(Lagi-lagi) Menjelajah Kinahrejo

Long weekend di bulan Mei 2012 ini saya menghabiskan waktu dengan kesibukan dunia nyata yang aduhaai.. menyita tenaga dan membuat asam laktat menumpuk di sekujur tubuh *lebay :mrgreen: , tapi yang jelas fun itu sudah tentu. Okay then.. Saya akan mulai dari melampiaskan rasa kangen saya pada Merapi, juga pada Captain Cartenz hehehe *ngaku :P Habisnya minggu lalu ia mengunggah foto-foto kenangan saat tracking di Gunung Salak, Bogor tujuh tahun silam. Hm, seolah jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet beberapa waktu lalu mengingatkannya pada aktivitas di organisasi pecinta alam. Saya pun mupeng dibuatnya. Sekalian saja saya ajak Ezy, Mbak Susi dan si Biru, saya kan memang sudah beberapa bulan tidak menyambangi Merapi.. maka, tanpa banyak berbasa-basi, hari Jumat, 18 Mei lalu saya pamit pada Captain untuk refreshing sejenak di Kinahrejo. Katanya, “Hati-hati di Merapinya..” Siap, Capt..!! :D So? Saya tidak akan bercerita terlalu banyak. Biarlah foto-foto ini mengisahkannya untuk kita semua. Here they are.. :mrgreen: Lanjut membaca

Rembang, Menelusur Jejak Kartini

Kalau ada yang bertanya, “Siapa yang belum kenal dengan Rembang?”, sebelum empat tahun lalu, saya termasuk orang yang harus mengacungkan jari. Saya mengakui bahwa saya belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di sana. Padahal sudah sejak lama saya berkeinginan singgah di kota ini. Semenjak menemukan sebuah buku yang terselip di salah satu rak di toko buku yang saya celotehkan di sini, ada keinginan kuat untuk bisa ke sana, meski entah kapan.. Akhirnya, Mei 2008, saya berkesempatan mewujudkan impian tersebut; menghabiskan akhir pekan di kota ini berkat bantuan seorang adik angkatan, Maylia namanya. Ia pribumi kota Rembang yang merantau ke Jogja untuk melanjutkan studi S1. Keinginan saya tentu bukan tanpa alasan. Sederhana saja. Kekaguman saya mendorong hati untuk menemui sosok ibunda perempuan Indonesia yang dikupas dalam buku tersebut; yang jasadnya disemayamkan di bumi Rembang. Ya, beliaulah Raden Ajeng Kartini, salah seorang tokoh perintis gerakan emansipasi di Indonesia.

Sebelum saya kupas obyek jalan-jalan ini, saya perlu tahu seperti apakah Rembang itu. Tentu, Google pun menjawabnya untuk saya melalui wikipedia.

Kabupaten Rembang terletak di ujung timur laut Propinsi Jawa Tengah dan dilalui jalan Pantai Utara Jawa (Jalur Pantura), terletak pada garis koordinat 111000′ – 111030′ Bujur Timur dan 6030′ – 706′ Lintang Selatan. Laut Jawa terletak di sebelah utaranya, secara umum kondisi tanahnya berdataran rendah dengan ketinggian wilayah maksimum kurang lebih 70 meter di atas permukaan air laut. Adapun batas- batasnya antara lain:

sebelah utara: Laut Jawa, sebelah timur: Kabupaten Tuban, Propinsi Jawa Timur, sebelah selatan: Kabupaten Blora, sebelah barat: Kabupaten Pati.

Kabupaten Rembang berbatasan langsung dengan provinsi Jawa Timur, sehingga menjadi gerbang sebelah timur Provinsi Jawa Tengah.

 *** Lanjut membaca

Solitaire dan Sendiri

Bicara tentang solitaire tentulah tidak akan lepas dari maknanya yang juga berarti sendiri. Mengacu pada nama sebuah permainan di komputer yang saya tahu zaman saya duduk di bangku SMA kelas dua; kala itu saya masih belajar seperti apa namanya mengoperasikan komputer. Saya pernah terbengong-bengong dengan sangat sukses memperhatikan teman sekelas saya meng-klak-klik si tetikus. Dengan lihai, ia memilah dan menata kartu remi. Kalau saja saat itu Tukul Arwana sudah ngetop, teman saya itu mungkin akan ikut-ikutan menyebut saya NDESO :mrgreen: Maklumlah di rumah belum ada fasilitas komputer seperti sekarang. Saya simpan segala rasa penasaran itu hingga pada akhirnya di awal tahun perkuliahan saya telah mampu memenangkan sebuah permainan bernama solitaire. Segitu senangnya ya? Hehehe..

solitaire.screenshot

Lama kelamaan permainan yang hanya butuh dikerjakan sendiri ini tak lagi membuat saya tertantang. Ya, karena di luar sana ada banyak hal yang bisa saya lakukan solitary alias sendiri. Salah satunya melakukan perjalanan antarkota. Mungkin tidak seorang pun akan percaya kalau saya katakan terakhir kali naik kereta adalah 21 tahun lalu ke Jakarta, saya sendiri heran :mrgreen: . Maka di penghujung 2011 lalu saya sempatkan melakukan dua reuni sekaligus, reuni 21 dan 13. 21 tahun dengan kereta api dan 13 tahun dengan kota Bandung. Mumpung saya diundang menikmati sejenak hari libur akhir tahun. Why not? Dengan bergaya backpacker, saya pun mengajak si Rei-Barito, ransel satu-satunya untuk melancong.

Mau tahu seperti apa perjalanan reuni ini? Langsung saja klik di sebelahnya tanda mringis. :mrgreen:   Lanjut membaca

Kopdar Pertama: Antara SunMor & Pemotretan?

Berawal dari sebuah obrolan di dunia maya yang akhirnya bersambungan hingga bertemu di dunia sebenarnya. Semacam itulah kopdar alias kopi darat biasanya bermula. Seperti halnya yang saya alami beberapa waktu lalu. Kala itu seorang sahabat saya, Teh Hanie memposting sebuah tulisan tentang liburan tahun baru ke Jogja di blog barunya dan menyebutkan bawa si teteh menunggu saya di sudut Tugu Jogja. Wah, tidak disangka.. ketika itu saya sedang berada di Bandung memenuhi undangan seorang teman alumni pascasarjana UGM yang mengajar di Universitas Padjadjaran. Terharu rasanya dinantikan seperti itu. Itulah mengapa saya pun men-share-kan link postingan tersebut ke wall facebook, eh tak tahunya seorang sahabat lain yang juga berencana pergi ke Jogja memberikan komentar. Ya, ia adalah Amela. Seorang blogger asli Jember yang ditugaskan di Baubau, Sulawesi Tenggara.

Saya pikir Amela hanya iseng bercanda, mungkin ia sedang ingin ke Jogja karena banyak orang di luar kota sana juga suka kangen dengan Jogja. Kan ada lagunya :mrgreen:

Sementara itu beberapa waktu kemudian blogger Bandung kedatangan tamu seorang blogger dari bumi Borneo. Wah, saya kena colek Amela lagi. Hm, sepertinya yang bercanda iseng makin serius. Itu mengapa obrolan kami yang kala itu ngisruh di postingan Asop di Warung Blogger, saya pindah ke wall dilanjutkan dengan ber-inbox ria saling tukar nomor ponsel. Alhasil saya pun mendapat kenalan baru. Tadinya menyenggol Puch si empu the Petrichor dan Nandini “Atap Biru”, eh dapat kenalan Anniva dan Ais.

logo WeBe

*** Lanjut membaca

Tour de Ngancar

Sabtu, 22 Januari 2011

Hari masih pagi saat kami berjalan beriring menuju ke Jl. Agro. Seperti biasa, selepas latihan teater bersama teman-teman TanpaNama di kampus kami biasa berkumpul untuk makan pagi di sebuah warung makan, Bubur Ayam Gadjah Mada. Hari itu meski arloji saya sudah menunjukkan pukul 09.00, tetapi menu bubur di warung tersebut masih ada, Alhamdulillaah. Setelah memesan menu makan pagi (yang telat), kami duduk sambil ngobrol.

“Pik, hari ini ada acara?” tanya Mbak Vira.

“Habis ini? Pulang.. ga ada acara weekend, kaya ga tahu aku aja hehe..” jawab saya asal.

“Temani ke atas, yuk!” sahut Mbak Vira

“Ngapain, Mbak?” tanya saya masih dengan sedikit cuek.

“Survei lokasi buat Masalah Khusus..”

“Oh..”

“Bisa?”

“Boleh..” jawab saya sambil nyengir :mrgreen:

“tapi bentar ya, aku tanya rute ke atas yang aman, katanya banyak jembatan yang ambrol pasca erupsi”

Tangan saya sibuk memencet keypad ponsel. Beberapa SMS berlontaran keluar-masuk inbox. Untunglah info berhasil didapat setelah acara makan bubur kelar. Asyik!

*** Lanjut membaca

Sehari di Export Leaf Indonesia

Jumat, 8 Mei 2009

Hari masih pagi ketika langkah kakiku terhenti di gazebo kampus Faperta UGM. Kulirik arloji Citizenku. Di sana jarum panjang menunjuk angka 12 dan jarum pendeknya menunjuk angka tujuh. Hmm, masih terlalu pagi untuk kuliah. Hei, tapi aku tidak akan kuliah pagi itu; sudah lulus hampir dua tahun sebelumnya. Lalu? Pagi itu kami tim Laboratorium Entomologi Dasar akan berangkat ke Sukoharjo, Jawa Tengah. Atu, Windha, Kholis, Kiswanti, Mbak Suci, dan aku berkumpul dengan santainya. Hmm, pagi seperti itu apa yang enak untuk dilakukan? :?: Selepas menurunkan barang-barang dari lab di lantai 3, kami asyik ngobrol tentang bakal seperti apa sehari itu di kandang orang. Maklumlah, baru kali ini kami keluar kandang dan menyambangi sebuah perusahaan untuk menjadi pemandu sebagian kegiatan workshop. Aku yang sedikit demam panggung, menyempatkan untuk membuka kembali buku kunci determinasi serangga. Ya, bolehlah refresh pengetahuan.. siapa yang takkan malu bila nantinya bakal banyak pertanyaan yang tak bisa dijawab oleh kru Ento Dasar UGM? Hohoho, nggak usah yaa!! Namun, dasarnya semangat himagito masih melekat di antara kami sepagi itu beberapa kali jepretan kamera pun tak bisa dilewatkan. CHEESE!! :mrgreen: Sebentar, apa lagi itu “himagito”? Eh, penasaran? Himpunan mahasiswa gila foto! Hehehe :D Lanjut membaca

Berburu Inocarpus

Awal Maret 2010
Bulan ketiga telah masuk; kepalaku masih terfokus pada Klanduhan, kali yang memberiku begitu banyak kenangan indah semasa kanak-kanak. Ah, rencana mengajukan proposal sudah disusun dan teman-teman telah memberikan respon terbaik mereka. Bahkan mengagendakan penghijauan daerah aliran Klanduhan di kampungku sebagai program utama Kadang Anem. Senang sekali mendapat sambutan hangat semacam itu.

Di balik layar, aku pun bersiap; memburu dan menyimpan semua bahan proposal serta mencicil untuk menuliskannya di komputer rumah. Beberapa pustaka telah kudapatkan lewat browsing internet. Tentang pengelolaan daerah aliran sungai (DAS), tentang pentingnya penyelamatan ekosistem sungai, juga menyediakan daerah hijau tadah hujan di sekitar kampungku.

“Tunggulah sebentar lagi, Klanduhan..” batinku.

Namun… Apakah itu saja jalan yang bisa kutempuh? Bagaimana jika suatu hari nanti proposal itu tidak berhasil dikabulkan oleh Hortimart? Aku tahu benar jalan pikiran teman-teman. Banyak yang hanya ikut-ikutan mengatakan SETUJU tanpa memberi respon lebih. Dari beberapa program kerja yang telah lalu, aku bisa menilai kinerja yang masih sangat lamban. Koreksi ini pun berlaku pula bagiku sebagai anggota pengurus di awal lahirnya Kadang Anem.

Lalu? Saatnya bersiap membangun siasat andaikata kelambanan terjadi pula pada program ini. Kalau pengajuan proposal ini menjadi plan A, maka semestinya harus pula kusiapkan plan B. Hmm.. apa akal? Biarlah aku berpikir…
***
Lanjut membaca

Rembang for d 1st Time (bagian 1)

Habis Gelap Terbitlah TerangHari ke-21 bulan April, siapa yang tak ingat dengan tanggal yang bersejarah khususnya bagi kaum perempuan Indonesia ini? Ya, R.A. Kartini, seorang putri bangsawan yang menuntut persamaan hak antara kaum pria dan perempuan, lahir pada tanggal ini. Hm, bicara soal beliau mengingatkanku pada sebuah buku terjemahan Armijn Pane terbitan Balai Pustaka, Habis Gelap Terbitlah Terang. Sebenarnya sudah sejak lama kuincar buku yang berisi curahan hati R.A. Kartini itu. Nah, suatu siang kala aku iseng berjalan-jalan ke Social Agency Baru karena sedang jenuh di rumah, kutemukan buku itu tinggal satu-satunya terselip di sebuah rak di lantai 2 .

“Ini dia yang kucari-cari!” gumamku.

Betapa senangnya menemukan buku yang sudah sejak lama kuinginkan. Buku setebal 205 halaman itu pun segera saja kuboyong pulang. Membacanya membuatku mesti mengerti benar, ya karena bahasa yang digunakan adalah bahasa puitis. Ah, semua tahu Armijn Pane. Pujangga baru yang cukup terkenal dengan romannya Belenggu. Bahasa puitis melayunya kadang membuatku harus sedikit mengernyitkan dahi dan mengulang-ulang kalimatnya agar bisa memahami apa yang sebenarnya ingin disampaikan.

Beberapa bulan berselang dari hari itu, seorang adik angkatan bernama Maylia Rachmawati menawariku untuk berlibur ke kota kelahirannya, Rembang. Aha, Rembang! Di sanalah R.A. Kartini disemayamkan untuk terakhir kalinya. Aku berkhayal, kalau aku bisa ke sana.. tentu akan ada cerita baru dalam hidupku. Apalagi ini menyangkut salah seorang idolaku.

“Ayo, kapan lagi kau akan dapat kesempatan yang sama? Ingat, Phie kesempatan baik tidak akan terulang untuk kali kedua, “ batinku memberi semangat.

Ya, semoga saja kerjaan proyek ini sudah selesai. Jadi aku kan bisa refresh sejenak ke luar kota. Rembang for the first time? Pengen!!
Lanjut membaca