(Lagi-lagi) Menjelajah Kinahrejo

Long weekend di bulan Mei 2012 ini saya menghabiskan waktu dengan kesibukan dunia nyata yang aduhaai.. menyita tenaga dan membuat asam laktat menumpuk di sekujur tubuh *lebay :mrgreen: , tapi yang jelas fun itu sudah tentu. Okay then.. Saya akan mulai dari melampiaskan rasa kangen saya pada Merapi, juga pada Captain Cartenz hehehe *ngaku :P Habisnya minggu lalu ia mengunggah foto-foto kenangan saat tracking di Gunung Salak, Bogor tujuh tahun silam. Hm, seolah jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet beberapa waktu lalu mengingatkannya pada aktivitas di organisasi pecinta alam. Saya pun mupeng dibuatnya. Sekalian saja saya ajak Ezy, Mbak Susi dan si Biru, saya kan memang sudah beberapa bulan tidak menyambangi Merapi.. maka, tanpa banyak berbasa-basi, hari Jumat, 18 Mei lalu saya pamit pada Captain untuk refreshing sejenak di Kinahrejo. Katanya, “Hati-hati di Merapinya..” Siap, Capt..!! :D So? Saya tidak akan bercerita terlalu banyak. Biarlah foto-foto ini mengisahkannya untuk kita semua. Here they are.. :mrgreen: Lanjut membaca

Catatan April Akhir Pekan Kedua (1): Jelang Funwalk 1st Anniversary Tribun Jogja

 Kaki Merapi, Sabtu,14 April 2012, bakdal Maghrib

Sebuah SMS mampir ke inbox ponsel saya, bulik Is rupanya..

“Mbak Jatu, mbak Ning jadi ikut ndak? Wis tak daftarke lho

Hm, saya tahu bulik sudah menyiapkan yang terbaik untuk kami, dua keponakannya ini, agar bisa menginap di Jogja nol km dan keesokan harinya beramai menyemarakkan acara ulang tahun pertama Tribun Jogja. Namun, sebersit pikiran terlintas..

“Apa saya yakin kuat ya?”

Catatan: Saya tidak sedang meragukan keinginan. Saya suka jogging, suka jalan santai, dan sudah jauh-jauh hari meminta bulik mengajak saya dalam acara ini. Yang saya pikir itu bukan tanpa alasan, sedari pagi buta saya dilanda murus-murus berkelanjutan. Lha wong minum bukan sekadar obat pencahar (baca: pirantel pamoat)nya saja sudah sepekan yang lalu, masa iya sih efeknya masih tersisa dan ‘mengamuk’ sepekan kemudian? Bukankah itu mustahil? Yang ada, bisa jadi saya yang masuk angin karena telat makan atau mungkin keracunan? Keracunan? Oh, semoga tidak.. :cry:

Lanjut membaca

Sekilat Info (screenshot) FeMale Radio

WORO.. WORO…!!

facebook FeMale Radio

Bersama ini (screenshot) FeMale Radio mengabarkan sebuah berita hangat dari FeMale Radio. Berita ini berkaitan dengan acara FeMale Club Weekend yang akan diselenggarakan di 2 (dua) kota, yaitu Jogja dan Surabaya. Info selengkapnya cool Mom & Dad dapat menghubungi contact person yang telah disediakan pada screenshot-screenshot berikut ini. :mrgreen:

status FeMale Radio 2

status FeMale Radio

status FeMale Radio 3

status FeMale Radio 4

Demikian kiranya sekilat info (screenshot) FeMale Radio ini disampaikan. Ada kurang lebihnya, mohon dimaapkeun :mrgreen:

-Tulisan sekilat info (screenshot) ini ditulis oleh salah seorang sahabat FeMale untuk keperluan mendukung kegiatan FeMale Radio.
Tidak ada maksud lain, sueer! Kalau ndak percaya, sok atuh tengok yang ini.
Yang mau bergabung? Silakeun… :mrgreen: -

Kopdar Pertama: Antara SunMor & Pemotretan?

Berawal dari sebuah obrolan di dunia maya yang akhirnya bersambungan hingga bertemu di dunia sebenarnya. Semacam itulah kopdar alias kopi darat biasanya bermula. Seperti halnya yang saya alami beberapa waktu lalu. Kala itu seorang sahabat saya, Teh Hanie memposting sebuah tulisan tentang liburan tahun baru ke Jogja di blog barunya dan menyebutkan bawa si teteh menunggu saya di sudut Tugu Jogja. Wah, tidak disangka.. ketika itu saya sedang berada di Bandung memenuhi undangan seorang teman alumni pascasarjana UGM yang mengajar di Universitas Padjadjaran. Terharu rasanya dinantikan seperti itu. Itulah mengapa saya pun men-share-kan link postingan tersebut ke wall facebook, eh tak tahunya seorang sahabat lain yang juga berencana pergi ke Jogja memberikan komentar. Ya, ia adalah Amela. Seorang blogger asli Jember yang ditugaskan di Baubau, Sulawesi Tenggara.

Saya pikir Amela hanya iseng bercanda, mungkin ia sedang ingin ke Jogja karena banyak orang di luar kota sana juga suka kangen dengan Jogja. Kan ada lagunya :mrgreen:

Sementara itu beberapa waktu kemudian blogger Bandung kedatangan tamu seorang blogger dari bumi Borneo. Wah, saya kena colek Amela lagi. Hm, sepertinya yang bercanda iseng makin serius. Itu mengapa obrolan kami yang kala itu ngisruh di postingan Asop di Warung Blogger, saya pindah ke wall dilanjutkan dengan ber-inbox ria saling tukar nomor ponsel. Alhasil saya pun mendapat kenalan baru. Tadinya menyenggol Puch si empu the Petrichor dan Nandini “Atap Biru”, eh dapat kenalan Anniva dan Ais.

logo WeBe

*** Lanjut membaca

Tour de Kaliurang et Kinahrejo

26 Maret 2011

Senja nyaris membayangi hari ketika saya meminta izin ibu untuk menginap di Ngipiksari, Kaliurang. Ya, sore itu saya berangkat menjadi volunteer untuk acara praktikum lapangan Taksonomi Serangga Dewasa. Pesertanya adalah mahasiswa pascasarjana strata 2. Saya berangkat kesana karena diminta oleh koasst praktikumnya, siapa lagi kalau bukan mbak Vira.

“Sabtu ada acara, Jupi?” tanyanya waktu itu.

Nggak ada, Mbak? Kenapa?” jawab saya.

Nggak ada rapat pemuda?” tanya mbak Vira sekadar meyakinkan.

Nggak, pertemuan pemuda kampungkan biasanya Sabtu minggu pertama..”

***

Setelah telepon berisi lobbying itu berlalu hampir 2 minggu, saya pun berangkat langsung dari rumah meluncur ke Kaliurang bersama Ezy. Langit yang sedikit mendung tak menyurutkan niat saya untuk pergi. Janji adalah hutang dan saya memenuhinya, titik. Alhamdulillah meski Ezy bisa dikatakan motor tua, tapi urusan mendaki hingga Kaliurang ia masih bisa diandalkan. Beberapa bulan berlalu dari erupsi Merapi, saya masih saja penasaran dengan kondisi Ngipiksari. Jarak Ngipiksari kurang lebih 7 km dari puncak Merapi. Sore itu pun sedikit demi sedikit rasa ingin tahu saya pun terjawab. Setelah perjalanan dengan kecepatan sedang sekitar 30 menit, saya pun tiba di depan pintu gerbang Kaliurang. Tapi saya tidak lurus, melainkan belok kanan masuk ke gerbang BP2APH Ngipiksari. Suasana sepi. Hanya ada beberapa motor di tempat parkir juga 2 orang yang sepertinya sedang sibuk melakukan pengamatan di kebun anggrek. Yang praktikum ada di mana? Saya mengedarkan pandang ke sekeliling, berharap menemukan seseorang yang saya kenal.. Sayangnya.. NIHIL! Hmm, saya coba mengingat-ingat. Dulu saat saya memandu 8 praktikan Entomologi Dasar di tempat ini, kami semua berkumpul di aula. Ah, saya lajukan Ezy ke aula. Siapa tahu memang disana. Hoplaa! Saya melaju perlahan.. Hmm, separah inikah? Jalan ber-paving block menuju aula yang dulu mulus.. rusak parah. Wah, ini namanya belajar off road.. ok deh, siapa takut? Rupanya benar.. Saat saya landingdi depan aula, segerombol orang mendekat.. Ahaa.. itu Ika, Salman, dan yang lain.. ! Sepertinya mereka sedang memasang perangkap serangga malam. Sayangnya yang saya cari bukan mereka. Saya mencari-cari mbak Vira, ke mana tuh orang? Ternyata ada yang harus diurus: ruangan, penerangan, konsumsi. Pfiuhh.. Saya yang melihatnya jadi ikut pusing. Kami tidak mungkin tidur di aula. Debu-debu Merapi masih melekat di sana-sini, kalau dipaksakan bisa  kembang kempis dibuatnya. Lampu di sudut barat aula dekat tandon air masih mati. Instalasi listrik di tempat itu mengalami kerusakan cukup parah pasca erupsi. Keadaan yang serba terbatas.. ya memang sebaiknya dimaklumi.

bersama para praktikan Taksonomi Serangga Dewasa

bersama para praktikan Taksonomi Serangga Dewasa

Setelah masalah listrik terselesaikan, giliran konsumsi yang membuat koasst-nya pusing. Malam itu sebelum makan malam ada acara sortir serangga. Mbak Vira yang sibuk mengurus konsumsi memberi mandat saya untuk menjadi pengawas kegiatan sementara. Wah, panen tangkapan nih ceritanya. Saya melihat-lihat dan sesekali memberi komentar. Beberapa di antara mahasiswa belum memiliki basic ilmu Entomologi, maka bisa dimaklumi bila masih ada rasa canggung. Saya membantu sebisa saya, sesekali menilik kaca pembesar dan kunci determinasi serangga sembari berdiskusi.. So, watch the picture! I’m in black headcover, standing up in the center. :mrgreen:

*** Lanjut membaca

Tour de Ngancar

Sabtu, 22 Januari 2011

Hari masih pagi saat kami berjalan beriring menuju ke Jl. Agro. Seperti biasa, selepas latihan teater bersama teman-teman TanpaNama di kampus kami biasa berkumpul untuk makan pagi di sebuah warung makan, Bubur Ayam Gadjah Mada. Hari itu meski arloji saya sudah menunjukkan pukul 09.00, tetapi menu bubur di warung tersebut masih ada, Alhamdulillaah. Setelah memesan menu makan pagi (yang telat), kami duduk sambil ngobrol.

“Pik, hari ini ada acara?” tanya Mbak Vira.

“Habis ini? Pulang.. ga ada acara weekend, kaya ga tahu aku aja hehe..” jawab saya asal.

“Temani ke atas, yuk!” sahut Mbak Vira

“Ngapain, Mbak?” tanya saya masih dengan sedikit cuek.

“Survei lokasi buat Masalah Khusus..”

“Oh..”

“Bisa?”

“Boleh..” jawab saya sambil nyengir :mrgreen:

“tapi bentar ya, aku tanya rute ke atas yang aman, katanya banyak jembatan yang ambrol pasca erupsi”

Tangan saya sibuk memencet keypad ponsel. Beberapa SMS berlontaran keluar-masuk inbox. Untunglah info berhasil didapat setelah acara makan bubur kelar. Asyik!

*** Lanjut membaca

Jogja vs Kanker Serviks

Kanker serviks? Apa itu? Ilustrasi berikut ini semoga bisa membuat kita semakin mengerti betapa penting mengetahui seperti apa kanker serviks hubungannya dengan perempuan.

Aturan baca:

  1. Sebelum melanjutkan (disarankan) membaca istighfar dan menjauhkan rasa jijik atau berpikir tulisan ini tabu.
  2. Silakan meneruskan membaca bila Anda berusia setidaknya 17 tahun
  3. Anda yang merasa pria, tidak ada kelirunya ikut membaca

Lanjut membaca

Bembem I’m in Love

sungai Opak di pagi hari

sungai Opak di pagi hari

Malam temani sepiku beradu
Mengalun nada syahdu
Dari kekasih-kekasih tercinta-Mu

Adzan Isya’ ini berseru
Tegakkan kembali rapuh imanku
Sehabis Engkau luluhkan kotaku
Tempat bermukim saudaraku

Tuhan, kuyakin satu
Engkau tlah karuniakan yang terbaik
Untukku, untuk mereka
Untuk kami semua
Moga tiap hela nafas tersisa
Menjadi renungan tuk semua
Menjadi doa pembuka
Awal masa lebih bahagia

Bembem, 24 Juni 2006

Larik-larik puisi pembuka di atas sungguh membuatku merindunya. Ya, Bembem. Sebuah kampung yang terletak di Jl. Imogiri Timur. Tiada kusangka pada awalnya bahwa kampung ini yang menyematkan kenangan manis semasa KKN 5 tahun silam.

Semua bermula dari peristiwa gempa 5,9 SR pada Sabtu, 27 Mei 2006 yang memporandakan sebagian Jogja dan Jawa Tengah. Pagi itu tiada firasat apa pun. Pagi itu aku yang sedang asyik menambahkan tulisan di catatan harian di dalam kamar yang terkunci, kontan kaget.. GEMPA! Allaahu Akbar!! Begitu getaran semakin membesar aku berusaha melarikan diri dari dalam rumah. Masya Allaah, sulitnya! Tubuhku terguncang, badanku limbung. Berlari pun terpeleset sana-sini. Rabb.. tolong hamba!! Setelah beberapa detik dalam kepanikan luar biasa, akhirnya pintu pun bisa kubuka. Aku berlari menyambar kerudung, terbirit keluar rumah, melompat ke halaman, dan duduk jongkok di bawah pohon rambutan depan rumah. Beberapa detik kemudian Ning berlari dari kamar mandi keluar. Kami berpelukan. Dua lagi yang lain? Ibu? Di? Oh, syukurlah sudah menyelamatkan diri juga. Bumi berguncang sekitar 1 menit. Allaahu Akbar..!! Semua orang berlarian ke arah jalan, menjauhi bangunan rumah yang bisa saja ambruk oleh dahsyatnya kekuatan gempa. Lanjut membaca