Arsip Tag: puisi
Kita dan Hujan
Hujan
Butirannya pecah berderaian
Meliputi siang dengan temaram
Seperti rasa yang terbelenggu dalam raga
Hanyalah rindu membelit, mewujud nyata
Meski sesekali temaram ini menyamarkannya
Hujan
Menderu lalu kemudian redam
Oleh sebait doa “Allahumma shoyyiban naafi’an”
Yang terngiang setiap kali kubaca “Kau dan Orkes Hujan”
Yang berujung pada ladang edelweiss, satu impian
Juga puisi tentang bintang dan langit malam
Namun, hujan..
Pernah meremuk bersama padu kenangan
Ketika gulana meruah
Tumpah menjadi tangis meradang Lanjut membaca
Prambanan di Suatu Senja
untuk sebuah nama
yang berhasil kueja
kuurai dari suatu masa
untuk sebuah nama
yang membuat ruah gulana
kususuri hangat rengkuhnya meski dalam angan semata
untuk sebuah nama
yang kala itu tak pernah bisa kusisipi cinta
adalah dia penghujung lara nestapa
secarik kenangan dalam ruang setengah hampa
adalah dia dan sebuah nama,
Prambanan di suatu senja
“Tulisan ini diikutsertakan dalam Giveaway The Fairy and Me yang diselenggarakan oleh Nurmayanti Zain“
Senyum Segurat
Sabtu malam beranjak pekat
Rembulan bernaung di balik awan-awan pucat
Kulihat engkau datang
dengan selarik senyum tersurat
Oh, tiada dapat kubendung debar
dan degup jantung memuncak
Engkau masih sekilas-sekilas
memandangku lekat
Namun, saat lain waktu kuberucap
sehingga nada suaraku nyaris tercekat
Mengapakah senyummu tinggal segurat?
Tipis, samar di bibir… semburat
Lanjut membaca
Bayang Manis di Hari Gerimis
Langkah-langkah kecil itu
Tlah tertepis sekian waktu
Saat hari gerimis di Kampus Biru
Dua pasang kaki melangkah beriring
Mengawali kisah ini
Tertulis di akhir tahun nan sepi
Meski kurasa tetap hangat di hati
Setengah hari itu bersamamu
Tak terasakan olehku setitik jenuh
Hingga waktu tlah terlewati
Kini ada yang tinggal di hati
Saat kembali ku rengkuh imaji
Mengenang satu bayang manis
Tlah menyisakan kerinduan tak bertepi
Hanya padamu seorang diri
Seperti sebuah kenangan manis
Menghias cantik di hari gerimis
-Karangsari, 08 Maret 2005-
Penasaran
Satu bayang terlewat
Via telepon di Kamis malam nan gelap
Mencari tahu di mana diriku
Tapi ku tak pernah merasa mengenalmu
Satu bayang tersekat
Dalam relung imaji nan rapat
Siapa dirimu sebenar
Tak dapat kuterka, hanya samar
Apakah dirinya atau orang lain
Atau hanya cowok, suka main-main
Penasaran ini
Berkecamuk dalam hati
Siapakah lagi yang hadir
Mengusik saat ku tenang berpikir
Ataukah hanya orang usil
Iseng memainkan jari yang jahil
Siapa yang dapat kuduga lagi
Kucurigai dan kuinterogasi
-Karangsari, 27 Maret 2005-
Awal Ujian Akhirku
Pagi nan cerah
Di sebuah ruang ber-AC
Kulalui ujian akhirku
Hari pertama ini
Karantina Tumbuhan
Menyambutku
Alhamdulillah
Kuselesaikan dengan mudah
Terakhir kudapatkan
Sebungkus permen cola
Lumer di lidah
Menuntaskan 60 menit
Ujianku di A1 lantai 3 KPTU
-Bulaksumur, 08 Januari 2005-
Pria Tua di Keramaian Kota
Di keramaian kota
Terduduk pria tua
Tak bisa berjalan
Namun, langkah kakinya tertahan
Dengan bantuan tangan merangkak
Kulihat tak berdaya
Dengan kaki terkelupas
Membusuk…
Tak pula bisa ia berkata
Hanya isyarat tubuhnya meminta
Sekeping keikhlasan
Tuk sesuap nasi
Pria tua di keramaian kota
Satu potret kesenjangan dunia
Terdampar lesu di pinggir traffic light
Hanya bisa memohon belas kasih
Agar degup jantungnya tak terhenti
Sebelum waktu mengakhiri
-Karangsari, 11 Agustus 2004-


