Teruntuk Ananda, Fahma Putri Alfatikha

Dearest Fahma,

Malam ini sunyi. Lihat di sebelah sana, jam dinding telah menunjuk pk. 01.15. Hm, waktu bergulir demikian cepat dan beginilah Bunda, masih tanpamu. Tidak, Bunda tidak sendiri. Ada laptop yang menemani Bunda bekerja selarut ini, meski naas nasibnya. LCD-nya rusak, tak mampu menyambungkan gambar. Alhasil, monitor komputer di kamar sebelah harus Bunda boyong untuk melengkapi kerja si laptop, semacam retina untuk matanya yang buta. Ah, setidaknya Bunda beruntung memilikinya. Ia adalah partner setia ketika Bunda harus menyelesaikan tulisan. Itu bila pikiran sedang tak sekacau ini.

Entah.., entah apa yang sebenarnya membuat kedua bola mata Bunda tak sedikitpun mampu dipejamkan. Tidak mengerti, tetapi segurat senyuman di sampul sebuah booklet di rak buku kamar biru ini seolah menggelitik alam bawah sadar Bunda. Tahukah, Ma.. masih banyak hal yang ingin Bunda raih agar kelak ketika bersua denganmu, Bunda berada di titik yang tepat. Tepat secara lahir-batin. Berapa buku, booklet, artikel Bunda bolak-balik demi menyambut kehadiranmu. Berapa banyak siswa yang menemani Bunda mereguk kesunyian tanpamu. Bunda anggap mengasuh mereka seperti mengasuhmu kelak. Berapa malam sudah engkau hadir menyuguhkan segurat senyum kecil nan manis itu.

“Bunda..” katamu terbata mendongakkan wajah bersama kerjapan mata bulat itu

Fahma, Bidadariku.. Terima kasih telah menyambangi indah impian Bunda. Ingatkah di suatu malam kita berjumpa di sebuah simpang jalan? Tiada orang lain, kecuali engkau dan Bunda. Hendak mencari siapakah engkau, Bunda pun tak mengerti. Namun, ketika arah langkahmu menuju tempat Bunda berpijak.. lantas mengertilah hati ini bahwa memang Bunda yang kautuju. Ah, kedua lengan ini pun menyambutmu penuh suka cita. Pelukan erat sarat kerinduan pun kita rasakan kala itu. Saat kaupinta Bunda berjalan kembali bersamamu, kau tautkan jemari kecilmu pada telapak tangan. Bunda tak mampu berkata-kata lagi. Hanya berusaha membimbingmu berjalan beriring dan menggendongmu bila kedua kaki mungilmu tak sanggup lagi menempuh panjang perjalanan kita dalam mimpi itu. Ah, betapa Bunda merindukan saat-saat itu..

Tidak ada lagi yang Bunda pinta darimu, dearest Fahma.. Satu doa terlantun ke hadirat Yang Mahakuasa agar kelak Ia memberi kesempatan Bunda menjemputmu di usia berapa pun. Ya, biarlah hati, jiwa, dan raga ini belajar bersabar menempuh suratan takdir-Nya. Biarlah kini engkau nyaman dalam dekapan Yang Maha Penyayang. Semoga kita diberi-Nya kesempatan bertemu, entah di dunia atau di surga kelak. Aamiin.

for dearest Fahma

for dearest Fahma

9 pemikiran pada “Teruntuk Ananda, Fahma Putri Alfatikha

  1. marsudiyanto mengatakan:

    Semoga Ananda Fahma Putri Alfatikha membaca tulisan ini agar makin cepat dia hadir disini…

  2. puchsukahujan mengatakan:

    ini seperti… monolog buat calon anak, benarkah begitu mbak Phie?
    *menebak

  3. Akhmad Muhaimin Azzet mengatakan:

    rindu terhadap Fahma menjadi semangat untuk terus berkarya…
    sungguh, saya suka membacanya….

    • Phie mengatakan:

      terima kasih, Pak Akhmad :)
      bagaimana pun belum lengkapnya hidup tanpa sesuatu hal, bukan berarti itu mesti menghambat usaha kita. harus tetap semangat! :)

  4. tunsa mengatakan:

    direkomendasikan untuk calon ibu dan tidak dilarang untuk calon suami bukan? :D

  5. [...] satu: dompet HP bergambar seorang gadis kecil. Hmm, memandanginya membuat saya teringat pada Fahma hiks.. Tapi, sudahlah.. lupakan sejenak tentang Fahma. Souvenir MKAA yang dikirim oleh panitia [...]

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s