Merayakan 14 Tahun PRAS

Sebuah tas kertas ia angsurkan ke arah saya. Sebuah tanda mata dari seberang sana, tanah Banjar, Kalimantan Selatan. Senyum saya merekah sembari menghujaninya dengan ucapan terima kasih. Hahaha, entahlah, kadang saya bisa berubah lebay karena tak tahan diperlakukan manis oleh orang-orang terdekat. Ia memberikan kain Sasirangan. Katanya itu kain khas Banjar. Hmm, saya speechless jadinya. Itu ke sekian kali ia menghadiahi saya cenderamata khas Banjar, setelah sebelumnya bros dan gantungan kunci. So sweet benar orang ini! :oops:

O ya, saya belum memperkenalkan si pemberi hadiah. Namanya Rini Budi Astuti, sapa saja ia Rini.. meski beberapa waktu terakhir ia justru menambahkan sebuah kata asing di depan nama panggilannya. Jadilah akun facebook-nya sekarang Diang Rini. Whatever, bagi saya ia tetap sahabat lawas yang hingga kini tetap hangat.

Petang itu kami bertemu setelah sekian bulan lamanya berpisah. Kami janjian bertemu untuk membeli kado. Dua hari setelahnya, 1 Mei 2013, adalah ulang tahun Sukarni, dan di hari itu ia mengundang kami untuk bereuni. Alasannya sih biar pas dengan hari Buruh Internasional…, padahal saya ingat itu hari istimewa untuknya; hanya saja, saya tidak mau berkoar-koar.. lihat saja nanti saat hari H. :mrgreen: Lanjut membaca

Sepenggal Cerita: Kopdar TDA Jogja dan Freelancer Indonesia

Bicara tentang kopdar tentu bukan barang baru bagi blogger, tetapi acara kopdar kali ini bukan sembarang kopdar. Melibatkan Freelancer.com—sebuah market online untuk outsourcing dan crowdsourcing bagi usaha kecil-menengah terbesar di dunia—komunitas Tangan di Atas (TDA) Jogja menghadirkan sebuah acara sharing ilmu yang dikemas secara elegan di Edu Hostel, Jl. Ngampilan. Acara ini dilaksanakan pada Jumat, 26 April 2013 pk. 18.00 s.d. selesai.

Ini adalah pertama kalinya saya datang mewakili komunitas blogger, Kumpulan Emak-emak Blogger (KEB). Beberapa waktu sebelumnya Freelancer.com memang telah menggelar acara serupa di Jakarta dan Bandung. Saya yang tahu informasi tersebut, ya cukup tahu saja sambil mupeng. Maka, ketika beberapa waktu kemudian makmin Lusi memposting berita ini di grup, saya buru-buru mendaftarkan diri. Kapan lagi sih saya mendapat kesempatan sebagus ini? Seingat saya dari KEB kala itu tercatat enam orang yang mendaftar. Wah, bisa sekalian digunakan untuk kopdar nih. :mrgreen:

Jadi, seperti apa jalannya acara sharing tersebut? Acara dimulai sekitar pk. 18.00  dengan serangkaian registrasi ulang yang unik. Saya katakan unik karena baru kali ini saya melihat pendaftaran acara dibuat full have fun! Usai membubuhkan tanda tangan di lembar registrasi ulang, para peserta diminta untuk mendaftarkan diri lewat akun facebook, like fanpage Freelancer.co.id dan mendaftar di website Freelancer.co.id. selanjutnya? Photobooth sudah menanti! Ya, seru-seruan begitu diambil foto sebagai dokumentasi acara.

Usai menyelesaikan pendaftaran, Tha dan saya bertemu dengan tiga orang emak blogger, Mak Lies Wahyuni, Mak Ika Koentjoro, dan Mak Reni Judhanto. Inilah yang dinamakan kopdar di dalam kopdar hahaha. :lol: *abaikan!*

Kami pun duduk berdekatan, lalu bergulirlah obrolan hangat. Bisa? Bisa saja, inilah seninya menjadi  blogger, bahkan meski baru sekali itu bertemu. Ternyata Mak Lies dan Mak Ika menyempatkan diri hadir dari Purworejo, sementara Mak Reni berhasil ‘mengakali’ jadwal dinas kantor dan jauh-jauh datang dari Madiun. Wah, salut saya buat emak-emak energik ini! *angkat dua jempol*

Di antara keramaian suasana, saya sempatkan mengajak salah seorang panitia (mbak Tiara) untuk berkenalan dengan emak-emak yang lain. Antuasias, lagi-lagi itu yang berhasil saya tangkap. Biasanya begitulah tipe orang socialita *peace! :mrgreen: Lanjut membaca

Bersama Menanam Cinta di Bukit Menoreh

*Sebuah catatan sebelum waktu bergulir terlalu jauh dari bulan Februari.

Februari. Bulan kedua ini bagi orang-orang identik dengan bulan cinta. Mungkin ya, mungkin juga tidak. Saya termasuk yang tidak merayakan hari Valentine. Namun, bagi saya sah-sah saja mempergunakan event ini sebagai salah satu pengingat kembali bahwa manusia takkan bisa hidup tanpa alam sekitar. Mumpung akhir pekan tak ada agenda lain, maka jadilah saya ikut serta.  Nama acaranya “Menanam Cinta di Bukit Menoreh” (#MCBM). Sekali mendengar nama kegiatan ini, senyum di bibir saya mengembang penuh. Bukan, ini bukan sekuel cerita  karya SH Mintardja, Api di Bukit Menoreh; tapi lebih dari itu. :mrgreen:

Acara yang digagas oleh Walhi Jogja dan Sahabat Lingkungan ini mengambil lokasi di salah satu desa binaan Walhi Jogja; tepatnya di dusun Selorejo, desa Ngargoretno, kecamatan Salaman, Magelang. Waktunya? Sesuai e-poster, kegiatan dilaksanakan pada hari Ahad, 17 Februari 2013.

e-poster #MCBM

e-poster #MCBM, dok. Sahabat Lingkungan

Lanjut membaca

Cooking with Love Bareng Akber Jogja

10 Februari 2013. Hei, akhir pekan (lagi)! :mrgreen: Kalau teman-teman D’Blogger (komunitas detik blogger) hari ini berkumpul di ibukota sana, saya yang memang di daerah cukuplah berpuas hati dengan acara belajar memasak. Sebenarnya pengen juga bisa datang, “Mumpung setahun sekali!” begitu kata bang Jay dan adminnya Dblogger kemarin saat kami sempat berbincang via twitter. Ya, mau bagaimana lagi coba. Nasib di daerah. Hehe daripada bad mood gara-gara menggerutu tak jelas, lebih baik saya mengisi akhir pekan ini dengan sesuatu yang bermanfaat. Apa itu?

Nama acara ini “Cooking with Love”, diselenggarakan oleh Akademi Berbagi Jogja (@akberjogja) bekerja sama dengan RedBerries, @resepmini, dan disponsori oleh majalah Sekar. Bukan sembarang acara belajar memasak, yang satu ini istimewa karena menu yang dimasak berbahan COKELAT! :wink: Sebagai penggemar cokelat, saya tak boleh ketinggalan dong! :D Maka, saya mengajak Mel untuk datang ke lokasi, RedBerries. Gratis! Haha suka deh pokoknya dengan yang gratisan, maka cukup dengan me-mention panitia. Setelah dikonfirm, langsung datang ke lokasi.

mention saja, lalu datang ke TKP

mention saja, lalu datang ke TKP

denah ke RedBerries

denah ke RedBerries

Lanjut membaca

Yuk, Bantu Orangutan dengan Produk RSPO!

Bicara tentang Indonesia, kita akan kembali mengingat istilah “Jamrud Khatulistiwa” berikut sekian banyak karunia Tuhan Yang Maha Esa atas kehidupan dan alam selaksa surga. Koes Plus dalam lagunya pun tak luput menyatakan,

Orang bilang tanah kita tanah surga

Tongkat, batu, dan kayu jadi tanaman

Seperti itulah Indonesia. Saking kayanya, bahkan batu dan kayu pun jadi aset berharga. Namun, seiring dengan perkembangan zaman dan meningkatnya populasi serta kepentingan manusia, tak jarang kekayaan tinggal kekayaan.. Hendak lestari atau tidak, semua kembali pada manusia yang mempergunakannya. Kadangkala ketika manusia telah gelap mata, apa pun dipergunakan untuk mendapatkan apa-apa yang diinginkan, termasuk mengeruk kekayaan alam demi memenuhi pundi-pundi sekelompok orang.

Sungguh amat disayangkan bila menilik hal-hal yang terjadi di luar sana. Kepentingan manusia lebih sering diutamakan dibanding kepentingan makhluk lain. Padahal kalau kita mau menilik lebih dekat, kehidupan yang seimbang dan harmonis justru bukan karena hanya manusia yang sejahtera, tetapi makhluk lain di sekitarnya juga bisa hidup damai berdampingan. Pernyataan ini tentunya mengingatkan kita pada nasib salah satu hewan asli Indonesia, orangutan. Lanjut membaca

Di Balik Manisnya Madu Hutan Raya

Nama beliau, Waluyo Sitiadi. Seorang difabel yang sukses menjadi pengusaha madu dengan brand Madu Hutan Raya [@maduhutanraya]. Saban harinya pak Waluyo menjajakan madu keliling. Beberapa kali saya melihat beliau membawa dagangannya melintas di Jl. Kaliurang, akses utama dari pusat kota Jogja menuju obyek wisata Kaliurang. Kadang sendiri, kadang pula ditemani oleh istri dan putra/putri beliau.

produk Madu Hutan Raya

produk Madu Hutan Raya

Jauh sebelum saya mengenal beliau, saya hanya bisa melihat dari kejauhan beliau membawa madu. Entah.. tetapi tiap kali melihat beliau berkeliling, ada rasa kagum sekaligus malu di dalam hati. Kagum, karena beliau terus bekerja keras dengan segala kekurangan fisik yang beliau sandang. Seolah tidak ada sedikit pun yang boleh menghalangi beliau mencari nafkah untuk keluarga. Malu, karena sejauh ini saya yang dikaruniai anggota tubuh lengkap, masih saja merasa belum melakukan apa-apa. Tanpa beliau sadari, saya mulai mencuri semangat itu. Ah, saya berharap semoga pak Waluyo tidak mempersoalkan ini, semoga.

Meski demikian, kala itu belum terpikir untuk menjadi pelanggan Madu Hutan Raya. Padahal sebagai konsumen madu, saya telah mencoba berbagai produk madu. Mulai dari madu Nusantara, Arba’in, Flora, dll. Saat saya melihat beliau mulai menjajakan madu beberapa tahun lalu, terpikir dalam benak untuk mencoba juga keaslian produk Madu Hutan Raya ini, entah kapan.

*** Lanjut membaca

Review Buku (ala Phie): Harmoni di Balik Meja

Pengantar

Hari itu, 14 Juni 2011, seorang sobat blogger yang berdomisili di Jakarta menge-tag sebuah foto, Harmoni di Balik Meja. Rupanya inilah buku pertama teh Ani Berta. Buku bersampul merah tua itu setahun kemudian, tepatnya tanggal 24 September 2012, akhirnya saya pesan dan awal Oktober tiba di kaki Merapi. Setibanya di rumah, hm.. bergegas saya menanyakan biayanya. Menurut teh Ani, totalnya Rp 37.000,00 (termasuk ongkir ke Jogja). Namun, entah bagaimana teh Ani berubah pikiran. Buku ini digratiskan untuk saya, tentu dengan syarat: membuat review-nya :D

Tanggal 8 Oktober 2012, tepat dua bulan lalu, saya membuat janji.. dan hari ini (setelah saya pikir ugh, saya benar-benar kebangetan.. bukan lupa, saya pun melunasinya! yes!). Baiklah ini dia review buku Harmoni di Balik Meja (ala Phie) :)

***

buku Harmoni di Balik Meja (foto oleh Ani Berta)

buku Harmoni di Balik Meja (foto oleh Ani Berta)

Judul: Harmoni di Balik Meja
Penulis: Anny
Penerbit: Sekar Publishing
Tebal: 100 halaman
Harga: Rp 30.000,00 (belum temasuk ongkos kirim) Lanjut membaca

Dua Tahun Bersama Rumah Yatim Ar Rohman

Menjadi anak yatim itu bukan cita-cita. Itu yang saya rasa sendiri. Kehilangan ayah di usia yang semestinya butuh didampingi tentu bukan sebuah hal yang mudah. Mesti berusaha agar bisa bertahan bersekolah dan mewujudkan mimpi-mimpi beliau. Semua butuh usaha dan upaya. Tidak selalu lancar, tapi dari situlah saya belajar mengerti bahwa hidup memang didesain Rabb seperti permukaan jeruk purut, berkerut, banyak guratan, tidak rata, tidak juga mulus selayak jalan tol. Sekalipun demikian, saya percaya dalam setiap kesulitan disertakan jalan mudah oleh-Nya.

Sepanjang perjalanan, saya pun dipertemukan dengan beberapa penyandang dana beasiswa hingga akhirnya tercapailah semua mimpi alm. ayah. Betapa saya merasa teringankan melewati liku hidup oleh karena bantuan mereka, pihak-pihak yang berhati mulia. Pertolongan mereka perlahan menggerakkan hati saya. Dalam diri saya berjanji, suatu ketika nanti saya ingin menjadi seperti mereka; memiliki hati yang sekalipun kecil tetapi cukup lapang dan teduh untuk memberi naungan kepada orang-orang sekitar yang membutuhkan. Bilamana itu? Lanjut membaca