Earth Hour, Satu Jam untuk Bumi Kita

Sesuatu yang tak asing tiba-tiba mampir di inbox e-mail saya tepat hari Rabu, 15 Februari lalu. Kita lihat seperti apa itu..

invitation earth hour WWF

invitation earth hour WWF

Ya, sebuah undangan via e-mail saya terima dari World Wildlife Fund (WWF). Sejak beberapa bulan belakang (mulai pertengahan 2011, red.), saya menjadi subscriber WWF. Tiap kali ada kegiatan atau isu hangat, selalu ada pemberitahuan via e-mail. Untuk yang kali ini, ini istimewa! :mrgreen: Karenanya saya menjadi terinspirasi untuk ngulik apa saja tentang Earth Hour itu. So? Here we go.. Saya pun klak-klik sana-sini untuk menelusur lebih jauh seperti apakah gerakan Earth Hour itu.

*** Lanjut membaca

Klanduhan & Dilema Diaper (2)

Kisah sebelumnya…

Diaper oh, diaper.. Hm, saya mendadak galau… Klanduhan, mengapa nasibmu seperti ini? Dulu dikeruk diambil pasirnya secara besar-besaran. Tempat kami mencuci tikar itu dulu bentuknya serupa empang sedalam hampir 2 meter atau bisa jadi lebih. Sekarang rata, hanya beberapa batuan besar menjadi hiasan. Tidak ada deras air menari-nari seperti dulu. Belum lagi hadiah sampah yang kami jumpai di sepanjang aliran Klanduhan. Bukan rahasia lagi dengan kebiasaan membuang sampah di sepanjang aliran sungai di Indonesia, Klanduhan pun tak terkecuali. Bila disusur lebih ke hulu, kami akan menjumpai sebuah jembatan tepat memisahkan 2 kampung, Candirejo dan Ngangkruk. Di bantaran kali sebelah timur, tepat di sebelah bendungan kecil, tampak sampah menggunung. Ironisnya di sana sudah ada tanda larangan, tapi tetap saja penduduk sekitar membuang sampahnya di tempat itu, masyaAllah.. sekarang ditambah dengan banyaknya sampah popok sekali pakai. Ckckck.. kalau sehari semalam saja seorang anak balita menghabiskan 10 buah popok (bercermin dari apa yang kami lihat dari fakta dalam kisah sebelumnya); mari coba hitung untuk sebulannya, 10 x 30 hari = 300 sampah popok. Kalau dalam 1 kampung saja rata-rata ada 20 balita dengan kebiasaan penggunaan popok yang sama, itu berarti dalam sebulan saja setidaknya ada 6.000 sampah popok dan setahunnya tinggal dikalikan 365 hari, total jendralnya 2.190.000 (baca: dua juta seratus sembilan puluh ribu) sampah popok!!!! :shock:

diaperAstaghfirullaahal’adhiim.. Apa yang sedang terjadi? Apa ini semua terjadi akibat konsumen hanya melihat dari sisi kepraktisan? ‘Toh, suatu ketika sampah tersebut akan menyatu kembali dengan tanah..’ argumen semacam ini biasanya muncul di tengah masyarakat awam. Memang segala sesuatu akan kembali menjadi tanah, tapi apa iya kita mesti membiarkan mereka mencemari lingkungan? Dilihat dari bahan pembuatnya yang sebagian terdiri dari lapisan plastik, menurut banyak sumber terpercaya setidaknya perlu waktu 500 tahun hingga bahan tersebut terurai ke lingkungan!! (What??! :shock: ) Lalu, apa iya selamanya kita ini bertahan menjadi kalangan awam? Seolah-olah kata awam itu menjadi dalih alias tameng bahwa orang awam dimaklumi bila melakukan kesalahan. Menurut saya, mana bisa begitu? Bukankah semestinya kita belajar dari kesalahan, lalu berusaha mengetahui mana yang benar? Lanjut membaca

Klanduhan & Dilema Diaper (1)

Sabtu, 20 Agustus 2011

Setengah delapan pagi, Ning dan saya merapat di tebing kali Klanduhan. Seperangkul tikar kotor harus kami cuci. Ya, lebaran sebentar lagi, sudah menjadi kebiasaan kami untuk menggelar tikar di rumah menyambut tamu, sanak kerabat yang datang di hari yang sangat dinantikan itu. Tak seperti tahun-tahun sebelumnya, biasanya ibu turut serta. Namun, karena kondisi beliau belum memungkinkan karena cidera akibat terpeleset beberapa hari sebelumnya, maka kamilah yang mengambil alih pekerjaan itu.

Bicara soal Klanduhan, saya pernah beberapa kali menyinggungnya di tulisan saya sebelumnya. Klanduhan, kali yang memberi saya beberapa inspirasi sejak masa kanak-kanak. Maklumlah saya dulu bocah petualang (itu terasa hingga sekarang) dan salah satu tempat favorit saya adalah kali ini. Lama sekali rasanya tidak menyambangi Klanduhan. Sejak rencana penghijauan, penanaman bibit, hingga inspeksi yang tertunda karena kesibukan saya di kampus cukup menyita waktu. Hampir tiap hari pulang sore bahkan malam, pfiuuh.. Alhamdulillaah.

Sabtu pagi itu rasanya seperti nostalgia setelah setahun lalu mencuci tikar, kami pun kembali. Tenang saja, tidak ada sabun yang kami bawa. Toh tikar-tikar tersebut hanya kotor oleh debu, bukan najis.. jadi mencucinya dengan cara menyikat, insyaAllah sudah dapat menjamin tikar-tikar tersebut bersih kembali.

*** Lanjut membaca

Catatan dari Sebalik Rindang Kaki Merapi

Pagi ini, Ahad, 5 Juni 2011 tak beda dengan hari libur biasanya. Kalau beberapa bulan yang lalu saya sempat sangat in a good mood untuk jogging, tidak dengan hari ini. Namun, bukan berarti saya merelakan badan tidak berkeringat. Apalagi cuaca kaki Merapi sedang sangat cerah, sayang bila dilewatkan. Bukankah melakukan aktivitas di bawah cahaya mentari pagi itu menyehatkan? Ayuuk, tancaap! Saya pun meraih sapu, pengki, dan engkrong (semacam sabit, red.) untuk membersihkan rerumputan di halaman yang mulai meninggi.

Limabelas menit berlalu. Beberapa sudut halaman sudah saya jelajahi, keringat pun bercucuran. Ah, segarnya..!! :mrgreen: Andai semua ini bisa dinikmati oleh setiap orang di dunia, betapa bahagianya. Pikiran saya melayang ketika tanpa sengaja saya berhenti menyapu dan memandang rimbunnya dedaunan mahoni di samping rumah. Dulu sekali, pepohonan yang kini menjulang tinggi itu adalah hasil jerih payah Mbah Kakung (kakek, red.), saat saya masih kecil kebun kakung dipenuhi dengan tanaman tahunan: kopi, melinjo, rambutan, kelapa, kemiri, durian, serta beberapa jenis  bambu. Mahoni baru beliau bibitkan beberapa tahun sebelum beliau dipanggil Yang Maha Kuasa untuk selamanya, tahun 2003. Setelah hampir sebagian besar kebun Kakung diwariskan kepada anak-anak beliau dan dibangun beberapa rumah kost, yang tersisa sekarang adalah rindangnya mahoni. Ya, sekalipun lebih sempit dari yang dulu, tapi kami yang masih tinggal di  Karang sangat bersyukur karena masih memiliki jantung kehidupan. Hutan kecil itu tiap harinya menjadi inspirasi kebahagiaan bagi saya. Bagaimana tidak? Udara segar, hangat mentari pagi berpadu dengan suara cericit burung saban harinya, subhanAllaah..it’s really home sweet home :) . Belum lagi bila musim kemarau tiba. Alhamdulillah, kami masih bisa terus menikmati air sumur tanpa perlu khawatir kekurangan. Hmm, tapi sampai kapan? Kalau kepedulian tidak dipupuk, saya khawatir 10 tahun ke depan kami sudah tidak sanggup bertahan. Beberapa masalah lingkungan di Karang serasa kian memprihatinkan lima tahun belakang. Berawal dari pengerukan pasir di Kali Klanduhan serta kondisi sampahnya yang saya tulis di sini, membuat saya resah. Lalu serangkaian ide bergulir. Saya sempatkan membagi galau hati dengan teman-teman pemuda kampung lewat sebuah pengajuan ide di sini. Namun, agaknya tidak setiap rencana yang saya pikir mudah itu selalu mulus berjalan, tidak. Rencana tersebut terpaksa ditunda sehingga kami pun mencari alternatif jalan. Hmm.. saya tidak ingin berhenti, berputus asa sementara masalah lingkungan di kampung semakin menjadi. Malu rasanya bila saya sebagai pribumi tidak dapat memberikan sumbangsih apa pun. Lanjut membaca

Plan A untuk Klanduhan

Pertengahan Maret 2010

PROPOSAL KEGIATAN
PENGHIJAUAN DAERAH ALIRAN KALI KLANDUHAN CANDI KARANG

Latar Belakang Pemikiran

Isu lingkungan dan pemanasan global yang kian marak mendorong setiap elemen masyarakat untuk berpastisipasi, satu di antaranya adalah GO GREEN Jogja sebagai salah satu program yang digalakkan di lingkup Daerah Istimewa Yogyakarta. Pemuda Candi Karang yang tergabung dalam Kadang Anem IX sebagai bagian dari generasi muda DIY merasa perlu melibatkan diri dalam program menuju lingkungan yang lebih hijau dan asri bagi DIY.
Lanjut membaca

Berburu Inocarpus

Awal Maret 2010
Bulan ketiga telah masuk; kepalaku masih terfokus pada Klanduhan, kali yang memberiku begitu banyak kenangan indah semasa kanak-kanak. Ah, rencana mengajukan proposal sudah disusun dan teman-teman telah memberikan respon terbaik mereka. Bahkan mengagendakan penghijauan daerah aliran Klanduhan di kampungku sebagai program utama Kadang Anem. Senang sekali mendapat sambutan hangat semacam itu.

Di balik layar, aku pun bersiap; memburu dan menyimpan semua bahan proposal serta mencicil untuk menuliskannya di komputer rumah. Beberapa pustaka telah kudapatkan lewat browsing internet. Tentang pengelolaan daerah aliran sungai (DAS), tentang pentingnya penyelamatan ekosistem sungai, juga menyediakan daerah hijau tadah hujan di sekitar kampungku.

“Tunggulah sebentar lagi, Klanduhan..” batinku.

Namun… Apakah itu saja jalan yang bisa kutempuh? Bagaimana jika suatu hari nanti proposal itu tidak berhasil dikabulkan oleh Hortimart? Aku tahu benar jalan pikiran teman-teman. Banyak yang hanya ikut-ikutan mengatakan SETUJU tanpa memberi respon lebih. Dari beberapa program kerja yang telah lalu, aku bisa menilai kinerja yang masih sangat lamban. Koreksi ini pun berlaku pula bagiku sebagai anggota pengurus di awal lahirnya Kadang Anem.

Lalu? Saatnya bersiap membangun siasat andaikata kelambanan terjadi pula pada program ini. Kalau pengajuan proposal ini menjadi plan A, maka semestinya harus pula kusiapkan plan B. Hmm.. apa akal? Biarlah aku berpikir…
***
Lanjut membaca

Hadiah untuk Klanduhan

Klanduhanku Sayang, Klanduhanku Malang

Pagi di bulan Desember. Mentari telah beranjak dari peraduannya. Tergesa, kuturuni tebing barat kali. Hosh.. hosh.. Jalanan curam menurun terpaksa membuat kedua kakiku setengah berlari. Tak ada 3 menit aku pun sampai di bibir kali.

Ya, Kali Klanduhan. Kali berair jernih yang lekat dengan masa kecilku. Kali yang mengajariku bagaimana asyiknya bergumul setengah hari bersama teman-teman. Belajar berenang, kadang-kadang menyelam, mencari udang di balik bebatuan, atau berjemur di atasnya jika kami kedinginan usai terendam air. Sampai-sampai kami suka lupa waktu, lupa makan, dan satu hal lagi: lupa belajar. (Ah, sekali dua kali sepertinya tak apa.. hehe, dasar NAKAL!). Kali yang membuatku sesekali terngiang pada gelak tawa dan tangis masa kanak-kanak. Masih kuingat gelak tawa Sulis, Dwi, Ipung, Riyanto, Nur, Lanjar, Agus, dan banyak lagi; saat kami berlomba menemukan sebuah batu baterai bekas yang dilempar ke dasar sungai.

“Ayo, cepet-cepetan!!” tantang Riyanto.

Seketika itu pula, kami pun berebut menyelam. Wah, sulit! Akhirnya, kami harus menyerah karena si gesit Riyanto telah mengambilnya lebih dulu.

Ah, masa-masa itu.. sungguh pun telah berlalu begitu lama, takkan lekang dari ingatanku.
Lanjut membaca