Mengenang 12, van Houten, & Ayah

Rasa-rasanya baru kemarin saya merasakan kegelian dicium ayah. Rasa-rasanya baru kemarin saya mendengar kisah masa kecil beliau semasa di Purwodadi. Rasa-rasanya baru kemarin saya mendengar beliau berpesan agar belajar dan berusaha sebaik mungkin hingga terwujudlah semua yang beliau impikan itu. Rasa-rasanya baru kemarin menikmati sepotong demi sepotong van Houten dan steak tempe ala chef Herdjito. Rasa-rasanya baru kemarin saya menerima sebuah desk lamp hijau hadiah kenaikan kelas. Rasa-rasanya juga baru kemarin saya melihat tubuh beliau terguncang-guncang akibat kerja serangkai alat pacu jantung. Apakah itu episode dari sebuah mimpi panjang? Bukan dan saya yakin tidak.. Ini hidup seorang gadis bernama Phie dan kenyataannya, bayangan yang saya tuliskan terakhir kali di sebuah rumah sakit swasta di Pakem, Sleman itu telah berlalu 12 tahun lamanya. Dua belas, angka yang (masih) cukup membuat saya kadang menangis bila teringat beliau. Apalagi bila suatu saat saya sedang stress dan hanya cokelat batangan yang ada dalam genggaman, menyepi ditemani semilir angin gunung. Hmm.. perpaduan yang sempurna!

12 tahun pun berlalu..

Bicara soal cokelat.. Ayahlah yang membuat saya “gila” cokelat. Sejak saya duduk di bangku taman kanak-kanak, oleh-oleh yang biasa beliau bawa dari kantor adalah cokelat. Ada beberapa merek cokelat yang saya kenal “gara-gara ulah” beliau :mrgreen: : Silverqueen, Delfi, van Houten, juga Cadburry. Yang paling sering beliau bawa adalah van Houten, batangan maupun bubuk cokelat. Saya paling suka van Houten batangan yang dicampur dengan dairy milk, meskipun begitu saya tidak akan menolak bila ada yang memberi van Houten dengan campuran kacang mete. :lol:

O ya, ada kisah lucu bin konyol ketika saya masih kecil, tentu masih ada kaitannya dengan si van Houten. Saking gilanya saya dengan cokelat, saya bisa tidur sambil mengemut sepotong cokelat. Alhasil, ibu suka sewot karena itu berarti si seniman cilik siap melukis sprei dengan pulau-pulau cokelat. Ckckckck.. :D Itu terjadi hampir setiap hari. Bisa dibayangkan seperti apa gigi saya kala itu? Itu bisa dilihat di foto ini. Kelihatan kan betapa “habis”nya gigi depan saya. :mrgreen:  Foto ini diambil tahun 1990, kala itu saya duduk di bangku SD kelas 1. Beberapa tahun kemudian saat satu per satu gigi susu yang warnanya coklat kehitaman itu tanggal dan berganti dengan gigi tetap sebesar biji jagung, alm. ayah pernah nyeletuk begini,

“Ndak nyangka kalau gigi mbak Jatu bisa serapi ini..”

Phie kecil (depan, meringis) pamer gigi “gigis” :D

Hehehe.. kalimat itulah yang membuat saya jadi semakin pede pamer senyum lebar dan lebih rajin sikat gigi. :lol: Lalu, bagaimana dengan nasib si cokelat bubuk? Tenang, ayah punya resep jos gandos (begitu istilah beliau, red.) untuk menikmatinya. Mau tahu? Pertama, tuang air panas ke mug atau gelas sampai setengahnya. Lalu, masukkan tiga sendok makan cokelat bubuk van Houten, sesendok makan bubuk krimer, dan sesendok makan gula pasir. Aduk rata dan tuang air hangat sesuai selera. Saya sendiri suka yang kental. Pas sekali dinikmati saat cuaca dingin kala hari hujan sambil memandangi butiran hujan dari sebalik jendela. Hmm.., nikmat!

Thanks, Rabb.. Thanks, Dad.. thanks for last 12 years. Semoga ayah tenang beristirahat di haribaan Sang Pencipta. Aamiin.. Apa pun yang hingga saat ini saya terima itulah berkah dari Rabb. Kalaupun pahit, biarlah itu menjadi tempaan diri agar lulus ujian tahap demi tahap. Kalau Rabb tak menghendaki semua itu terjadi 12 tahun silam, 6 Juli 2000, mungkin saya takkan setangguh sekarang. Hu Allahualam..

14 pemikiran pada “Mengenang 12, van Houten, & Ayah

  1. Idah Ceris mengatakan:

    Tetap semangat Mba Phie. . .
    Hanya doa yang bisa kita berikan untuk Bapak yang sudah tengan di sana. . ..

    • Phie mengatakan:

      Semangaat, Idaah… :) Terima kasih :)
      Ya, doa itu yang selalu kupersembahkan untuk beliau.
      Semoga beliau tenang di sana. Aamiin ya Rabb

  2. omiyan mengatakan:

    Tak bisa berkata apa-apa lagi, rasanya gimana gitu, yang jelas Almarhum sudah tersenyum bahagia di Surga sana …

    Salam

    • Phie mengatakan:

      Hmm.. kadang saya juga suka speechless mengenang 12 tahun terakhir tanpa beliau :) Aamiin ya Rabb, terima kasih doanya & salam kenal, Omiyan :)

  3. Diang Rini mengatakan:

    hmmm…

  4. ilhammenulis mengatakan:

    bagus :’)

  5. marsudiyanto mengatakan:

    Semoga Ayahandanya tenang disisi Nya….

  6. marsudiyanto mengatakan:

    Mbak Phie jadi salah satu pemenang di Lomba Mencari Kebenaran…
    Mohon kirim nama dan alamat ke email saya ya Mbak

  7. erlita mengatakan:

    weits … hehe …foto masa kecil saya ikut nampang. cantik ya kita waktu kecil. hehe … narsis isnt crime, only a sin ….kalo ada yg lain kirim dong mbak jatu …anakku ketawa2 liat foto ibunya waktu kecil …hihi. iya mbak jatu, dulu saya inget setiap mau berangkat sekolah, ‘ngampiri’ mbak jatu dulu skalian numpang sarapan. pdhl di rumah udah sarapan, ditawari sm bu heni, “mbak ita pun sarapan dereng?”, aku bilang,”dereng …” dasar …gak malu ya….hihi …saya mendoakan dr jauh mbak jatu, smoga Bapak disana tenang …tersenyum bahagia …putri kecilnya dulu jd perempuan hebat skrg …pinter lg ..

    • Phie mengatakan:

      Hehehe.. numpang narsis ga masalah kali, Mbak :D
      Iya, ya kalau ingat jaman masih kecil dulu. Banyak yang tak terlupakan. Aamiin ya Rabb. Matur nuwun doanya. Semoga Allah SWT mengijabah doa Mbak Erlita. :)

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s