Memasak? Satu kata ini bagi saya bukan barang asing. Sedari saya duduk di kelas 3 SD selalu saja merasa excited untuk mencoba dan bereksperimen dengan kompor dan penggorengan ibu.
Maklumlah beliau sering meminta saya menjadi asisten chef saat beliau menyiapkan menu makan keluaga sederhana kami. Keinginan untuk terus belajar, termasuk belajar memasak, selalu ada. Sayangnya, saya tidak selalu punya kesempatan masuk dapur tiap akhir pekan. Entah karena malas (faktor utama sepertinya
), atau juga karena ada kesibukan yang mesti saya selesaikan di luar rumah. Namun, bukan berarti saya tidak pernah sama sekali menyentuh dapur, tentu tidak. Ingat pesan ibu, yang namanya perempuan itu kodratnya kelak adalah mengurus rumah tangga dan memasak adalah salah satu bagian pentingnya.
“Setinggi apa pun kowe mau belajar.. mau sarjana S berapa pun, jangan pernah lupakan dapur..”
Oleh karena itu, sedikit-sedikit saya belajar memasak. Nah, salah satu resep andalan saya beri nama Sup Jagung Ceria. Memasaknya memang harus dengan ceria, saya meyakini bahwa suasana hati berpengaruh terhadap masakan. Hal ini membuat saya teringat pada kepercayaan leluhur bahwa bila seseorang memasak dan rasa masakannya asin, itu tandanya ia minta dinikahkan hehehe..
*lupakan!
Nah, seperti apa itu Sup Jagung Ceria ala Yu Pulen? Baiklah, mari kita mulai!
Lanjut membaca
