Perempuan Jari Polah

Bu Piko. Semoga saya tak keliru mengingat nama sesosok perempuan yang menyambut saya dan kedua teman saya (Mbak Vira dan May) saat singgah di stand pameran pasar seni Sekaten awal Februari 2011 lalu. Awalnya iseng saja, lama-lama tertarik juga. Dari perbincangan kami sembari menunggu hujan yang mengguyur kawasan Jogja nol kilometer mereda, ada banyak sekali wawasan yang kami terima dari beliau. Salah satunya tentang Jari Polah. Jari Polah? Hm, saya sendiri awam dengan istilah itu. Apa ya?

Beliau pun menerangkan bahwa Jari Polah, akronim dari Jejaring Pengolahan Sampah, merupakan jejaring yang mengikat antar kelompok masyarakat yang mempunyai satu visi kebersamaan untuk mengolah sampah di Kota Yogyakarta. Secara filosofis, Jari Polah diartikan sebagai tangan-tangan yang bergerak aktif penuh kreativitas sehingga menghasilkan sesuatu yang bermanfaat dalam upaya penyelamatan lingkungan hidup. Hm, itu bisa dilihat dari banyaknya olahan sampah non organik, terutama plastik, yang kami lihat kala itu. Mulai dari celemek, berbagai jenis tas, dompet, tempat tisu, wadah koran/majalah, hingga topi dan gaun cantik yang terpajang sangat manis di sebuah manekin. Keren!

bersama Pak Kirtijadi & Bu Piko

bersama Pak Kirtijadi & Bu Piko

Lanjut membaca

Nyi Warsilah, Sepenggal Kisah

Di sebalik riuh pasar, ada mereka
perempuan-perempuan perkasa
Demi kepul dapur dan roda rumah tangga
rela menikam penat dan bekerja

Mengamati mereka,
seperti melongok kisah ibunda
tentang sesosok lain perempuan perkasa
Ia penyambung nyawa, penafkah keluarga
saat suaminya hilang kesadaran
kar’na dijegal seterunya

Adalah Nyi Warsilah, namanya
Ahad pahing, hari lahirnya

Lanjut membaca

Earth Hour, Satu Jam untuk Bumi Kita

Sesuatu yang tak asing tiba-tiba mampir di inbox e-mail saya tepat hari Rabu, 15 Februari lalu. Kita lihat seperti apa itu..

invitation earth hour WWF

invitation earth hour WWF

Ya, sebuah undangan via e-mail saya terima dari World Wildlife Fund (WWF). Sejak beberapa bulan belakang (mulai pertengahan 2011, red.), saya menjadi subscriber WWF. Tiap kali ada kegiatan atau isu hangat, selalu ada pemberitahuan via e-mail. Untuk yang kali ini, ini istimewa! :mrgreen: Karenanya saya menjadi terinspirasi untuk ngulik apa saja tentang Earth Hour itu. So? Here we go.. Saya pun klak-klik sana-sini untuk menelusur lebih jauh seperti apakah gerakan Earth Hour itu.

*** Lanjut membaca

Sekilat Info (screenshot) FeMale Radio

WORO.. WORO…!!

facebook FeMale Radio

Bersama ini (screenshot) FeMale Radio mengabarkan sebuah berita hangat dari FeMale Radio. Berita ini berkaitan dengan acara FeMale Club Weekend yang akan diselenggarakan di 2 (dua) kota, yaitu Jogja dan Surabaya. Info selengkapnya cool Mom & Dad dapat menghubungi contact person yang telah disediakan pada screenshot-screenshot berikut ini. :mrgreen:

status FeMale Radio 2

status FeMale Radio

status FeMale Radio 3

status FeMale Radio 4

Demikian kiranya sekilat info (screenshot) FeMale Radio ini disampaikan. Ada kurang lebihnya, mohon dimaapkeun :mrgreen:

-Tulisan sekilat info (screenshot) ini ditulis oleh salah seorang sahabat FeMale untuk keperluan mendukung kegiatan FeMale Radio.
Tidak ada maksud lain, sueer! Kalau ndak percaya, sok atuh tengok yang ini.
Yang mau bergabung? Silakeun… :mrgreen: -

Whoever You are, I Love You, Mom: Sebuah Pengakuan Anak Perempuan

Judulnya sederhana, Whoever You are, I ♥ U, Mom. Sebuah buku karya Iris Krasnow ada di pangkuan saya petang itu, mengisi sejenak waktu sembari menonton kartun The Incredibles. Sebenarnya sudah sejak Mei 2011 buku ini hadir. Seorang teman membingkiskannya untuk hadiah ulang tahun. Hm, ulang tahun saya bulan Maret tapi yang aneh kadonya baru tiba bulan Mei. Hei, sekalipun bagi sebagian orang ini aneh, tapi haruskah saya menolak pemberian seorang teman? Rezeki tak boleh ditolak, pamali, begitu kata orang tua. :mrgreen:

Whoever You are, I Love You, Mom

Whoever You are, I Love You, Mom

Ibu. Ya, tema ini bagi saya tidak akan ada habisnya. Menulis tentang ibu, secara umum dan khusus, hampir selalu menjadi tema menarik yang tidak akan pernah membuat saya mengerti mengapa saya dan tiap manusia di bumi ini mesti terlahir dari seorang ibu. Mengapa bukan ayah yang harus melahirkan? Ah, pertanyaan konyol macam begini tidak akan pernah saya dapatkan jawabannya. Lebih baik, saya menerima bahwa yang melahirkan itu disebut ibu, begitulah konvensi yang berlaku di dunia ini. That’s all.. No objection received!

*** Lanjut membaca

Mendadak Nyindhen di FeMale Radio (2): Kejutan Kecil untuk Sang Musisi

Ini adalah kelanjutan kisah dari jejak suara saya di FeMale Radio. Kalau Senin pagi itu, saya benar-benar mendapat kejutan karena mendadak nyindhen, berbeda dengan dua hari setelahnya. Ya, tepatnya hari Rabu, 11 Januari 2012. Siang itu saya baru saja selesai makan siang di Warung Lestari bersama mbakyu Susi Melina, salah seorang mahasiswi program doktoral Fakultas Pertanian. Saya pikir, “Siapa sih yang menelepon?” Karena saya sedang membayar, ya sudah terpaksa saya abaikan (maaf.. :mrgreen: ), tapi lagi-lagi ponsel berdering saat kami menuju tempat parkir. Kira-kira seperti ini percakapan saya dengan nomor berkode Jakarta tersebut.

“Mbak Palupi, ini dari FeMale Jakarta. Mbak, besok Gery mau telepon lagi. Kami mau minta tolong besok nyindhen lagi ya.. ON AIR seperti hari Senin kemarin..” kata yang di seberang sana.

“Lhoo.. ada apa, Mas?” jawab saya antusias setengah celingukan.

“Kami besok akan ada tamu musisi jazz.. Kami mau nantang beliau untuk bisa nyindhen seperti Mbak Palupi.. Gimana, Mbak bisa?”

“Nggih, insyaAllah bisa.. Pagi ta? Jam berapa ya?”

“Jam 9 ya, Mbak.. Makasih, maaf mengganggu”

Klik!

***

Suara di seberang sana sudah berhenti. Pandangan mata saya tertuju pada Mbak Susi yang berada tepat di samping saya berdiri. Ya, mencoba meyakinkan diri bahwa yang baru saja terjadi itu bukan sebuah mimpi. Eh lha dalah! Lanjut membaca

Mendadak Nyindhen di FeMale Radio (1): Terima Kasih, Hijau!

Senin pagi, sudah barang tentu hari pertama di awal pekan ini membuat siapa saja sibuk, tidak terkecuali saya. Tapi lain dengan Senin sebulan yang lalu, tepatnya 9 Januari 2012. FeMale RadioSekalipun masih asyik dengan persiapan menuju kantor, saya selalu menyempatkan untuk mendengarkan siaran FeMale Radio. Ya, program Your Morning Coffee (disingat YMC) yang dipandu oleh Gery Puraatmadja memang punya cara memikat saya. Hehe bolehlah kalau tulisan ini sekaligus testimoni saya sebagai pendengar setia Your Morning Coffee. Salah satu segmen acara anak yang dikemas pula dalam Your Morning Coffee pernah saya tulis sedikit di sini sebelumnya. Kali ini giliran segmen yang lain. Lepas pukul 07.00 biasanya akan ada segmen acara lain untuk “cool Mom and Dad” (sebutan pendengar dewasa FeMale Radio). Hal yang sama pun terjadi pada hari Senin itu. Sebuah tema sederhana (hm, mungkin juga sedikit nyleneh :mrgreen: ) dilontarkan Gery kepada pendengarnya,

“Menurut Ladies, apakah berbicara dengan tanaman itu hal yang aneh?”

Hmm, saya tergelitik dan segera saja mengirimkan sebuah SMS

“YMC Palupi Yk Tidak aneh, Paman Gery. Saya suka tanaman, bicara bahkan menyanyi untuk mereka. Apa salahnya? Toh mereka sudah membagi oksigen untuk kita semua.”

Satu kebiasaan saya setelah mengirimkan SMS adalah meninggalkan ponsel di kamar untuk kembali beraktivitas, kecuali bila memang penting bisa saya bawa-bawa sampai dapur. Saya hampir saja masuk ke kamar mandi, ketika sekitar lima menit kemudian ponsel saya berdering. Hei, nomor Jakarta! Siapa ya? Lanjut membaca

Klanduhan & Dilema Diaper (2)

Kisah sebelumnya…

Diaper oh, diaper.. Hm, saya mendadak galau… Klanduhan, mengapa nasibmu seperti ini? Dulu dikeruk diambil pasirnya secara besar-besaran. Tempat kami mencuci tikar itu dulu bentuknya serupa empang sedalam hampir 2 meter atau bisa jadi lebih. Sekarang rata, hanya beberapa batuan besar menjadi hiasan. Tidak ada deras air menari-nari seperti dulu. Belum lagi hadiah sampah yang kami jumpai di sepanjang aliran Klanduhan. Bukan rahasia lagi dengan kebiasaan membuang sampah di sepanjang aliran sungai di Indonesia, Klanduhan pun tak terkecuali. Bila disusur lebih ke hulu, kami akan menjumpai sebuah jembatan tepat memisahkan 2 kampung, Candirejo dan Ngangkruk. Di bantaran kali sebelah timur, tepat di sebelah bendungan kecil, tampak sampah menggunung. Ironisnya di sana sudah ada tanda larangan, tapi tetap saja penduduk sekitar membuang sampahnya di tempat itu, masyaAllah.. sekarang ditambah dengan banyaknya sampah popok sekali pakai. Ckckck.. kalau sehari semalam saja seorang anak balita menghabiskan 10 buah popok (bercermin dari apa yang kami lihat dari fakta dalam kisah sebelumnya); mari coba hitung untuk sebulannya, 10 x 30 hari = 300 sampah popok. Kalau dalam 1 kampung saja rata-rata ada 20 balita dengan kebiasaan penggunaan popok yang sama, itu berarti dalam sebulan saja setidaknya ada 6.000 sampah popok dan setahunnya tinggal dikalikan 365 hari, total jendralnya 2.190.000 (baca: dua juta seratus sembilan puluh ribu) sampah popok!!!! :shock:

diaperAstaghfirullaahal’adhiim.. Apa yang sedang terjadi? Apa ini semua terjadi akibat konsumen hanya melihat dari sisi kepraktisan? ‘Toh, suatu ketika sampah tersebut akan menyatu kembali dengan tanah..’ argumen semacam ini biasanya muncul di tengah masyarakat awam. Memang segala sesuatu akan kembali menjadi tanah, tapi apa iya kita mesti membiarkan mereka mencemari lingkungan? Dilihat dari bahan pembuatnya yang sebagian terdiri dari lapisan plastik, menurut banyak sumber terpercaya setidaknya perlu waktu 500 tahun hingga bahan tersebut terurai ke lingkungan!! (What??! :shock: ) Lalu, apa iya selamanya kita ini bertahan menjadi kalangan awam? Seolah-olah kata awam itu menjadi dalih alias tameng bahwa orang awam dimaklumi bila melakukan kesalahan. Menurut saya, mana bisa begitu? Bukankah semestinya kita belajar dari kesalahan, lalu berusaha mengetahui mana yang benar? Lanjut membaca