Kisah sebelumnya…
Diaper oh, diaper.. Hm, saya mendadak galau… Klanduhan, mengapa nasibmu seperti ini? Dulu dikeruk diambil pasirnya secara besar-besaran. Tempat kami mencuci tikar itu dulu bentuknya serupa empang sedalam hampir 2 meter atau bisa jadi lebih. Sekarang rata, hanya beberapa batuan besar menjadi hiasan. Tidak ada deras air menari-nari seperti dulu. Belum lagi hadiah sampah yang kami jumpai di sepanjang aliran Klanduhan. Bukan rahasia lagi dengan kebiasaan membuang sampah di sepanjang aliran sungai di Indonesia, Klanduhan pun tak terkecuali. Bila disusur lebih ke hulu, kami akan menjumpai sebuah jembatan tepat memisahkan 2 kampung, Candirejo dan Ngangkruk. Di bantaran kali sebelah timur, tepat di sebelah bendungan kecil, tampak sampah menggunung. Ironisnya di sana sudah ada tanda larangan, tapi tetap saja penduduk sekitar membuang sampahnya di tempat itu, masyaAllah.. sekarang ditambah dengan banyaknya sampah popok sekali pakai. Ckckck.. kalau sehari semalam saja seorang anak balita menghabiskan 10 buah popok (bercermin dari apa yang kami lihat dari fakta dalam kisah sebelumnya); mari coba hitung untuk sebulannya, 10 x 30 hari = 300 sampah popok. Kalau dalam 1 kampung saja rata-rata ada 20 balita dengan kebiasaan penggunaan popok yang sama, itu berarti dalam sebulan saja setidaknya ada 6.000 sampah popok dan setahunnya tinggal dikalikan 365 hari, total jendralnya 2.190.000 (baca: dua juta seratus sembilan puluh ribu) sampah popok!!!!
Astaghfirullaahal’adhiim.. Apa yang sedang terjadi? Apa ini semua terjadi akibat konsumen hanya melihat dari sisi kepraktisan? ‘Toh, suatu ketika sampah tersebut akan menyatu kembali dengan tanah..’ argumen semacam ini biasanya muncul di tengah masyarakat awam. Memang segala sesuatu akan kembali menjadi tanah, tapi apa iya kita mesti membiarkan mereka mencemari lingkungan? Dilihat dari bahan pembuatnya yang sebagian terdiri dari lapisan plastik, menurut banyak sumber terpercaya setidaknya perlu waktu 500 tahun hingga bahan tersebut terurai ke lingkungan!! (What??!
) Lalu, apa iya selamanya kita ini bertahan menjadi kalangan awam? Seolah-olah kata awam itu menjadi dalih alias tameng bahwa orang awam dimaklumi bila melakukan kesalahan. Menurut saya, mana bisa begitu? Bukankah semestinya kita belajar dari kesalahan, lalu berusaha mengetahui mana yang benar? Lanjut membaca →