Kaki Merapi, Sabtu,14 April 2012, bakdal Maghrib
Sebuah SMS mampir ke inbox ponsel saya, bulik Is rupanya..
“Mbak Jatu, mbak Ning jadi ikut ndak? Wis tak daftarke lho”
Hm, saya tahu bulik sudah menyiapkan yang terbaik untuk kami, dua keponakannya ini, agar bisa menginap di Jogja nol km dan keesokan harinya beramai menyemarakkan acara ulang tahun pertama Tribun Jogja. Namun, sebersit pikiran terlintas..
“Apa saya yakin kuat ya?”
—
Catatan: Saya tidak sedang meragukan keinginan. Saya suka jogging, suka jalan santai, dan sudah jauh-jauh hari meminta bulik mengajak saya dalam acara ini. Yang saya pikir itu bukan tanpa alasan, sedari pagi buta saya dilanda murus-murus berkelanjutan. Lha wong minum bukan sekadar obat pencahar (baca: pirantel pamoat)nya saja sudah sepekan yang lalu, masa iya sih efeknya masih tersisa dan ‘mengamuk’ sepekan kemudian? Bukankah itu mustahil? Yang ada, bisa jadi saya yang masuk angin karena telat makan atau mungkin keracunan? Keracunan? Oh, semoga tidak..
Badan lemas sebagaimana terjadi pada penderita diare umumnya, bedrest gulang-guling di dipan kamar biru. Aktivitas saya berulangkali hanya mondar-mandir kamar-toilet-kamar-toilet dan sesekali ke ruang makan mengambil air minum juga membuat larutan oralit. Tidak boleh dehidrasi, itu kuncinya. Tidak bisa makan nasi, buah pisang pun jadi. Yang penting perut harus diisi biar tidak makin parah. Akibatnya, saya (terpaksa) membatalkan segala macam
agenda hari itu. Mulai dari rencana pergi ke bengkel untuk menyetel ulang gas Ezy dan mengganti kaca spion kanannya yang remuk berkeping saat saya jatuh empat hari sebelumnya; hingga membatalkan jadwal les Ikang, siswa saya yang tinggal di Purwomartani, Kalasan. Hm, apa saya juga harus membatalkan untuk ikut menginap di rumah bulik Is? Ah, sedihnya.. saya yang minta diajak, eh begitu tiket dan kaos didapat.. malah dibatalkan begitu saja. Apa kata dunia? Keponakan macam apa saya ini? Sudah diperhatikan, eh nggak bertanggung jawab. Rabb, please.. beri saya kuat
Akhirnya, setelah perjuangan tiga per empat hari, saya cukup kuat untuk makan nasi, pisang, dan susu hangat. Alhamdulillah. Sudah mulai bisa nyengir lebar lagi, meski seharian tidak mandi
—
Lalu? Jadi pergi? Bismillah. Saya memutuskan untuk berkemas. Usai sholat maghrib barulah saya balas SMS bulik tersebut,
“InsyaAllah, siyos, Bulik.. ini sedang siap-siap”
Kami berkemas hingga adzan Isya. Usai sholat Isya, langsung pamit ibu. Saya tinggal Ezy di kandangnya, Ning jadi sopir saya malam itu. Ia mengerti tidak mungkin membiarkan saya menyetir dalam keadaan seperti itu. Begitu motor dikeluarkan.. Yaaa..hujan! Kami pun bergegas menyambar mantel yang anteng nyantol di motor lalu meninggalkan rumah bak dua buah orang-orangan sawah
Hujan lokal.. Hujan lokal.. kami telanjur basah diserbu butiran air sepanjang hampir dua kilometer. Namun, siapa yang menyangka hujan benar-benar berhenti saat kami sampai di depan pasar Gentan. Wah, cara Rabb mengatur rejeki itu sangat unik ya? Kami pun mampir ke minimarket Mina membeli pulsa dan bekal untuk acara keesokan hari. Setelah dirasa cukup, perjalanan (tanpa mantel) dilanjutkan. Benar saja, hingga kawasan nol kilometer, tidak sedikitpun hujan titik. Subhanallah!
***
Kauman, pk. 20.45, hampir satu jam kemudian
Setelah melewati hiruk-pikuk lalu lintas malam Ahad kami pun tiba di Kauman. Kauman? Ya, sebuah perkampungan tepat di belakang Masjid Gede Kauman.
Kalau pernah berkunjung ke Keraton Ngayogyakarta, alun-alun utara, juga menikmati pasar malam Sekaten, atau sempat menonton film Sang Pencerah, pasti tidak asing lagi dengan nama tersebut. Menginap di kampung ini bagi saya serasa bernostalgia dengan liburan masa kecil juga masa-masa pengungsian kala erupsi Merapi 2010 lalu. Saya sendiri menghabiskan waktu setidaknya dua minggu tinggal di rumah bulik. Ada trauma menggelayut saat harus pulang ke kaki Merapi sementara suara bebatuan dimuntahkan demikian menggelegar; hujan kerikil di 5 November 2010 dini hari; belum lagi tebalnya abu dan bau belerang yang pekat sekalipun kalau ditarik garis lurus posisi kampung kami 17 km dari puncak Merapi. Eh, ini koq malah nglantur ta? Ok, mari dilanjut!
Sesampainya, kami beristirahat sejenak lalu menikmati makan malam. Bulik Is dan om Har sudah makan, jadilah pempek yang sedianya kami bawa untuk oleh-oleh malah digoreng untuk kami santap. Bismillah.. semoga perut saya bisa berkompromi dengan menu khas Palembang ini. Apapun yang dihidangkan saya cicipi. Bukan maruk sih, kalau istilah kami ini disebut nglegani, demi menghargai yang telah membuat hidangan. Usai makan malam, kami ngobrol dengan bulik. Sebenarnya dua sepupu kami, Haris dan Roni, ada di rumah. Mereka ada di kamar, sedang asyik dengan modem baru. Nah, saking asyiknya jadi lupa kan ada mbak sepupunya datang
Ahad,15 April 2012
Benar apa yang saya khawatirkan. Sesuatu membabibuta dalam saluran pencernaan dan memaksa saya takluk dengan serangan pagi buta (baca: murus-murus). Oh, semoga saya tetap kuat. Aamiin.
Tak lama adzan subuh berkumandang. Sebenarnya badan tidak menolak dimandikan sepagi itu, tapi saya pikir sebagai tamu ada baiknya mempersilakan empunya rumah untuk sholat subuh dan mandi terlebih dulu. Ok, saya keluar kamar mandi dan mempersiapkan bekal untuk acara funwalk.
-bersambung-
catatan: siyos = jadi


terima kasih karena telah menjadi bagian rekor muri
kembali kasih, Tribun Jogja
masih bersambung.. akan ada kelanjutannya, sayangnya saya belum bisa memastikan kapan selesai, ngantri