Pagi ini, Ahad, 5 Juni 2011 tak beda dengan hari libur biasanya. Kalau beberapa bulan yang lalu saya sempat sangat in a good mood untuk jogging, tidak dengan hari ini. Namun, bukan berarti saya merelakan badan tidak berkeringat. Apalagi cuaca kaki Merapi sedang sangat cerah, sayang bila dilewatkan. Bukankah melakukan aktivitas di bawah cahaya mentari pagi itu menyehatkan? Ayuuk, tancaap! Saya pun meraih sapu, pengki, dan engkrong (semacam sabit, red.) untuk membersihkan rerumputan di halaman yang mulai meninggi.
Limabelas menit berlalu. Beberapa sudut halaman sudah saya jelajahi, keringat pun bercucuran. Ah, segarnya..!!
Andai semua ini bisa dinikmati oleh setiap orang di dunia, betapa bahagianya. Pikiran saya melayang ketika tanpa sengaja saya berhenti menyapu dan memandang rimbunnya dedaunan mahoni di samping rumah. Dulu sekali, pepohonan yang kini menjulang tinggi itu adalah hasil jerih payah Mbah Kakung (kakek, red.), saat saya masih kecil kebun kakung dipenuhi dengan tanaman tahunan: kopi, melinjo, rambutan, kelapa, kemiri, durian, serta beberapa jenis bambu. Mahoni baru beliau bibitkan beberapa tahun sebelum beliau dipanggil Yang Maha Kuasa untuk selamanya, tahun 2003. Setelah hampir sebagian besar kebun Kakung diwariskan kepada anak-anak beliau dan dibangun beberapa rumah kost, yang tersisa sekarang adalah rindangnya mahoni. Ya, sekalipun lebih sempit dari yang dulu, tapi kami yang masih tinggal di Karang sangat bersyukur karena masih memiliki jantung kehidupan. Hutan kecil itu tiap harinya menjadi inspirasi kebahagiaan bagi saya. Bagaimana tidak? Udara segar, hangat mentari pagi berpadu dengan suara cericit burung saban harinya, subhanAllaah..it’s really home sweet home
. Belum lagi bila musim kemarau tiba. Alhamdulillah, kami masih bisa terus menikmati air sumur tanpa perlu khawatir kekurangan. Hmm, tapi sampai kapan? Kalau kepedulian tidak dipupuk, saya khawatir 10 tahun ke depan kami sudah tidak sanggup bertahan. Beberapa masalah lingkungan di Karang serasa kian memprihatinkan lima tahun belakang. Berawal dari pengerukan pasir di Kali Klanduhan serta kondisi sampahnya yang saya tulis di sini, membuat saya resah. Lalu serangkaian ide bergulir. Saya sempatkan membagi galau hati dengan teman-teman pemuda kampung lewat sebuah pengajuan ide di sini. Namun, agaknya tidak setiap rencana yang saya pikir mudah itu selalu mulus berjalan, tidak. Rencana tersebut terpaksa ditunda sehingga kami pun mencari alternatif jalan. Hmm.. saya tidak ingin berhenti, berputus asa sementara masalah lingkungan di kampung semakin menjadi. Malu rasanya bila saya sebagai pribumi tidak dapat memberikan sumbangsih apa pun. Lanjut membaca →