Merayakan 14 Tahun PRAS

Sebuah tas kertas ia angsurkan ke arah saya. Sebuah tanda mata dari seberang sana, tanah Banjar, Kalimantan Selatan. Senyum saya merekah sembari menghujaninya dengan ucapan terima kasih. Hahaha, entahlah, kadang saya bisa berubah lebay karena tak tahan diperlakukan manis oleh orang-orang terdekat. Ia memberikan kain Sasirangan. Katanya itu kain khas Banjar. Hmm, saya speechless jadinya. Itu ke sekian kali ia menghadiahi saya cenderamata khas Banjar, setelah sebelumnya bros dan gantungan kunci. So sweet benar orang ini! :oops:

O ya, saya belum memperkenalkan si pemberi hadiah. Namanya Rini Budi Astuti, sapa saja ia Rini.. meski beberapa waktu terakhir ia justru menambahkan sebuah kata asing di depan nama panggilannya. Jadilah akun facebook-nya sekarang Diang Rini. Whatever, bagi saya ia tetap sahabat lawas yang hingga kini tetap hangat.

Petang itu kami bertemu setelah sekian bulan lamanya berpisah. Kami janjian bertemu untuk membeli kado. Dua hari setelahnya, 1 Mei 2013, adalah ulang tahun Sukarni, dan di hari itu ia mengundang kami untuk bereuni. Alasannya sih biar pas dengan hari Buruh Internasional…, padahal saya ingat itu hari istimewa untuknya; hanya saja, saya tidak mau berkoar-koar.. lihat saja nanti saat hari H. :mrgreen: Lanjut membaca

Akhir Pekan dan Surat Cinta

Akhir pekan akan menjadi saat yang menyenangkan jika ada sesuatu istimewa yang kita terima. Siapa juga yang tidak senang bila menerima surat cinta. Lhoo.. kemarin kan saya sudah menulis soal surat cintanya Kapten Bhirawa ya? Ya, itu dalam rangka berlatih menulis flash fiction, hehe. Yang saya maksud surat cinta kali ini benar-benar surat. Datangnya dari Bandung. Sabtu sore, 2 minggu lalu pak ketua RT-lah yang mampir mengantarnya ke rumah.

Saat saya mendengar ada orang mengantar sesuatu, saya pikir itu kurir JNE yang sering ke rumah. Ternyata bukan. Bukan buku antologi pusi “Tiga Perayaan” yang dijanjikan oleh sponsor acara #PuisiHore2, tetapi sepucuk surat berlogo “daksa”. Walau tadinya sedikit kecewa karena saya memang sudah menunggu kehadiran buku tersebut semenjak bulan lalu, namun agaknya membaca surat cinta dari Yayasan Daksa mampu membuat perhatian saya teralih. Memori pun berputar. Saya ingat! Mungkin inilah yang dimaksud di e-mail yang saya terima beberapa bulan lalu. Saat itu Yayasan Daksa masih bernama Yayasan BISA atau BISA Foundation. Lanjut membaca

Menghibur Ezy

Ezy… Siapa yang belum kenal dengan motor saya ini? Yang antik dan tiada duanya (menurut saya) *abaikan! :P Eh tapi kalau ada yang masih penasaran, boleh singgah di tulisan paling detail tentang my beloved Ezy lhoo.. :lol:

Baiklah, bicara soal Ezy dan musim hujan, ibaratnya seperti melihat trending topic di twitter kepala saya. Antara bersyukur atas karunia Gusti Allah SWT dan mengeluh karena itu berarti saya harus sejenak berjalan lambat. Slow kalau kata orang Walandi sana. Memangnya? Ezy itu lemah dengan air. Bukan asal kecipratan lho, lebih tepatnya alergi hujan. Hm, mungkin seperti saya juga. Apa itu dipengaruhi juga oleh lambang zodiak saya yang biri-biri itu #eh :P

Nah, kalau Ezy sudah mulai basah karena derasnya hujan, saya yang harus pintar-pintar menghiburnya. *pakai kostum badut* Itu seperti yang saya alami kemarin sore. Saya memang pulang lebih sore dari biasanya. Langit Bulaksumur sudah mendung dan heiii.. yang paling mengkhawatirkan adalah langit sebelah utara. Dalam hati saya sudah berdoa, request sama Gusti Allah supaya hujannya dimundurkan seperti biasa *memang bisa?*

Percaya atau tidak, sering saya mengalaminya. Entah, itu bernama  dimundurkan, ditunda, atau apa.. yang jelas hujan turun demikian derasnya begitu saya sampai di rumah. :mrgreen: Lanjut membaca

Gagal? Be Optimist!

Bila kita bicara tentang kegagalan, yang ada selanjutnya adalah aura negatif, disusul dengan galau, gundah, gulana pun meruah menjadi satu *eh :P Rasa inilah yang sama ketika saya harus menghadapi kenyataan bahwa hidup tidak selamanya seperti yang saya inginkan. Hidup tidak selamanya harus berjalan urut dari A hingga Z. Kadangkala hidup harus bermula dari X, melompat ke C, lalu mundur lagi ke P. Ya, begitulah hidup. Sudah menjadi rahasia Sang Maha Dalang, sebagai manusia (baca: wayang) kita semua tinggal melakonkan titahnya.

Jadi, sebenarnya kejadian apa yang menimpa saya? Hm, mungkin Sahabat ada yang masih ingat dengan Captain Cartenz? Ya, dia. Kalau ada yang pernah bertanya atau penasaran mengapa saya tidak pernah lagi menyinggungnya setidaknya sejak empat bulan terakhir itu karena satu kata: gagal. Benar, hubungan kami terpaksa dihentikan. Gagal untuk diteruskan meski telah hampir dua tahun lamanya. Gagal dilanjutkan meski kedua keluarga telah saling mengenal.

Broken-heart-two-part-heart-wallpaperWell, memang tidak mudah menghadapinya, terutama di awal-awal kami memutuskan untuk sampai di sini saja. Tepatnya pertengahan Januari lalu, ia memberi saya keputusan yang tidak saja membuat shock, tetapi juga memicu saya nekat ngabur ke ibukota untuk menemuinya, padahal kondisi ibukota kala itu darurat banjir. Lanjut membaca

Dua Tahun Semestinya

Tak perlu kupaham apa arti semua
Perjumpaan yang bermula
Manis, menggurat satu cerita

Tak perlu kupaham apa arti semua
Panjang kisah tercipta
Dua tahun semestinya

Hari ini, benar dua tahun semestinya
Hari ketiga belas bulan kedua
Semenjak kita bersua
bakdal Ashar di teras rumah sederhana

Lanjut membaca

Biar Perahu Kertas Bersenandung

“Pi tonton SCTV deh.. Perahu Kertas.” 01/01/2013 19: 18:04

Sebuah SMS masuk tiba-tiba. Padahal tadinya saya tak mengacuhkan sedikitpun ponsel yang tergeletak di samping Grey si laptop. Tidak ada yang harus saya khawatirkan dengannya. Capt, ia baik-baik di sana.

Di penghujung tahun, ia menghubungi. Nada suaranya yang ceria itu membuat saya selalu bisa tertawa. Meski kadang disusul dengan keluh kesah, seperti juga tanggal 31 Desember. Pagi itu ia tetap saja harus masuk kerja.

Lalu, mengapa tiba-tiba ia meminta saya menemaninya menonton Perahu Kertas sehari setelah ia menelepon? Lanjut membaca

Jadi, Kejutan dari Siapa?

To palupi da pkt d jne agen rahayu..mhn sgr d ambl thanks
15/12/2012 14.54.46

Sebuah pesan singkat masuk dengan amat santai ke inbox ponsel Samsung Champ saya. Perlu waktu beberapa menit menelaah apa yang dimaksud dengan “paket” yang jelas-jelas tertulis di sana.

*Halooo, Phie.. Aja ndomblong kaya sapi ompong!*

Lha wong seingat saya, saya menang terakhir kuis di twitter #KUMIS @Warung_Blogger  itu bukunya sudah saya terima kok. Kuis? Iya, kuis tentang hal konyol yang pernah saya alami dan oleh karenanya saya berhasil menjadi salah satu pemenang buku “Cinta Belum Usai”-nya Rino Aribowo.

Terus, yang ini dari mana coba? :?: :?:

Pikiran saya teramat sibuk mencari siapa gerangan yang mengirimkannya. Hm, tidak mungkin pula bulik dengan “bendel iseng”-nya itu.

STOP Press! Hehe, saya belum bercerita ya soal beberapa tulisan di blog ini yang di-print oleh adik sepupu saya atas perintah si boss mama? Kejutan sedikit menyebalkan itu, pada akhirnya membuat saya mengerti apa yang sebenarnya diinginkan oleh bulik Nik. Tapi, jangan semua di-print-lah. Nanti saya ga jadi untung, malah buntung. #eh? :P

Sementara saya berfikir, nomor ponsel agen JNE yang meng-SMS saya kelihatan tidak sabar menanti saya mengambil paket tersebut. Mereka mengatakan kalau kantor agen akan segera tutup. Aah, paket tak jelas..!! Mengapa saya jadi serba salah? Saya paling malas keluar rumah sementara hawa dingin mengganggu seperti sore itu. Namun, rupanya rasa penasaran pun berhasil menggiring saya,

“Baik, Pak. Lima menit lagi saya sampai”

Mereka bilang akan menunggu. Rupanya agen JNE Rahayu hanya di depan gang. *haloo, kenapa baru nyadar sekarang?!* Hihihi, ya maaf ya.. Itu agen baru saja pindah di ruko tepat di depan gang menuju rumah dan selama ini saya tak perhatian #ngaku :mrgreen:

Jadi…?? Lanjut membaca