Catatan April di Akhir Pekan Pertama (2): Sabtu & Ezy

Jumat : 3ST

Sabtu: Check up Ezy

Kondisi saya yang tidak terlampau beda nyata semacam itu membuat saya merenteng sekian rencana di hari Sabtu. Di antaranya pergi mengecekkan kondisi Ezy yang sedang kurang fit. Setelah juragannya bolak-balik ke dokter, kini giliran Ezy yang harus check up. Bulan lalu stang Ezy patah, entah ada atau tidak hubungannya, tapi yang jelas rem depan Ezy tiba-tiba ngadat. Belum lagi akinya yang tahu-tahu soak setelah si rem depan ngambeg. Bagaimana saya bisa mengendara dengan normal tanpa kerja sama rem depan dan belakang yang baik juga lampu sign yang redup begitu? Saya memang harus bersabar, kondisi kantong belum mengizinkan. Baru setelah honor redaksi saya terima Kamis lalu, saya pun terpicu memilah beberapa hal untuk diprioritaskan. Minggu kedua April, insyaAllah, saya akan memulai lagi aktivitas dunia malam. Mengukur jalan menuju rumah siswa, mencumbui angin malam, dan itu berarti segala hal termasuk kondisi saya dan Ezy harus siap sedia.

Sedari pagi saya bersiap. Hei, ini sedikit istimewa karena saya juga menyiapkan sepucuk surat untuk Captain. Kali ini saya kirimkan via pos. Habisnya saya gemas, sudah beberapa hari saya dicuekin. Sehari setelah kiriman gaun cantik tiba di rumah, saya sempat kontak dengannya. Ia bertanya, “Bajunya ga motong po?” Setelah saya jawab.. eh, kambuh lagi tuh cuek bebeknya. Sementara itu, beberapa hari lalu saya bermimpi bertemu dengannya dengan cara yang amat aneh. Kadang bagi saya mimpi semacam pertanda. Saya khawatir ada apa-apa, makanya saya tanya, eh ndak dibalas juga. Yang bikin saya tidak habis pikir adalah saya ingat benar kronologis mimpi itu. Yang lebiih menyedihkan, sehari setelah mimpi itu saya bisa menangis sepanjang perjalanan pulang dari kampus karenanya. Duh Gusti ada apa ta ini? Sepertinya (lagi-lagi) ia sedang menguji kesabaran saya. Ok, saya jabani! Karena berkirim SMS dan telepon tidak ada respons.. Jadilah, saya kirimkan surat padanya. Sepertinya long weekend ini Captain ada acara mukernas di Bandung. Nanti setelah pulang biar saja dia baca kejutan kecil dari jauh. Nah, kalau dia tidak menemukan akun facebook saya karena deaktivasi yang sedang saya lakukan, entahlah apa yang akan terjadi. Hihihi :mrgreen:

Setelah mandi dan siap, saya pun pamit ibu untuk ke Prima Motor. Sebelumnya mampir ke kantor pos Ngaglik. Selepas mengantri sekitar 10 menit, saya dipanggil untuk membayar. Rp 7000,00 untuk sepucuk surat kilat khusus. Setelah itu? Segera kami meluncur ke Prima Motor. Kami? Ya, Ezy dan saya, tentunya. Lima menit melaju dari kantor pos Ngaglik, kami pun tiba di Prima Motor yang terletak di tepi Jl. Kaliurang sebelah selatan persis pasar Gentan. Segera setelah tiba saya sampaikan keluhan dan apa-apa saja yang sekiranya perlu dicek kepada pemilik bengkel langganan saya tersebut.

“Tunggu sebentar ya, Mbak..” begitu kata ibu pemilik bengkel.

Nggih, Bu..” jawab saya singkat.

Setelah menunggu beberapa saat, seorang mekanik menghampiri saya, meminta kunci kontak.

“Mbak,Grand-nya ini ya yang mau diservis?”

“Iya, Mas..tolong dicek rem depannya. Terus, itu akinya kok tahu-tahu bisa soak ya, padahal baru Maret saya ganti aki di sini. Sama ganti oli..” jawab saya sembari mengulurkan kunci kontak Ezy.

Nggih, Mbak..”

Ezy pun dibawa menuju tempat pengecekan. Saya mengekor; duduk di kursi ruang pengecekan; membaca lembar demi lembar buku Negeri Lima Menara (boleh dipinjami teman) sambil sesekali memperhatikan dari kejauhan mekanik tersebut mengutak-atik Ezy. Proses pengecekan dan servis lumayan lama. Ada sekitar 1,5 hingga 2 jam. Pertama bagian kap mesin dan aki dibuka, diurut-urut kabelnya. Benar saja, kabel rem depan harus diganti saking sudah lamanya. Menyusul kemudian kampas rem belakang yang habis, ganti lagi. Bagian aki ternyata soak karena selama rem depan error rem dalam posisi mengerem sehingga memaksa aki menyalakan lampu belakang. Ooh, begitu.. berarti memang seperti dugaan awal, ada hubungannya. Katanya lagi aki harus di-stroom, kalau tidak ya nanti akan mengisi sendiri saat digunakan. Memang bisa begitu ya? Hmm.. :?: Setelah itu saya disarankan juga untuk mengganti tromol depan-belakang karena posisi kampas rem tidak begitu match dengan tromol.

“Kalau ndak ganti, nanti kampasnya akan lebih boros, Mbak..Cuma ya itu, ganti tromol rada mahal.”

Saya mengangguk-angguk mengerti. Setelah itu, tinggal finishing saja. Bagian dasbor Ezy agak longgar, makanya perlu diikat. Dasarnya motor 90-an, baut-bautnya sudah tidak sekencang dulu. Setelah itu? Selesai. Ganti tromolnya? PR bulan berikutnya. Ini soal skala prioritas, Man! Ok, saya berpartner, hidup bersama, dan menyayangi Ezy seperti soulmate, tapi saya juga masih ada kebutuhan lain hingga akhir bulan nanti. Masih harus bayar rekening telepon rumah, menambah uang gas dan rekening listrik untuk ibu, juga menabung di samping uang bensin dan makan. Akhirnya, setelah membayar total servis rutin (Rp 110.000,00), saya baru bisa bertanya perkiraan biaya penggantian tromol. Kata kasirnya total sekitar Rp 300.000,00-an dengan rekomendasi ganti tromol yang belakang saja lebih dulu. Ok, saran ditampung.

Lepas dari bengkel? Masih ada waktu hingga tengah hari untuk mengganti jok. Ya, jok Ezy sudah lumayan lama sobek di bagian depan dan tengah. Kalau terlalu lama dibiarkan, bisa rusak spon di dalamnya. Maka setelah membelok ke SPBU Ngaglik mengisi tangki BBM, kami merapat di tempat servis jok. Letaknya pas di seberang Prima Motor. Saat Ezy landing dengan cantiknya, saya disambut oleh tatapan aneh seorang pria dengan rambut (sedikit) acak-acakan. Umurnya sekitar 30-an. Sepertinya sedang menunggu jok motornya diperbaiki. Itu saya lihat dari sebuah motor Honda CB di sebelahnya yang sadelnya juga lepas. Seperti biasa kala menghadapi hal aneh semacam itu, saya tanggapi dengan cuek dan datar. Segera saja saya parkir dan bertanya kepada juru jok soal tarifnya.

“Mas, permisi.. Kalau saya mau ganti jok bisa ditunggu?”

“Bisa, Mbak,” kata mas juru jok. “Mau yang biasa atau yang bagus? Yang biasa Rp 25.000,00, yang bagus Rp 40.000,00” lanjutnya.

“Kalau yang biasa kaya apa, Mas? Boleh lihat?” tanya saya sambil berjalan menuju ke arah segala macam jok digantung, masih dengan helm di kepala.

Di dalam tampak seorang bapak sedang mengukur lembaran kulit, lalu menjahitnya. Mas juru jok itu segera memperlihatkan jok yang biasa dan yang bagus.

“Ini, Mbak..” ia mengulurkan kedua contoh jok.

Saya gunakan kemampuan meraba. Bahannya berbeda. Setelah melalui pertimbangan matang, saya putuskan untuk memilih yang bagus. Sedikit lebih mahal tidak jadi soal, biar lebih awet. :mrgreen: Sesudah diputuskan, lalu saya pun melepas helm, dan duduk menunggui sembari memperhatikan proses penggantian jok tersebut. Oh, ternyata seperti itu ya? Pertama, sadel jok dilepas dari motor lalu dicopotlah baut-bautnya dan selanjutnya dilepaslah kulit jok lawasnya. Selesai tahap tersebut, waktunya memperbaiki bentuk spon agar pas dengan kulit jok baru. Spon bagian depan Ezy rupanya sedikit rusak sehingga perlu ditambah tambalan spon. Diolesi lem, ditunggu sebentar sambil dikipasi hingga setengah kering baru kemudian ditempellah itu spon barunya. Setelah dipastikan lekat sempurna, barulah dihaluskan dengan alat semacam parutan. Sesudah bentuknya dirasa pas, lalu dipasanglah si jok baru.

This slideshow requires JavaScript.

Belum selesai proses pemasangan kulit jok, seorang pria lain datang. Lalu duduk sekitar 3 m di depan saya, pas di belakang sebuah jeep bercat hijau army yang diparkir. Orang ini juga pelanggan sepertinya, pemilik jeep. Satu lagi yang saya tidak habis pikir, mengapa orang tersebut juga memandang saya dengan tatapan aneh. Hello, heran boleh..cuma ya ndak usah segitunya ah! Memangnya yang punya kepentingan ganti jok itu hanya yang berjenis kelamin laki-laki saja? ENGGAK kan? *lhoo, koq pakai acara nggondhok? :mrgreen: Tenang, saya hanya membatin. Tidak nyaman saja diperlakukan semacam itu. Biasa saja kenapa?

Untunglah, tidak lama kemudian jok diselesaikan dan dikancing dengan stapler. Baut-bautnya dipasang dan dikembalikan ke posisi awal, menutup tangki bensin. Alhamdulillah. Saya pun mengulurkan uang pelunasan dan setelahnya meninggalkan kedua orang dengan tatapan aneh itu. Horeee! :mrgreen:

-bersambung-

tulisan selanjutnya ada di sini  :mrgreen:

About these ads

4 pemikiran pada “Catatan April di Akhir Pekan Pertama (2): Sabtu & Ezy

  1. [...] di sini untuk membaca sambungannya Rate this: Berbagi ini:FacebookEmailLike this:SukaOne blogger likes [...]

  2. alamendah mengatakan:

    Wah, banyak juga yang diganti, ki… Tampah kinclong, dong?!

    • Phie mengatakan:

      hehe iya, Pak.. besok harus mampir lagi ke bengkel. Selasa lalu spion kanan Ezy pecah berantakan karena saya jatuh di jalan, hmm..

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s