Di Balik Layar: Saya dan #PuisiHore2

PuisiHore2? Ya, nama acara ini adalah #PuisiHore2. Sudah sebulan berlalu, tetapi masih segar dalam ingatan. Karena tantangan inilah akhirnya saya membuat rumah maya ketiga (Larik Syair) yang berisi karya puisi. Bolehlah itu disebut sebagai portfolio online. :mrgreen: Sebenarnya di blog utama ini banyak juga puisi yang saya tulis, terutama di tahun-tahun pertama saya nge-blog. Puisi jadul dari zaman saya kuliah semester pertama (tahun 2002/2003) ada di Segores Pena Phie ini.

O ya, saya penganut aliran “practice makes perfect”, jadi kalau saya sering mendadak mellow di manapun saya suka, itu bukan karena saya pujangga kesiangan, tetapi itu karena saya sedang belajar menggombal #eh :lol:

Baiklah, lupakan intermezo menyesatkan barusan! :lol:

#PuisiHore2 adalah kelanjutan dari tantangan #PuisiHore yang diselenggarakan oleh @aa_muizz dan @acturindra pada bulan November-Desember tahun 2012. Saya menemukan tantangan ini lewat twitter. Sebelumnya memang atas info dari seorang sedulur Warung Blogger, alhamdulillah, tertantang juga saya hehehe. Cuma, kalau ada yang mengira bisa melunasi tantangan ini hanya dengan sekali bikin puisi, setor ke blog penyelenggara, lalu habis perkara (seperti layaknya ikut giveaway), berarti kudu diluruskan terlebih dulu.

#PuisiHore2 bukan seperti giveaway biasanya. Durasi tantangan sekitar empat minggu. Per minggunya ada dua kali tantangan di hari berbeda. Tiap peserta diberi waktu tiga hari untuk menyelesaikan tantangan. Tantangan diberikan di akun twitter penyelenggara setiap hari Rabu (tenggat hari Jumat) dan Sabtu (tenggat hari Selasa). Yang seru, tiap tantangan memiliki temanya sendiri. Hahaha kelabakan juga awalnya, tapi take it easy-lah… namanya juga usaha, iya kan? :D

Oke, saya akan melakukan perjalanan kilas balik sejenak. Wanna join? Let’s go!!  Lanjut membaca

Urung

police-line-do-not-cross-handcuffs1

credit

Gubraak!! Seorang gadis tersungkur memeluk sepeda onthel-nya. Seorang lelaki berbadan tegap buru-buru turun dari sepeda motor. Bhirawa, baru sehari itu ia kembali dari Surabaya dan memutuskan melepas rindu selama sepekan di Jogja, kota kelahirannya. Sedang ketiban sial, motor yang dikendarainya oleng. Maunya menghindari seekor anjing yang menyeberang jalan, tetapi malah ia sendiri menyerempet orang.

Tergopoh-gopoh Bhirawa menghampiri si gadis sembari meminta maaf. Gadis itu tidak bersuara. Ia hanya meringis menahan sakit di tubuhnya. Dalam diam, si gadis berusaha berdiri. Bhirawa tampak kikuk. Permintaan maaf dan uluran tangannya tak digubris. Setelah mampu berdiri, gadis itu hanya memandangnya sesaat lalu menunduk, kemudian berlalu dari hadapannya sambil menuntun sepeda onthel. Bhirawa gusar. Dari kejauhan matanya masih mengekor gadis manis berambut panjang yang baru saja diserempetnya. “Hebat! Ia tersungkur, tetapi sama sekali tak mengeluh, apalagi protes kepadaku.” Lanjut membaca

Aka, si Hitam Kesayangan

Mendaki gunung lewati lembah

Sungai mengalir indah ke samudera

Bersama teman bertualang

Sepenggal syair OST Ninja Hatori di atas sepertinya menjadi lagu yang pas menemani perjalanan saya dan si Hitam. Semenjak kehadirannya pertengahan tahun 2012, hari-hari makin berwarna karena dia sangat nyaman dipakai. Kini, ke manapun saya pergi dolan, ia selalu saya pakai. Baiklah, saya akan mulai berkisah bagaimana bisa si Hitam menjadi barang kesayangan seperti sekarang.

Pertemuan saya dan Aka berawal dari sebuah pemberitahuan seorang anggota Forum Muslimah Tangguh (FMT), Isma. Ini soal acara jelajah wisata, di mana lagi kalau bukan Merapi tercinta #tsaah :mrgreen: Seminggu sebelumnya, setelah melakukan pembayaran pendaftaran peserta trekking secara kolektif bersama anggota tim FMT, saya pun pergi ke sebuah toko di bilangan Jl. Prof. Yohanes, Sagan. Nama tokonya, Duarte. Ingat benar waktu itu sore. Sepulang dari redaksi saya sempatkan mampir ke toko perlengkapan kegiatan outdoor tersebut. Lanjut membaca

Kenangan Bicara Atas Nama BHSB

Perpus kota Jogja. Di akhir pekan seperti ini termasuk ramai. Beberapa orang keluar masuk pintu utamanya. Beberapa kali saya lihat bukan hanya yang dewasa, anak-anak pun ada. Ramailah. Jauh lebih ramai ketimbang pepustakaan SD saya dulu. Ya jelas. Lebih nyaman, lebih adhem, lebih banyak koleksi bukunya. Ah, jadi ingat dengan program hibah buku yang jadi tema hari ini. ya, saya mewakili BHSB untuk wawancara dengan seorang wartawan Radar Jogja. Well… coba saya tunggu, meski perut keroncongan, hiks, maklum ga sempat sarapan tadi.  :cry:

23/02/2013

11:31

Sepenggal catatan (yang saya salin dari ponsel) inilah yang menjadi bukti saat saya bertemu dengan seorang wartawan harian Radar Jogja di halaman perpustakaan kota Jogja, Kotabaru. Ini pertama kalinya saya berjumpa empat mata dengan wartawan untuk bicara mengenai salah satu aktivitas saya.

Sedikit cerita, sebelum wawancara dengan Radar Jogja ini, pernah juga saya merasakan atmosfer kegembiraan saat tanpa sengaja diliput oleh media. Dulu, zaman masih ABG, saya dan teman-teman pernah diwawancarai. Alhasil foto keroyokan bareng tim kelompok ilmiah remaja (KIR) SMU N 9 Yogyakarta pun nangkring dengan sangat manis di salah satu pojok surat kabar harian Kedaulatan Rakyat. Meski nongolnya keroyokan, bahkan saya hanya terlihat dari samping, senangnya ga ketulungan. Zaman masih aktif pentas menari pun sama. Begitu tahu liputan tentang Festival Kesenian Yogyakarta (FKY, sekarang Jogjakarta Art Festival-JAF) dan pas aksi kami yang di-shoot masuk di salah satu berita TVRI Jogja. Ya begitulah, aroma kegembiraan itu demikian kentara. Well, itu dulu sekali… zaman saya masih piyik. :mrgreen: Lanjut membaca

Phie, Dulu dan Kini

Tema “The Old and The New Photos” yang diusung Bunda Yati sebagai tema giveaway beliau menggelitik saya untuk mengikutinya. Well, tidak ada kesan selain kesan positif yang saya dapat ketika kami berjumpa darat (baca: kopdar) beberapa bulan lalu. Di sebuah pagi yang manis oleh rinai gerimis, kami bersua. Bunda Yati yang senantiasa bersemangat bahkan di usia tujuh dasawarsa memeluk saya erat lalu disusul dengan obrolan hangat dan antusias. Hm, betapa perjumpaan singkat kami itu seperti mimpi saja saking singkatnya.

Nah, untuk memperkuat kesan dan apresiasi saya terhadap Bunda Yati, sesuai tema akan saya gambarkan di sini.

Terlahir sebagai seorang gadis berkulit sawo matang di bulan ketiga tepat ketika mentari terbit adalah sebuah anugerah terindah. Waktu pun beranjak membimbing saya mendewasa. Sayangnya, orang sekitar kemudian tak mudah mengenali saya yang bertubuh sedikit lebih kecil dibanding adik perempuan saya satu-satunya. Lanjut membaca

Me and Family: Kumpul Bocah Tedjodisastran

Kumpul Bocah Tedjodisastran

Kumpul Bocah Tedjodisastran

Foto di atas adalah dokumentasi keluarga besar Tedjodisastro. Waktu itu tepat peringatan 1000 hari almarhumah Nyi Warsilah (simbah putri kami tercinta), sekitar tahun 1996/1997. Saya (paling kiri) dan sepupu berkumpul di teras rumah induk sore itu setelah asyik melihat seekor kambing disembelih di depan rumah. Lanjut membaca

Lewat Wiracarita, Makin Cinta

Berbahasa ibu, bagi saya adalah bagian kehidupan yang paling berkesan. Beberapa waktu lalu, tepatnya 21 Februari, ketika saya baru mengerti di hari itu adalah hari bahasa ibu internasional.. saya berkicau dalam bahasa ibu, menyampaikan rasa bahagia dan bangga saya menjadi bagian dari orang Jawa sekaligus bangsa Indonesia.

basa Jawi

Mau tahu apa artinya?

Saya orang Jawa dan selalu bangga menjadi orang Indonesia *Peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional*

Lanjut membaca

Giveaway #1 “Me and Jogja”: Melancong ke Museum Gunung Api Merapi

merapat di Museum Gunung Api Merapi

Bertandang ke Yogyakarta tanpa menikmati eksotisnya Merapi tentu takkan lengkap. Apalagi sekarang ini informasi tentang Merapi secara lebih mendalam bisa diketahui di Museum Gunung Api Merapi. Dengan latar belakang Merapi nan gagah juga udara sejuk, museum yang terletak di wilayah Kaliurang barat, tepatnya di Jl. Boyong, dusun Banteng, desa Harjobinangun, kecamatan Pakem, kabupaten Sleman ini menghadirkan nuansa baru bagi para pelancong, baik domestik maupun manca.

Bangunan museum ini bagi saya termasuk unik. Jauh sebelumnya, sekitar tahun 2007, saya pernah melintasi kawasan museum ini. Kala itu bangunannya belum sempurna benar. Karena memendam penasaran, maka pada Juni 2012 saya mengajak mbak Susi untuk melancong ke satu-satunya museum di Yogyakarta yang mendokumentasikan Merapi  secara lengkap dari waktu ke waktu. Lanjut membaca