Bersama Menanam Cinta di Bukit Menoreh

*Sebuah catatan sebelum waktu bergulir terlalu jauh dari bulan Februari.

Februari. Bulan kedua ini bagi orang-orang identik dengan bulan cinta. Mungkin ya, mungkin juga tidak. Saya termasuk yang tidak merayakan hari Valentine. Namun, bagi saya sah-sah saja mempergunakan event ini sebagai salah satu pengingat kembali bahwa manusia takkan bisa hidup tanpa alam sekitar. Mumpung akhir pekan tak ada agenda lain, maka jadilah saya ikut serta.  Nama acaranya “Menanam Cinta di Bukit Menoreh” (#MCBM). Sekali mendengar nama kegiatan ini, senyum di bibir saya mengembang penuh. Bukan, ini bukan sekuel cerita  karya SH Mintardja, Api di Bukit Menoreh; tapi lebih dari itu. :mrgreen:

Acara yang digagas oleh Walhi Jogja dan Sahabat Lingkungan ini mengambil lokasi di salah satu desa binaan Walhi Jogja; tepatnya di dusun Selorejo, desa Ngargoretno, kecamatan Salaman, Magelang. Waktunya? Sesuai e-poster, kegiatan dilaksanakan pada hari Ahad, 17 Februari 2013.

e-poster #MCBM

e-poster #MCBM, dok. Sahabat Lingkungan

Lanjut membaca

Jadi, Ini Salahnya Hujan?

Hujan turun, musim hujan tiba. Di belahan bumi manapun, sepertinya telah jamak kita jumpai “efek samping” dari hujan. Entah banjir atau tanah longsor, semua (kata mereka) karena hujan turun dengan intensitas luar biasa. Hmm.. Bolehkah kita diam sejenak merenung bersama? Sebentar saja..

gambar diambil dari hutantropis.com

Di tempat saya tinggal, dari lahir jebrot sampai saya hampir berusia 29 tahun, ya di sini, di kaki Merapi.. tidak pernah ada banjir hingga mencapai ke pemukiman. Banjir bagi kami hanya bisa ditemui di aliran sungai jika intensitas hujan di daerah yang lebih tinggi (Gunung Merapi, red.) melebihi batas normalnya. Namun, beberapa tahun terakhir mulai terlihat perbedaan. Banjir tak hanya mengalir di alur sungai, tetapi juga mulai merambah ke jalanan. Bukan, bukan bermaksud menjadi pesaing pengguna jalan. Itu karena air yang mengalir di selokan pinggir jalan sudah tak mampu membendung debit air yang terlampau besar. Tapi, apa benar ini semua salahnya hujan? Lanjut membaca

Yuk, Bantu Orangutan dengan Produk RSPO!

Bicara tentang Indonesia, kita akan kembali mengingat istilah “Jamrud Khatulistiwa” berikut sekian banyak karunia Tuhan Yang Maha Esa atas kehidupan dan alam selaksa surga. Koes Plus dalam lagunya pun tak luput menyatakan,

Orang bilang tanah kita tanah surga

Tongkat, batu, dan kayu jadi tanaman

Seperti itulah Indonesia. Saking kayanya, bahkan batu dan kayu pun jadi aset berharga. Namun, seiring dengan perkembangan zaman dan meningkatnya populasi serta kepentingan manusia, tak jarang kekayaan tinggal kekayaan.. Hendak lestari atau tidak, semua kembali pada manusia yang mempergunakannya. Kadangkala ketika manusia telah gelap mata, apa pun dipergunakan untuk mendapatkan apa-apa yang diinginkan, termasuk mengeruk kekayaan alam demi memenuhi pundi-pundi sekelompok orang.

Sungguh amat disayangkan bila menilik hal-hal yang terjadi di luar sana. Kepentingan manusia lebih sering diutamakan dibanding kepentingan makhluk lain. Padahal kalau kita mau menilik lebih dekat, kehidupan yang seimbang dan harmonis justru bukan karena hanya manusia yang sejahtera, tetapi makhluk lain di sekitarnya juga bisa hidup damai berdampingan. Pernyataan ini tentunya mengingatkan kita pada nasib salah satu hewan asli Indonesia, orangutan. Lanjut membaca

Celoteh Pokok Pohon

Padamu yang dimuliakan Tuhan,

Salam setiaku masih tertumpu di sini. Di antara gulir waktu yang tiada ingin singgah sejenak di kerindangan daunku. Sekarang mungkin masih bisa kukatakan rindang, entah esok.. Ketika engkau mulai merengkuhi berbagai ujian dunia dan memerlukan biaya, aku mungkin kan menjadi sasarannya. Tak banyak yang bisa kulakukan andai saja engkau menyadarinya. Kokoh tubuhku pasrah menggelimpang merasai muka tanah. Ah, tiada tahukah engkau, aku memendam sedih dan amarah. Tuhan telah menjadikanku seperti itu, hanya dapat diam membisu. Sekalipun menghadapi engkau, manusia yang dimuliakan Tuhanku.

Kadang heran padamu, bagaimana bisa dimuliakan Tuhan sementara polahmu berlebihan. Lihat ke sana, jauh ke seberang. Bisakah kau menjawab dan memberiku penjelasan mengapa kerabatku di hutan hujan dikorbankan? Adakah itu demi sesuatu yang kalian nilai “materi dan uang”?

…..

gambar diunduh dari sini Lanjut membaca

Cara Mencegah dan Menanggulangi Tawuran

Tawuran. Sengaja atau tidak, satu peristiwa ini sering kita dengar terjadi di banyak kota di Indonesia. Entah pelajar, mahasiswa, pemuda kampung, hingga anggota ormas di beberapa daerah. Tawuran seolah sudah seperti barang yang wajar ditemukan dan diwariskan. Sayangnya, sekalipun telah banyak diupayakan proses mediasi, tawuran (lagi-lagi) tetap terjadi. Bisa jadi ada yang keliru dalam proses penyelesaian dan mediasi tersebut. Belum lagi sifatnya yang kadang hanya sementara. Kita perlu melihat lebih dekat agar dapat mengantisipasi tawuran dengan seksama, langkah-langkah kecil dengan akibat lebih persisten perlu diupayakan dan dikokohkan.

1. Pentingnya penerapan pendidikan karakter dalam praktik keseharian

Dikutip dari pendidikankarakter.com, Theodore Roosevelt pernah mengatakan hal ini,

“To educate a person in mind and not in morals is to educate a menace to society”

(Mendidik seseorang dalam aspek kecerdasan otak dan bukan aspek moral adalah ancaman mara-bahaya kepada masyarakat) Lanjut membaca

Tuk Klanduhan Tersayang

“sebuah renungan untuk diri sendiri, tamparlah wajahmu sendiri, Phie.. sebelum menampar wajah orang lain”

Dear Klanduhan,

Apa kabarmu saat ini? Maaf, belum lagi sempat ku menyambangimu. Menilik kembali masa kecilku. Bersamamu, bergumul setengah hari di antara gemericik aliranmu. Berlompatan di antara bebatuan sembari tertawa-tawa melihat teman-teman berkejaran. Membongkar bebatuan dan mengintip berapa banyak udang di sebaliknya. Terjun dari tingginya tanggul bendungan dan berenang gaya batu. Berbasahan hingga sore menjelang.

Ah, tahukah? Betapa aku merindukan masa-masa itu. Merindukan kembali jernih airmu yang mengalir menyempurnakan hari-hariku di kaki Merapi. Namun, mengapa sekarang keadaanmu berubah seperti ini? Sampah plastik bertebaran di sepanjang aliranmu. Kaulihat di ujung sana? Bendungan tempatku sering bermain tidak lagi mengalir sederas dulu. Bahkan, kadang kering tertinggal batu-batu. Lebih ke utara lagi, di sana.. di bawah jembatan Ngangkruk, bisakah kaulihat? Sampah menggunung di bantaran timur. Baunya menyengat, tak lagi membuat pemandangan aliranmu memikat. Malang nian engkau, Klanduhan. Lanjut membaca

Earth Hour, Satu Jam untuk Bumi Kita

Sesuatu yang tak asing tiba-tiba mampir di inbox e-mail saya tepat hari Rabu, 15 Februari lalu. Kita lihat seperti apa itu..

invitation earth hour WWF

invitation earth hour WWF

Ya, sebuah undangan via e-mail saya terima dari World Wildlife Fund (WWF). Sejak beberapa bulan belakang (mulai pertengahan 2011, red.), saya menjadi subscriber WWF. Tiap kali ada kegiatan atau isu hangat, selalu ada pemberitahuan via e-mail. Untuk yang kali ini, ini istimewa! :mrgreen: Karenanya saya menjadi terinspirasi untuk ngulik apa saja tentang Earth Hour itu. So? Here we go.. Saya pun klak-klik sana-sini untuk menelusur lebih jauh seperti apakah gerakan Earth Hour itu.

*** Lanjut membaca