Titip Rindu untuk Ayah

Langit Karang hampir memerah ketika ibu, adik, dan saya pulang menjenguk ayah. Bila hari cerah, seminggu sekali kami sempatkan menemui nisan beku beliau di Sasanalaya Candi. Ya, itulah yang kini tersisa dari sekian panjangnya kisah hidup beliau. Adalah Herdjito, nama ayah saya. Beliau lahir di Yogyakarta, 26 Juli 1952. Beliau dibesarkan di sebuah keluarga yang sangat sederhana. Saking sederhananya beliau harus dititipkan kepada budhe-nya (kakak dari ibu) untuk bersekolah hingga tamat SMA. Terlahir sebagai sulung dari 6 bersaudara membuat beliau tumbuh menjadi sosok pekerja keras. Beliau rela dititipkan agar beban orang tuanya tidak begitu berat. Namun, di lain sisi beliau menghadapi himpitan batin karena keluarga yang membesarkannya berbeda keyakinan. Itulah yang akhirnya mendorong beliau untuk bekerja setamat SMA. Meski kesempatan beliau untuk melanjutkan kuliah sangat terbuka, tetapi beliau urungkan niat tersebut karena beliau tidak ingin menggadaikan akidah.

Beliau pernah bercerita kepada saya tentang sulitnya hidup di zaman orde lama. Sebagian waktu remaja beliau dihabiskan di Gundi, Purwodadi, Jawa Tengah. Maklumlah kakek adalah seorang pegawai PJKA yang bertugas menjaga pintu lintasan kereta api, sebagai anak tentu mengikuti ke mana orang tuanya dipindahtugaskan. Suatu ketika ayah diminta untuk membeli beras dengan sepeda. Jaraknya lumayan jauh dari rumah. selesai membelinya, ayah bergegas pulang tanpa sadar bahwa karung yang beliau gunakan sebagai wadah ternyata berlubang. Itu terlihat dari beras yang berceceran sepanjang perjalanan pulang. Sesal membuat beliau menangis memohon ampun kakek-nenek. Beliau pun berjanji akan lebih cermat lain waktu.

Apa yang beliau kisahkan kepada saya bukan isapan jempol belaka. Di mata saya, ayah memang seperti itu perangainya. Disiplin dan kerja keras adalah motto hidup beliau. Bahkan hingga adik-adik dan saya makan pun beliau sering mengingatkan agar makan hingga bersih. Beliau ingat betapa sulitnya kakek menafkahi beliau dan adik-adik. Setiap butir nasi memiliki kisah, melukiskan betapa kerasnya kehidupan para petani. Hmm, itu mengingatkan saya pada sebuah lagu,

Nasi putih terhidang di meja
Kita santap tiap hari
Beraneka ragam hasil bumi
Dari manakah datangnya?
Dari sawah dan ladang di sana
Petanilah penanamnya
Panas terik tak dirasa
Hujan rintik tak mengapa
Masyarakat butuh bahan pangan
Terima kasih bapak tani
Terima kasih ibu tani
Tugas anda sungguh mulia

Ya, betapa tidak baik menyiakan rejeki yang telah dianugerahkan Tuhan kepada kita. Demikian sederhana cara ayah mengingatkan kami untuk tetap bersyukur dan menikmati tiap butir rejeki.

Ayah, beliau begitu penyayang. Saya kagum dengan upaya beliau mencintai keluarga sederhana kami. Di tengah keterbatasan beliau yang juga menanggung diabetes mellitus sejak tahun 1994, beliau selalu merelakan waktu memberikan yang terbaik bagi kami. Memenuhi permintaan-permintaan aneh putri sulungnya ini. Saya hobi korespondensi sejak kecil. Semenjak saya mengenal pelajaran menulis surat di kelas 4 SD, saya langsung mempraktekkannya, dan ayah adalah pengantar surat yang baik. Walau sebagai pemula, saya kadang menerima komplain beliau,

“Ini amplopnya kok kotor?” kata beliau saat melihat amplop biru saya nyaris penuh dengan coretan tipe-ex, kurang rapi kelihatannya.

“Nanti diganti saja ya amplopnya?” lanjut beliau.

Saya hanya bisa meringis dan mengangguk.. yang penting surat saya sampai di seberang sana, Jakarta, kediaman bulik Nunik, adik ibu yang terjauh dari Yogya tetapi selalu dekat di hati keponakannya ini. Saking dekatnya kami, dulu saya pernah dianggap nakal dan jadi merepotkan ayah. Nakal? Ya. Saat itu libur caturwulan I tahun 1996, saya mengisi liburan 3 hari di rumah salah satu adik perempuan ayah. Di sana saya bertemu dengan adik-adik sepupu. Sebelum kejadian itu, saya suka berlibur di sana. Rumahnya bersih dan ahaa.. ada banyak barang bagus yang tidak ada di rumah. Salah satunya telepon. Saya selalu penasaran melihat barang baru (telepon rumah), maklumlah saat itu di rumah belum terpasang instalasi telepon. Lama tidak berkirim surat pada bulik membuat saya rindu. Beliau sudah punya nomor telepon rumah di rumah baru beliau, makanya saya pun penasaran ingin mendengar suara beliau dari seberang sana.

Saat rumah bibi sepi, saya pun mengendap-endap keluar kamar menuju ruang tengah menghampiri meja telepon, lalu dengan sigap menekan nomor tujuan, interlokal! Setelah beberapa kali bunyi tuut terdengar, akhirnya saya berhasil ngobrol sejenak dengan bulik. Senangnya! Tapi, oops.. siapa sangka ternyata ulah saya tercium oleh si empu rumah.

“Habis nelpon siapa?” tanya bibi.

Sifat perasa saya menangkap sinyal tidak senang di mata dan raut wajah bibi.

“Nelpon bulik di Jakarta,” jawab saya singkat, sedikit ketakutan.

“Ooh…..” sahut bibi.

Seketika bibi pun berlalu, masih dengan sisa ketidakramahan. Sepertinya nasib buruk sedang mengintai, saya merasa bersalah. Menyesal, tapi semua sudah telanjur terjadi. Ya, jelas saja  liburan saya berubah. Saya tidak bisa betah dengan sikap bibi yang terlihat uring-uringan. Di sisi lain, saya hanya bisa menanti ayah hingga menjemput. Tidak ada waktu menonton teve atau bermain dengan adik sepupu di sisa liburan; saya hanya menghabiskan waktu mengubur diri seharian di kamar. Kadang saya sampai menangis saat sholat.. mengadu pada Tuhan. Saya kan penasaran, itu saja.. mengapa beliau marah?

Dua hari kemudian, ayah datang menjemput. Saat berbenah, tak sengaja, saya mendengar bibi mengadu pada ayah. Hmm, saya makin merasa bersalah. Apalagi saat beliau terlihat mengeluarkan sesuatu dari dalam dompet. Uang? Untuk apa? Saya hanya terbengong melihat bibi menarik cepat tangan kanannya. Ayah memandang saya sesaat, tanpa ekspresi apa pun.

Sampai di rumah beliau pun menasihati saya,

“Besok lagi jangan diulangi ya, Mbak Jatu kan tahu bagaimana beliau?”

Nggih, Pak..” jawab saya sembari mengangguk.

Semenjak itu, saya enggan berlibur ke rumah bibi. Yang menggelikan, kadang ayah dan ibu suka menggoda saya,

“Sana.. bikin ulah lagi.. hehehe..”

Ah, ayah.. beliau ada-ada saja.

***

Ayah, beliau menggoreskan kisah lain yang sampai sekarang menjadi kegemaran saya: membaca. Soal membaca, ayah adalah motivator handal. Majalah Bobo, tabloid Fantasi, surat kabar harian, dan sesekali majalah Garuda Indonesia pernah mendarat di rumah sederhana kami. Status pendidikan beliau yang lulusan SMA memacu untuk tidak tertinggal dengan banyak-banyak membaca dan mengajak kami semua untuk gemar membaca. Kadang beliau mengajak saya dan adik ke Social Agency Jl. Gejayan untuk membeli buku-buku pelajaran. Beliau ingin saya mengabulkan impian yang dulu tak sempat tercapai, melanjutkan kuliah.

Selain itu, sering juga beliau membagi waktu menemani saya belajar. Saya ingat benar, sehari sebelum saya maju lomba mata pelajaran IPA tahun 1996 mewakili SDN Candi Rejo di tingkat kecamatan Ngaglik, beliaulah yang menemani saya. Meskipun saya tidak berhasil lolos untuk tahap selanjutnya, beliau tidak pernah kecewa. Yang ada adalah selalu memotivasi saya,

“Jadilah yang terbaik yang bisa kau lakukan,” begitu kata beliau.

Ayah, beliau sosok keras yang kadang dengan mudah melembut. Pernah suatu ketika (sekitar tahun 1998) kala itu saya masih duduk di bangku sekolah menengah pertama, saya mendapatkan tugas sekolah untuk membuat laporan study tour. Laporan dikumpulkan dalam bentuk ketikan, sementara saya tidak bisa mengetik. Kala itu rental di daerah saya tinggal masih sangat jarang, yang memiliki komputer pun bisa dihitung jari. Bisa ditebak apa yang dilakukan ayah untuk membantu saya yang sedang kesulitan? Beliau meminta saya untuk menulis ulang karya tulis itu dengan rapi dan ayah yang akan mengetikkannya untuk saya. Terima kasih, Ayah.

Ah, Ayah.. beliau juga jago memasak. Seringkali saat libur tiba, beliau stand by di dapur bersama ibu. Saya ingat menu andalan ayah yang super enak: nasi goreng, opor ayam, dan steak tempe. Sebenarnya yang beliau maksud steak tempe itu hanya serupa mendoan disiram dengan saus kecap pedas, tetapi yang asyik adalah cara beliau mengajari kami menikmatinya.

“Ayo, pegang garpu dan pisaunya, nih begini…jangan kebalik ya” sambil mengangkat kedua tangan beliau.

“Tempenya taruh di piring, terus diiris seperti ini… “

Tanpa canggung beliau mempraktekkannya di hadapan saya dan adik, hehe kami terkekeh melihat aksi ayah.

“Nah, kalau sudah.. siramkan saus kecapnya di atas tempe.. Daan… Makaaan!!!”

Haha.. Keren sekali ya? Secara tidak langsung ayah mengenalkan kami bagaimana ber-table manner ala karyawan Natour Adisutjipto Restaurant.

***

Berapa tahun menjelang kepergian beliau, penyakit diabetes mellitus beliau memburuk. Penderitaan beliau terlihat dari makin kurus keringnya tubuh beliau yang dulu gemuk. Beliau sempat dirawat inap hampir sebulan di RS Dr Sardjito, tapi tak kunjung sembuh. Alhasil, pengobatan alternatif pun dijalani. Beliau pernah sepekan menginap di Gunung Kidul di kediaman seorang kyai. Sepulangnya beliau dari sana, beliau merengkuh dan menciumi pipi saya. Ayah pasti sangat rindu.

Kondisi beliau tidak pernah terlalu stabil sejak itu, tetapi menyadari tanggung jawabnya sebagai pencari nafkah, beliau selalu disiplin menjalankan amanah. Bahkan mengantar jemput saya yang kala itu mulai masuk SMU, seolah tak merasakan lelahnya menyandang penyakit yang akhirnya menggerogoti liver dan jantung beliau. Kamis pagi, 6 Juli 2000, pukul 07.00, ayah pun meninggalkan kami semua; melepas segala kerinduan kepada Tuhan dan berpulang dengan tenang setelah serangkai alat pacu jantung RS Panti Nugroho tak berhasil menyelamatkan.

***

Sepeninggal beliau saya selalu mengingat pesan ayah untuk melanjutkan sekolah hingga perguruan tinggi seperti yang jauh-jauh hari telah beliau sampaikan, Universitas Gadjah Mada. Meski saat beliau berpulang tuk selamanya, saya nyaris tidak lagi berharap akan dapat meneruskan keinginan beliau, tetapi akhirnya saya bisa. Alhamdulillah. Hingga detik ini, saya selalu berharap dapat memberikan yang terbaik untuk beliau hingga waktu mempertemukan kami kembali dalam hangat rengkuhan Sang Maha Pencipta. Semoga, aamiin ya Rabb.

Ayah, kepergian beliau untuk selamanya membuat saya kembali tersadar, bahwa kehidupan dunia ini fana. Suatu ketika setiap yang hidup akan merasakan mati, itu sebuah keniscayaan dan saya belajar dari beliau. Untuk kali terakhir, ingin saya titipkan kerinduan saya kepada ayah, agar sepoi angin menyampaikannya dan menemani beliau dalam tidur abadi,

Terbata ku merindu sepenggal kisah
Tentang mungil rama-rama di keremangan senja
Tentang bisik angin mendesau di sela dedaunan hijau
Engkau ada di sana, di balik teduh kanopi semboja
Bisu bertapa terpasung dingin masa
Sebelas tahun sudah kita terpisah..
Namun, bagiku tak ada jalan pemisah
yang benar-benar memutus kasih antara aku dan ayah

-Rindu Ayah, Karang, 3 Juli 2011-

Cerita ini diikutsertakan dalam kontes Bahasa Cinta di Atap Biru

22 thoughts on “Titip Rindu untuk Ayah

  1. baju wanita mengatakan:

    smoga beliau dapat beristirahat dengan tnang di sisi-Nya, hmm jadi ikut sedih..

  2. alamendah mengatakan:

    Selamat mengikuti kontes Bahasa Cinta. Semoga sukses.

  3. elaine mengatakan:

    nice posting mbak, jd kangen alm.papa juga :)

  4. Nandini mengatakan:

    Semoga almarhum ayahanda diampuni dosa2nya.. serta mendapat tempat terbaik disisiNya..

    terima kasih ya mbak atas partisipasinya, sudah dicatat sebagai peserta :)

  5. Nandini mengatakan:

    semoga Alloh mengampuni dosa dan kesalahan beliau, dan mengumpulkan beliau bersama orang-orang shalih.. amiin :)

    terima kasih mbak Phie atas partisipasinya, sudah dicatat yaa.. :)

  6. Nandini mengatakan:

    Selamat mbak Phie.. cerita mengharukan ini memenangkan kontes Bahasa Cinta.. :D

  7. yustha tt mengatakan:

    selamat ya… :)

  8. arie mengatakan:

    Oh My God I Want To Cry …………
    selamat yaa!!

  9. nurlailazahra mengatakan:

    mengharukan sekali, semoga almarhum diterima Allah swt :)

  10. [...] Cinta, yang dilenggarakan oleh Nandini “Atap Biru”. Kala itu saya mengisahkan tentang alm. Ayah di sini dan Alhamdulillaah.. tiada disangka-sangka saya menjadi pemenang pertama. Bagaimana dengan reaksi [...]

  11. Mang Tolib Sutrisno mengatakan:

    mohon info video atau mp3 nya lagu petani….

  12. [...] yang beliau impikan itu. Rasa-rasanya baru kemarin menikmati sepotong demi sepotong van Houten dan steak tempe ala chef Herdjito. Rasa-rasanya baru kemarin saya menerima sebuah desk lamp hijau hadiah kenaikan kelas. [...]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s