Cin Pon Pon”

Dua orang pertama yang tahu saya berbakat menyanyi adalah Ibu dan Bapak (alm.). Menurut cerita Ibu, saya mulai suka ber-mumbling song (baca: nyanyi-nyanyi ga jelas sesuka hati) sejak usia 3 tahun. Parahnya, kebiasaan saya akan mencapai puncaknya di hari tertentu (seingat saya hari Ahad) mulai pukul 16.00 s.d. 17.00. :lol:

Mengapa bisa begitu? Apakah ber-mumbling song itu semacam gejala penyakit?

Tentu tak ada akibat tanpa penyebab. Di rentang waktu tersebut ada acara “Kumpul Bocah” di Retjobuntung FM. Ya, sebuah program siaran radio untuk anak. Isinya didominasi lagu dan request live anak-anak via telepon. Ada yang baca puisi, menyanyi, hafalan, titip salam, dsb. Acara ini sengaja disetelkan Ibu untuk saya dengarkan, biar saya nyanyinya lebih dari sekadar mumbling. :lol:

girl singing

Nah, karena lagu tema acara adalah sebuah lagu Jepang berjudul “Cin Cin Pon Pon”, saya yang suka sekali meniru pun ikut-ikut menyanyikan lagu itu. Setiap kali acara Kumpul Bocah mulai, saya pun beraksi. Baca lebih lanjut

Sewindu Bersama Sariayu

♫ Sudah sewindu ku di dekatmu … Ada di setiap pagi, di sepanjang harimu… ♫

Hmm, sepenggal lirik lagu Sewindu (Tulus) di atas agaknya sebelas-duabelas dengan pengalaman yang akan saya bagi kali ini: sama-sama soal sewindu. Bedanya, sewindu saya ini bukan untuk move on atau move away, seperti yang dikisahkan oleh Tulus. Ini tentang sesuatu yang sangat layak untuk saya pertahankan. Ya, tahun ini genap sewindu saya bersama Sariayu, sebuah brand produk kecantikan dalam negeri yang pesonanya sudah go international.

saya dan sewindu bersama Sariayu

Bagaimana hingga akhirnya saya memilih menggunakan produk perawatan wajah dari Sariayu? Jadi, begini ceritanya ….  Baca lebih lanjut

Yang Mungil, Yang 20 Tahun Bersama

Beberapa siswa saya pernah bertanya hal-hal menggelikan. Dasarnya anak-anak, ya, selalu ada saja caranya untuk penasaran dan mencari tahu. Sebut saja Rifa, usianya baru 6 tahun. Meski kini ia sudah tidak lagi saya dampingi, ada sebuah ingatan soal Rifa yang kadang membuat saya tertawa geli. Bisa begitu? Ya.

Jadi, begini ceritanya ….

Sore itu seperti biasa saya datang ke rumah orangtua Rifa. Jaraknya sekitar 2 km dari rumah. Kebiasaan saya kalau belajar dengan anak-anak pasti ada saat-saat jeda. Sekadar ngobrol ringan dan bercanda, tentu saja supaya suasana belajar tidak membosankan. Tahukah apa yang Rifa tanyakan kepada saya?

“Mbak Jatu kan belum nikah, kenapa pakai cincin?”

Rada kaget juga saya mendengar pertanyaan itu; lalu sebisa mungkin saya menjelaskan soal cincin mungil yang melingkar di jari manis tangan kiri.  Baca lebih lanjut

Kisah Dapur Yu Pulen: Jatuh Hati kepada Kimchi

Kalau ada yang bertanya, “Apakah kamu penyuka drama/film Korea?”, saya akan menjawab, “Ya!” :mrgreen: Namun, kalau saya ditanya soal makanan Korea, saya hanya bisa geleng kepala. Selama ini saya gak pernah mencoba membuka hati untuk mencicipi makanan Korea. :P Tidak ada yang salah, lha wong melakoni  hidup itu urusan memilih, kok. *tsaah, bahasanya! :lol:

Sekitar sebulan terakhir ada yang berubah dengan cara pandang saya. Entah. Saya mulai mengincar makanan sehat untuk side dishes. Bisa dibayangkan apa yang terjadi kemudian? Yupe, saya jadi rajin browsing sana-sini. Hasilnya? Saya menemukan artikel ilmiah soal kimchi: sejarahnya, kandungannya, benefit-nya, sampai side effect-nya. Saya khusyuk menyimak video tutorial dari suhu Maangchi. Saya terpesona … dan singkat ceritanya, saya jatuh hati kepada kimchi. Aigooo! :shock: Sayangnya, saya malas pergi ke restoran Korea. Lagipula saya sering merasa perlu memrioritaskan hal lain ketimbang jajan di luar rumah. Ckckck… susah kalau sudah kambuh pelitnya! :P

Jadilah, gimjang (baca: hari bikin kimchi a.k.a kimchi project) bersama Ning, adik perempuan saya, pun dimulai. Project pertama berhasil dilalui tanggal 8 Februari 2015 lalu dan kami berdua sepakat untuk menjadikan kegiatan ini sebagai ritual masak bersama. Ahihihi, kayak apa saja ya, ritual! :lol:

kimchi pertama ala dapur Yu Pulen

kimchi pertama ala dapur Yu Pulen

Oke, mau tahu resep kimchi ala dapur Yu Pulen? Yuuk, kita ke dapur! ;)

Baca lebih lanjut

Perempuan Angin yang Dicintai

Pertambahan usiamu kali ini benar-benar istimewa bukan, Perempuan Angin?

Mulai dari koki dadakan dari Rembang dengan saladnya. Juga koki dari Banjar dengan olahan mandainya. Sebagai puncaknya, kado istimewa bertuliskan:

“Happy birthday our cutest Mbak!!!”

datang bersama tiga gadis dari ibukota.

Kau tahu bukan, apalagi yang menjadi alasan mereka datang untukmu selain karena mencintaimu? Maka bersyukurlah, karena kau memang dicintai.

Mereka adalah sahabat dan bagian penting dari hidupmu. Percaya itu adalah anugerah Gusti Allah SWT.

Maka terima semua dengan penuh rasa syukur.
Maka ingat mereka selalu, beri ruang di hatimu agar mereka tumbuh selalu.
Maka simpan kebaikan dan ketulusan mereka sampai kapan pun. Baca lebih lanjut

Selamat Tambah Usia, Perempuan Angin

Sayang, masih ingatkah kau pada pagi pertama yang menyambut tangismu di hari keduapuluh satu bulan ketiga? Bukankah tak terasa telah sebegitu lamanya kau ada di sini, duduk menikmati binar embun pagi? Semoga engkau tak bosan menjaga pagi. Semoga engkau tetap bersemangat menempuh jalan hidupmu. Menjadi perempuan terbaik yang engkau bisa.

Sayang, Gusti Allah telah sebegitu Mahabaik-nya menitipkan engkau kepada sepasang suami-istri yang mau belajar mengerti seperti apa dirimu. Ingatkah engkau kado yang mereka beri kepadamu sejak dalam kandungan dulu? Bapak-Ibumu berjalan jauh hingga ke puncak Plawangan, menyapa Merapi, seperti yang selama beberapa tahun terakhir kau lakukan juga. Bukankah kado itu yang membuat engkau suka menjadi dirimu yang sekarang, Perempuan Angin? Meski kini tinggal seorang yang tinggal di sisimu, Ibu; bukan berarti Bapak, yang telah berpulang, meninggalkan engkau berjuang sendiri. Always remember this, Dear: Baca lebih lanjut

bingung

Cara Memperbaiki Kemiringan Foto Hasil Scan

Sebagai redaktur pelaksana jurnal ilmiah, salah satu tugas saya adalah menyiapkan back issue (artikel jurnal lawas yang telah terbit). Apalagi sekarang ini hampir semua serba paperless, alangkah baiknya jika redaksi memiliki arsip back issue dalam bentuk digital (baca: PDF file). Yang sedikit merepotkan adalah jika ada sebagian arsip digital jaman baheula itu terselip entah di mana karena saking lamanya. :( Kalau sudah begini, mau tidak mau hardcopy-lah yang diolah (baca: di-scan dan seterusnya) sebagai pengganti. Ada dua risiko jika saya memutuskan untuk mengambil file hasil scan arsip jurnal jaman baheula. Pertama, risiko kotor karena bintik-bintik hitam dan garis penuaan. Kedua, file fotonya miring karena keterbatasan ruang tangkap si mesin scan. Bersyukur sekali saat ini sudah ada software yang bisa digunakan untuk mengatasi kedua hal tersebut. Yang jelas, proses merapikan file hasil scan menjadi lebih mudah, alhamdulillah. :) Nah, kalau sebelumnya saya pernah berbagi cara menghilangkan bintik dan garis penuaan; maka, kali ini saya akan berbagi cara memperbaiki kemiringan file foto hasil scan agar sesuai dengan aslinya, atau setidaknya mendekati. Well, yes, kali ini saya menggunakan Adobe Photoshop 7 (bisa juga digunakan di versi lebih baru). Mari dimulai! ;)  Baca lebih lanjut