Setahap Menuju Masa Depan

Merenung kerap kali menjadi pintu pembuka bagi hadirnya sekian tumpuk ide. Merenung, satu hal yang saya sukai dan sering saya lakukan. Ya, meski banyak orang yang bilang tak habis pikir dan tak bisa mengerti apa kemauan saya. Ah, sudahlah.. Saya nyaman seperti ini, bukankah tiap orang punya jalannya masing-masing? Baiklah, kali ini tulisan saya mengupas sebuah renungan tentang masa depan, bolehlah dijadikan bahan diskusi menarik :mrgreen: . Bermula dari obrolan saya dengan Bu Ning, seorang dosen Universitas Bengkulu yang saat ini melanjutkan studi program doktoral di jurusan tempat saya bekerja. Awalnya bercerita tentang putri semata wayang beliau yang saat ini kuliah S1 Arsitektur. Tentang biaya pendidikan yang makin lama makin mahal, sehingga sangat penting menyiapkan asuransi atau tabungan pendidikan untuk anak setelah menikah. Saya manggut-manggut, mengerti. Menikah? Ya, ya, ya.. :mrgreen:

Namun, tiada saya sangka tiba-tiba obyek pembicaraan berubah arah,

“Terus kalau di jurnal, Jupik dapat jaminan kesehatan tidak?” tanya beliau.

Oops!! Kena juga saya!

Saya menggeleng,

“Tidak ada, Bu.. hanya dapat honor per bulan. Tidak ada tambahan asuransi kesehatan atau jaminan tenaga kerja.”

Lalu, beliau pun bercerita tentang seorang pembantu saudaranya.

“Kalau pembantu saudara saya itu, dia ikut jamsostek yang perorangan, Pik.”

“Memangnya ada ya, Bu? Setahu saya peserta jamsostek itu hanya jika terikat dengan status yang jelas pada sebuah perusahaan? Lha saya ini?

“Katanya dia bisa. Belum lama kok gabungnya..

“Hmm, info bagus nih, Bu. Nanti coba saya hunting.”

“Iya, Pik tanya saja.Kankasihan juga bekerja kontrak tanpa ada status jelas dan jaminan kesehatan begitu.”

***

Obrolan ringan itu membuat saya berpikir.. Benar-benar berpikir. Bukan untuk menyalahkan siapa pun atau menuntut satu pun pihak mengingat keadaan saya yang seperti ini. Bagi saya pribadi, ini adalah resiko atas sebuah pilihan, seperti yang banyak orang telah sadar: NO RISK, NO GAIN.

Pencarian pun dimulai. Karena tanggungan pekerjaan sedang sangat banyak, saya baru bisa browsing sana-sini di sela me-layout artikel. Kadang menjemukan duduk lama di depan komputer. Mata saya yang semenjak sibuk di redaksi naik ukurannya menjadi minus 5 dan 7 gampang sekali lelah. Ya, libur Imlek Feb 2011 lalu saya gunakan untuk keur mata di RS Dr Yap. Dokter yang memeriksa saya mewanti-wanti,

“Mbak, minusnya nambah banyak. Hati-hati dengan aktivitas di depan komputer, mata akan mudah sekali lelah.”

Hmm, ya sakit kepala di sekitar rongga sinus sering saya rasakan bila terlalu dipaksakan. Sementara artikel yang harus digarap ada banyak, belum lagi target terbitan. Pfiuh.. mengakomodir keinginan banyak orang sementara kekuatan terbatas, hmm.. resiko sebuah pekerjaan sebegini beratkah..? Astagfirullahaal’adhiim.. Rabb, sungguh saya tidak ingin sedikit pun mengeluh, maaf.. :(

Ok, kembali ke tema pembicaraan. Googling dengan keywords asuransi kesehatan pun membuahkan hasil. Beberapa profil perusahaan jasa asuransi yang menyediakan produk asuransi untuk individu saya telusur dan coba saya cermati. Wah, rupanya saya sedikit kesulitan memahami beberapa istilah. *apa saya ini benar-benar kuper ya? :mrgreen: Nah, di sela browsing itulah saya mendapatkan inspirasi kedua.

Sebuah artikel bertajuk Surat untuk Ayah saya baca di sini. Dikisahkan seorang anak menulis sebuah surat kepada ayahnya yang telah meninggal. Singkat cerita, si anak berkisah tentang kehidupan keluarga sepeninggal ayahnya. Betapa menderitanya ibu dan dirinyaa. Apa sebab? Rupanya si ayah tidak menjaminkan keluarga, tidak ada tabungan, tidak pula asuransi pendidikan untuknya. Ah, mengapa semua itu seperti menukil sepenggal kisah saya dan banyak sekali orang di luar sana? Terketuk oleh sebuah beban rasa, saya pun makin penasaran. Saya harus bisa temukan jalan itu, sebuah bagian dari perjalanan menuju masa depan. Sebelum pulang, saya sempatkan mengirimkan e-mail ke Takaful Indonesia. Takaful? Ya, sebuah penyedia jasa asuransi yang bergerak dengan asas syariah. Kantor pusatnya di Jakarta, di Yogya baru ada satu kantor cabang di Jl. Wachid Hasyim No. 28 /Jl. Suryowijayan.

***

Malam harinya, saya sempatkan menghubungi seorang teman, sebut saja Jeng Tuti. Ia dulu kuliah di manajemen perekonomian, jadi saya bicara dengan orang yang tahu. Kendati saya tidak secara khusus belajar tentang ilmu ekonomi, bukan berarti merelakan diri untuk buta ekonomi kan? Beberapa waktu sebelumnya kami sempat ngobrol tentang berinvestasi. Ia bercerita tentang program tabungan berjangka yang ia ikuti di sebuah bank swasta. Namanya autodebit. Syaratnya harus membuka rekening tabungan di bank tersebut, lalu bisa diikutkan dalam program Autodebit. Katakanlah nominal yang disepakati adalah Rp100.000,00; maka setiap bulannya tabungan akan terpotong Rp 100.000,00 dan masuk secara otomatis ke dalam autodebit hingga jangka waktu tertentu, minimal 1 tahun. Setelah jangka waktu yang telah disepakati, uang tersebut bisa diambil untuk tujuan apa pun. Diambil untuk masuk asuransi boleh atau ditabung kembali pun boleh, apa pun. Yang menguntungkan uang yang masuk ke autodebit TIDAK dikenakan biaya administrasi. Penjelasannya panjang lebar, tapi saya belum yakin. Sepertinya memang perlu berpikir karena saldo mengendap yang harus tetap ada di tabungan katanya minimal Rp500.000,00. Ok-lah bisa saya pertimbangkan untuk masuk ke planning berikutnya.

Sekitar pukul 22.00, masih di hari yang sama.. saya mencoba mengutak-atik beberapa akun yang nantinya akan saya tambahkan untuk mempostingkan sekian persen penghasilan, tapi tentu harus ada pembatasan prioritas untuk saat ini, 5 tahun, 10 tahun, bahkan 20 tahun ke depan. Hmm, pusing juga ya ternyata :mrgreen: Iseng, saya pun meng-update status facebook, hitung-hitung membuang penat. Status yang akhirnya setelah saya tengok keesokan harinya mendapat tanggapan teman-teman tersayang: Ale, Ali, Siti, dan Ery.

Palupi Jatuasri: Asuransi kesehatan, tabungan pendidikan anak, tabungan haji.. hm.. *berpikir rencana masa depan

Aloelabee ARai tabungan pendidikan anak??? buat anak aja belum hahaha

Ery Pakristanti Itu jg rencana le wkwkwkwk

Aloelabee ARai betul Ery Pakristanti, itu mah malah jadi prioritas utama si Palupi Jatuasri hhehehe

Muhammad Ali Ashar tambah tabungan pernikahan

Siti Rochayati jangan berpikir terlalu jauh jup… ngga baik, pikirkan aja rencana yang terdekat dan yang membuatmu bergerak, klo saat ini kamu berpikir untuk sekarang, 10, dan 20 tahun mendatang sekaligus, kamu tidak akan sanggup, dan itu tidak menyehatkan hidup..

Ery Pakristanti Agree with siti,rencana boleh sja dpkrkn,untk realisasinya satu demi satu brtahap lbh baik..rencana plg awal yg hrs dpkrkn bener2 adl menikah he he he

Aloelabee ARai hayo, Palupi Jatuasri, tuh dengerin masukan dari teman2 yang menyayangi kamu hehehe, cepat lah menikah, itu inti planning nya hahaha

Saya hanya dapat tersenyum simpul membaca satu per satu komentar mereka dan tidak sedikit pun memberikan komentar. Maaf ya, no comment, Pals. Ya, saya tahu benar. Apa yang saya tulis di status itu bukan untuk membebani kehidupan atau bahkan membuatnya tidak sehat, bukan. Saya sadar akan usia saya sekarang, kalau target pencapaian saya belum bisa terlihat jelas sementara usia sudah sekian ini, bisa saya pastikan ada evaluasi diri yang harus saya lakukan SEKARANG, bukan NANTI! Kedengaran egois mungkin, tetapi ini hidup saya, sukses tidaknya tergantung pada upaya saya juga.

***

savingBicara soal investasi, hmm.. sebelum saya tahu bahwa setidaknya 25% dari penghasilan digunakan untuk investasi (menurut seorang konsultan finansial di channel radio favorit saya, red), selama ini saya mengatur agar tiap bulannya bisa menyisihkan uang, menabung tanpa memperhitungkan berapa persen-nya. Pada awalnya saya yakin dengan pilihan saya, ya karena rekening tersebut di sebuah bank syariah. Namun, lambat laun saya berpikir lagi. Kalau penghasilan tetap saya kurang dari Rp 300.000,00 sementara saya menabung Rp 20.000,00/bulan dengan dikenakan biaya administrasi Rp 7.500,00/bulan, artinya saya hanya mendapat bagian 62,5% alias Rp 12.500,00.. Wah, itu mencekik namanya.

Lain kesempatan, saya sempat menanyakan hal ini ke customer service bank tersebut termasuk saldo minimum tabungan yang tidak dikenakan biaya administrasi (awalnya saya tertarikkan memang karena syarat yang itu juga karena ATM-nya di mana-mana).

Kata CS-nya, “Saldo minimumnya saat ini Rp 2.000.000,00, Mbak. Ini saja sudah diturunkan dari nominal kebijakan yang lalu..”

“Oh.. Ya, terima kasih, Mbak.” jawab saya.

Saya manggut-manggut, mengerti. Hmm, saya mesti terlalu bersabar untuk menunggu 160 bulan (baca: 13 tahun) hingga mencapai angka 2.000.000? Sepertinya saya BULAT berniat pindah ke lain hati :mrgreen: .

Itu terjadi hampir setahun yang lalu. Beberapa bulan kemudian, saya benar-benar membuka rekening baru di bank BRI syariah. Saya pindah ke lain hati, sebuah pilihan yang nyaman untuk kondisi saya meskipun saat ini besaran penghasilan saya meningkat hampir hampir 4 kali lipat dengan persentase investasi sesuai anjuran..(Alhamdulillaah). Lalu soal asuransi dan tabungan berjangka itu? Saya masih terus memperjuangkannya. Memilah, menimbang, memilih yang terbaik, insyaAllah.

8 pemikiran pada “Setahap Menuju Masa Depan

  1. tunsa mengatakan:

    kayaknya ada yg sedang aktif lagi nih, hehe..

    blm baca*

  2. Adi Nugroho mengatakan:

    wow lamanyoooo, hohohoh

  3. tunsa mengatakan:

    hehehe,..ternyata..
    denger dulu komen dari temen2 mbak, menikah dulu dah..hihi.
    o iya, di muamalat gak kepotong kok..*eits, bukan promosi lho ya? :lol:

  4. Asop mengatakan:

    Ngomong2 investasi, saya jadi tersadar… gimana dengan nasib saya….

  5. r10 mengatakan:

    biaya admin 7500 sebulan itu bsm yah :mrgreen:

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s