Delapan hari pun berlalu….
Sasti melangkah pergi. Mencoba menutup pintu pagar sebuah rumah, tapi tak berhasil. Tak elak, ia tinggalkan pintu pagar itu menganga. Sesaat deru sepeda motornya menghambur di tengah rinai hujan. Hatinya mendidih. Terasa begitu perih. Sesampai di rumah, dengan langkah terburu ia masuk ke kamar bercat biru laut. Dihempaskan tubuh mungilnya itu ke atas dipan. Sebentar kemudian tergugu ia. Bahunya terguncang-guncang menahan deras air mata. Terus. Terus dan terus…. Basahlah sprei hijau kesukaannya. Sementara tangisnya belum juga reda, dicopotnya kerudung putih dan kacamata yang sedari tadi setia menemani meringkuk sedih. Sendiri, di sudut kamar. Dari atas dipan Sasti melihat nanar sebuah kantong berwarna ungu tergeletak pasrah di atas meja belajarnya. Kantong kain yang mengingatkannya pada kejadian setengah jam sebelumnya, di sebuah teras rumah.
