Catatan April di Akhir Pekan Pertama (3): Ahad & Jogging

Jumat : 3ST

Sabtu: Check up Ezy

Ahad: Jogging Yuk!

langit kaki Merapi nan cerah

langit pagi kaki Merapi nan cerah

Pagi di kaki Merapi long weekend ini cuaca cerah. Wah, sayang sekali bila dilewatkan. Setelah sekian lama vakum jogging, saya berjanji pada diri sendiri untuk merutinkan kembali aktivitas itu. Pokoknya setelah saya sehat, saya mau lanjut jogging lagi. Maka saya ajak Ning untuk ngos-ngosan Ahad pagi. Kalau bahasanya the Corrs sih Breathless. :mrgreen: Start dari rumah sekitar pk. 06.30 mengambil jalur timur kampung ke utara hingga SD Candirejo, lalu berbelok ke barat hingga bekas ternak ayam di perbatasan Candirejo-Candi Winangun. Kemudian kami berbelok ke utara lurus membelah hamparan tegalan Bonjotan-Nglanjaran hingga akhirnya kami tiba di kampus terpadu UII sekitar pk. 07.00. Ngos-ngosan itu sudah pasti, keringat mengucur membasahi kaus hitam yang saya kenakan. Rupanya ada yang kurang pemanasan. Engkel kaki kanan Ning sakit. Karenanya kami rehat sejenak di depan gedung D3 Ekonomi. Duduk-duduk melepas lelah sambil minum beberapa teguk. Sepi. Hanya seorang pemuda berkaus motif zebra menendang-nendang ban depan mobil birunya di seberang sana. Lanjut membaca

Catatan April di Akhir Pekan Pertama (2): Sabtu & Ezy

Jumat : 3ST

Sabtu: Check up Ezy

Kondisi saya yang tidak terlampau beda nyata semacam itu membuat saya merenteng sekian rencana di hari Sabtu. Di antaranya pergi mengecekkan kondisi Ezy yang sedang kurang fit. Setelah juragannya bolak-balik ke dokter, kini giliran Ezy yang harus check up. Bulan lalu stang Ezy patah, entah ada atau tidak hubungannya, tapi yang jelas rem depan Ezy tiba-tiba ngadat. Belum lagi akinya yang tahu-tahu soak setelah si rem depan ngambeg. Bagaimana saya bisa mengendara dengan normal tanpa kerja sama rem depan dan belakang yang baik juga lampu sign yang redup begitu? Saya memang harus bersabar, kondisi kantong belum mengizinkan. Baru setelah honor redaksi saya terima Kamis lalu, saya pun terpicu memilah beberapa hal untuk diprioritaskan. Minggu kedua April, insyaAllah, saya akan memulai lagi aktivitas dunia malam. Mengukur jalan menuju rumah siswa, mencumbui angin malam, dan itu berarti segala hal termasuk kondisi saya dan Ezy harus siap sedia.

Sedari pagi saya bersiap. Hei, ini sedikit istimewa karena saya juga menyiapkan sepucuk surat untuk Captain. Kali ini saya kirimkan via pos. Habisnya saya gemas, sudah beberapa hari saya dicuekin. Sehari setelah kiriman gaun cantik tiba di rumah, saya sempat kontak dengannya. Ia bertanya, “Bajunya ga motong po?” Setelah saya jawab.. eh, kambuh lagi tuh cuek bebeknya. Sementara itu, beberapa hari lalu saya bermimpi bertemu dengannya dengan cara yang amat aneh. Kadang bagi saya mimpi semacam pertanda. Saya khawatir ada apa-apa, makanya saya tanya, eh ndak dibalas juga. Yang bikin saya tidak habis pikir adalah saya ingat benar kronologis mimpi itu. Yang lebiih menyedihkan, sehari setelah mimpi itu saya bisa menangis sepanjang perjalanan pulang dari kampus karenanya. Duh Gusti ada apa ta ini? Sepertinya (lagi-lagi) ia sedang menguji kesabaran saya. Ok, saya jabani! Karena berkirim SMS dan telepon tidak ada respons.. Jadilah, saya kirimkan surat padanya. Sepertinya long weekend ini Captain ada acara mukernas di Bandung. Nanti setelah pulang biar saja dia baca kejutan kecil dari jauh. Nah, kalau dia tidak menemukan akun facebook saya karena deaktivasi yang sedang saya lakukan, entahlah apa yang akan terjadi. Hihihi :mrgreen: Lanjut membaca

Catatan April di Akhir Pekan Pertama (1): Jumat & 3ST

Di akhir pekan pertama bulan April 2012 yang memang boleh dibilang long weekend ini, ada beberapa hal gila terjadi. Baiklah, sebelum saya memaparkan segala hal gila tadi saatnya saya update kondisi terkini. Alhamdulillah batuk saya sudah reda, tinggal pemulihan. Saya minta rehat memberi privat malam hari selama hampir dua minggu. Beberapa siswa berikut orang tuanya sudah bolak-balik menghubungi saya. Alasan klasik: kangen! :mrgreen: Ah, saya juga kangen; sangat merindukan aktivitas itu. Saya memang harus bersabar menikmati rehat ini. Tidak ada acara keluar menggoda angin malam. Tidak ada acara menikmati akupuntur wajah oleh butiran hujan. Tidak ada moment iseng mengambil foto langit senja di tengah lahan persawahan. Itulah mengapa, saat saya ingat saya benar-benar free di long weekend ini, ide gila saya pun bermunculan.

Jumat: 3ST (Saya Sudah Siap Tepar) 

Saya merencanakan untuk tepar setepar-teparnya. Lho, mengapa? Saya baru ingat kalau sudah jadwalnya memenuhi permintaan Peri Cacing. Itu lho, yang suka di nongol di teve: iklan Combantrin (numpang nyebut merk ya :mrgreen: ). Terakhir kalinya membombardir cacing di saluran pencernaan saya, itu sekitar akhir tahun 2010. Hahaha sudah ada satu tahun lebih. Hm, siapa yang tahu ada apa di balik porsi makan yang (hampir selalu) besar padahal itu berarti berbanding terbalik dengan ukuran badan saya yang tetap mungil. :?: Saya curiga. :lol: Maka tanpa menampik tudingan kalau saya (sedikit) termakan iklan, saya pun meminta Ning untuk mampir membeli si obat cacing sepulang les. Mengapa juga dikatakan tepar setepar-teparnya? Saya ingat benar apa yang terjadi pada Ning kala dia menenggak dosis sekali minumnya obat cacing bernama alias Pirantel pamoat ini beberapa waktu lalu. Selama tiga hari Ning mengalami drop kondisi. Badan lemas, diare, hilang nafsu makan (anoreksia), pusing, dan mengantuk. Itu kan berarti tepar setepar-teparnya dalam bahasa gaul nan ringkas. Hm, saya terpikir jargon baru untuk obat ini: “Bukan sekadar obat pencahar:mrgreen:

pirantel pamoat

pirantel pamoat, bukan sekadar obat pencahar

Lanjut membaca