Phie, Dulu dan Kini

Tema “The Old and The New Photos” yang diusung Bunda Yati sebagai tema giveaway beliau menggelitik saya untuk mengikutinya. Well, tidak ada kesan selain kesan positif yang saya dapat ketika kami berjumpa darat (baca: kopdar) beberapa bulan lalu. Di sebuah pagi yang manis oleh rinai gerimis, kami bersua. Bunda Yati yang senantiasa bersemangat bahkan di usia tujuh dasawarsa memeluk saya erat lalu disusul dengan obrolan hangat dan antusias. Hm, betapa perjumpaan singkat kami itu seperti mimpi saja saking singkatnya.

Nah, untuk memperkuat kesan dan apresiasi saya terhadap Bunda Yati, sesuai tema akan saya gambarkan di sini.

Terlahir sebagai seorang gadis berkulit sawo matang di bulan ketiga tepat ketika mentari terbit adalah sebuah anugerah terindah. Waktu pun beranjak membimbing saya mendewasa. Sayangnya, orang sekitar kemudian tak mudah mengenali saya yang bertubuh sedikit lebih kecil dibanding adik perempuan saya satu-satunya. Lanjut membaca

Meja Kerja?

Suatu pagi (lupa tanggalnya, maaf..) saya mengintip sejenak Yahoo! Hm, biasalah update wawasan.. lalu tertarik pada sebuah tulisan (lebih tepatnya kumpulan gambar dalam galeri) bertema meja kerja. Ada yang tertarik? Klik link sebelah sini. WOW… saya tertegun. Rapi dan keren sekali ya. Pengen! :D Hm, saya sepertinya punya juga gambar meja kerja. Boleh iseng sore-sore saat saya sedang mengintip calon postingan, saya jepret-lah itu menurut angle yang saya mau. Ya, sekalipun lebih sempit sih, tapi bolehlah saya jadikan postingan hihihi :mrgreen:

Mau tahu seperti apa? Voila..!! :mrgreen:

meja kerja redaksi Phie

meja kerja redaksi

Lanjut membaca

28 & Kejutan Sederhana

“Mbak Jat, ayoo.. maem sik!”

Ning, adik pertama saya berteriak dari ruang makan. Tampaknya ia sudah bersiap bangun lebih pagi. Kaki Merapi memang sedang lebih dingin setelah semalam diguyur hujan. Lepas sholat Subuh, saya masih asyik di kamar. Membalas beberapa SMS ucapan, di antaranya dari Captain. Tahun lalu, ia menelepon.. tahun ini, semua seolah lebih kalem. Mungkin ia telah berhasil menyamakan ritme dengan kebiasaan saya. Ia meminta maaf karena tidak menyiapkan kado untuk saya. That’s ok, Capt.. Doa setulus hati itu jauh lebih berharga bagi saya. :)

Tidak biasanya, badan saya sedikit lungkrah. Sepekan sudah saya harus mengonsumsi obat dari dr. Titie Endarty. Hari ini kapsul antibiotik yang terakhir. Masih ada obat anti radang, batuk, dan anti alergi yang tersisa. Pfiiuuh.. setelah sekian lama, batuk dan nyeri dada sepertinya belum mau hengkang dari tubuh ini. Hm, saya memang harus bersabar. Besok kalau memang belum membaik, saya dipastikan kembali menjalani pemeriksaan. Lanjut membaca

Phie = Daihatsu Ceria?

Kamis, 8 Maret 2012.

Ada yang sedikit aneh hari ini. Menurut agenda, saya harus memenuhi janji pergi ke gedung sebelah. Maksud saya, gedung A2 untuk menemui bendahara redaksi dan beberapa karyawan jurusan. Saat  saya melewati sebuah lorong tepat di depan Laboratorium Entomologi Terapan.. tiba-tiba sesuatu terjadi. Saya teringat satu hal: DAIHATSU CERIA.

Daihatsu Ceria

Daihatsu Ceria

Apa hubungannya antara Lab. Entomologi Terapan dengan mobil Daihatsu Ceria? :?: Satunya tentang serangga, satu lagi otomotif.. lhaa ndak nyambung kan? Lanjut membaca

Antara Ibu, Merapi, Buku, dan Phie

Bulan Desember, bulan terakhir dalam hitungan tahun masehi ini selalu punya makna bagi tiap perempuan di Indonesia, utamanya yang telah menjadi seorang ibu. Lepas dari kepentingan politik atau apa pun, bulan Desember telah lekat dengan seseorang yang istimewa. Ya, siapa lagi kalau bukan ibu? Bagi saya pribadi menjadi sulung dari seorang ibunda bernama kecil Heni Astuti tentu berwarna sekali. Ibarat kata merangkai potongan kaca menjadi lembar-lembar mozaik indah. Saya suka mozaik. Tiap bagiannya boleh jadi berbeda, tetapi itulah yang menjadikan lukisan mozaik dalam bentuk apa pun selalu istimewa. Seperti itulah rasanya menjadi putri beliau selama ini.

Ibu-Merapi-Phie

Tentang ibu, ah.. selalu ada cerita mengesankan tiap waktu bersama beliau. Dari beliaulah saya tahu (dibuktikan pula dengan surat nikah beliau berdua :mrgreen: ) bahwa ibu dan ayah saya menikah tahun 1983. Setahun kemudian Tuhan benar-benar menitipkan saya menjadi putri beliau tepat di hari ke dua puluh satu, bulan ketiga; ketika itu matahari sedang asyik menggeliat di ufuk timur. Entahlah, sudah menjadi jatah suratan tangan saya seperti ini atau apa, tetapi yang ajaib sebelum kehadiran saya di dunia, ibu mengalami kejadian aneh. Waktu itu ibu memeriksakan keterlambatan haid beliau. Beliau ditemani ayah pergi ke RS Panti Nugroho, Pakem. Jaraknya ada sekitar 4,5 km dari rumah. Setiba di sana, tentu dengan harap-harap cemas beliau menanti hasil tes dokter. Alhamdulillah, positif! Bisa dibayangkan apa yang terjadi? Senang itu sudah pasti, tapi keanehan pun terjadi.

Ibu meminta ayah untuk menemani beliau pergi ke Kaliurang. Kaliurang adalah salah satu objek wisata alam berhawa sejuk di Jogja, letaknya sekitar 7 km dari puncak gunung Merapi. Dengan menggunakan angkot (kala itu baru ada bus Baker), beliau berdua pun menuju ke Kaliurang. Setibanya disana, bukan berenang di Telaga Putri, bukan belanja sate kelinci, bukan juga membeli madu hutan, atau makan jadah tempe sepuasnya. Bukan! Yang beliau tuju adalah hutan Merapi (saat ini bernama Taman Nasional Gunung Merapi, red.). APA??! Wanita hamil ngidam pertama kalinya naik gunung?! :shock: Lanjut membaca