Berbicara = Memberi Sugesti

Setiap manusia “sempurna” diciptakan mampu berbicara dan menyampaikan maksud hati kepada sesamanya, termasuk jika suatu ketika Tuhan Yang Maha Esa memberi kesempatan manusia tersebut tumbuh mendewasa menjadi orang tua. Menjadi orang tua dari anak-anak yang cerdas, lucu, menggemaskan, penurut, dan selalu menyenangkan hati itu dambaan tiap pribadi, termasuk saya sebagai seorang mom wanna be. Namun, kita perlu ingat bahwa tidak setiap hal yang kita damba akan diperkenankan begitu saja oleh-Nya. Selalu saja ada upaya lebih yang sepertinya memang diharuskan Tuhan agar kita, hamba-Nya, memperoleh semua itu.

Lalu, upaya macam apa yang bisa kita lakukan sebagai lantaran agar tiap mimpi memiliki anak-anak manis itu terwujud? Satu di antaranya adalah menjaga cara  berbicara kepada mereka. Ini seperti yang telah disinggung juga oleh Pakde Cholik dalam sebuah postingan beliau berjudul Ucapan Orangtua yang Melemahkan Semangat Anak. Memang demikian, cara bicara atau ucapan orang tua sangat berpengaruh terhadap semangat si anak. Sebagai seorang tutoress saya pun mengalaminya sendiri. Saya belajar bagaimana semestinya menyampaikan materi sesuai gaya belajar siswa yang saya bimbing. Tidak mudah. Selama sewindu terakhir ini banyak hal yang saya dengar dari cerita orang tua siswa. Lebih banyak berisi keluhan. Yang beginilah, yang begitulah. Beberapa di antaranya berlebihan. Seperti menyebut kata “lamban”, juga (menurut mereka) daya dong-nya rendah. Sedih mendengar cerita semacam itu. Apalagi bila itu (tidak sengaja) disampaikan di depan anak yang dimaksud. Bukankah dengan mendengar orang tuanya berbicara seperti itu hanya akan membuat semangat si anak kian terpuruk? Bukankah lebih baik menerima anak-anak sesuai dengan kapasitasnya?  Lanjut membaca

Sehari Tanpa Ezy (1): Kelimpungan

Kamis pagi, 16 Februari 2012.

Jam dinding di kamar saya telah menunjuk pukul 07.58. Hayoo, saatnya bergegas meninggalkan kaki Merapi menuju kampus. Rencana saya Kamis sore saya akan membawa Ezy ke Prima Motor. Setelah Sabtu, 11 Februari lalu saya membawanya perawatan rutin, saya merasakan ada yang tidak beres dengan kondisi stang-nya. Semua terasakan sejak hari Senin, 13 Februari. Saya berpikir mungkin saja karena pas hari Sabtu itu bagian depan dashboard dibuka untuk mengganti lampu kota kiri-kanan dan teknisinya kurang memperhatikan kekencangan mur-bautnya. Sementara hari itu jadwal benar-benar padat. Sepulang ngantor, saya masih ada dua sesi jadwal les privat. Itu terjadi setiap Senin, Rabu, dan Jumat. Ya, berkutat dengan kegiatan mengajar hingga saya setidaknya berada di rumah kembali setelah pukul 20.00. Hm, kadang merasa lelah, tetapi saya telah dititipi amanah membimbing beberapa siswa semester ini. Jadi, Bismillah saja.. saya berharap diberikan kekuatan dan kesehatan sehingga bisa menemani Nasir, Ikang, dan Bagas belajar seperti apa pun kegiatan saya di kampus.

Ezy perawatan

Ezy perawatan di Prima Motor (11 Feb 2012)

Lanjut membaca

Celoteh Chef Ikang: “Mbak Jupi orang kampung ya?”

Akhir pekan, SENDIRI. Entahlah, bagi saya saat seperti itu tidak selalu identik dengan sedih, murung, patah semangat, atau sekian perasaan tak nyaman lainnya. Sendiri bagi saya merupakan saat merenung terbaik, saat mawas diri terindah. Seperti yang semalam saya alami. Penggalan percakapan santai dengan Fikar (lebih akrab disapa Ikang) sepanjang perjalanan pulang les terngiang-ngiang di telinga. Fikar? Siapa dia? Dia adalah siswa baru yang malam itu genap seminggu saya bimbing.

“Kenapa Mbak Jupi nggak biasa makan gorengan? Mbak Jupi orang kampung ya?” tanya Fikar.

“Mbak suka berdahak kalau makan gorengan terlalu banyak. Iya.. Mbak Jupi orang kampung..” jawab saya lugas.

Pertanyaan Fikar itu membuat saya bertanya dalam hati, Lanjut membaca

Sewindu Sudah

Dimulakan dengan syukur yang tiada terkira, Alhamdulillahi Rabbil’alamiin. Bulan ke delapan delapan tahun (baca: sewindu) yang lalu, saya mulai menapakkan kaki ke sebuah dunia yang hampir tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Memulai segalanya dari nol, layaknya kalimat iklan Pertamina dan saya mengabadikannya di sini. Bolehlah pada awalnya dikatakan kecemplung, tetapi dalam proses kecemplung itu saya menikmati banyak sekali hal-hal tak terlupakan bersama mereka yang sangat manis, siapa mereka? Mereka siswa-siswi saya, mereka mengingatkan saya pada sebuah lagu, Lilin Kecil.

♫ ..oh, mana kala..

mentari tua lelah berpijar..

oh, mana kala..

bulan nan genit enggan tersenyum

berkerut-kerut tiada berseri

tersendat-sendat merayap dalam kegelapan

hitam kini, hitam nanti

gelap ini akankah berganti

dan kau lilin-lilin kecil

sanggupkah kau mengganti

sanggupkah kau memberi

seberkas cahaya

dan kau lilin-lilin kecil

sanggupkah kau berpijar

sanggupkah kau menyengat

seisi dunia.. ♫ Lanjut membaca

Start From a Big Zero

nol besar
-Inilah Phie yang memulai segalanya dari NOL BESAR-

Awal Agustus 2003, pukul 08.00
Hari heregistrasi semester 3 telah tiba. Aku sedang bersiap, menyelesaikan sarapan pagi ketika sebuah ketukan terdengar dari pintu depan.

Tok..Tok..Tok..

“Assalamu’alaikum..!”

Ibuku menemui tamu itu.

“Eh, Mbak Mu’.. Wonten napa nggih?” tanya ibu kepada tamu yang ternyata Mbak Siti Mu’awanah.

“Dik Jatu wonten, Bu?”
Lanjut membaca